PONTIANAK POST - Media sosial kini menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari, berbagai manfaat dan dampak nya kian hadir seiring penggunaan dari setiap penggunanya.
Di era digital saat ini, unjuk rasa virtual hadir dalam bentuk partisipasi dalam aksi massa yang dihadapkan pada batasan ruang fisik entah karena jarak, keterbatasan waktu, atau alasan keamanan lainnya.
Meskipun tidak bertemu secara fisik, mereka tetap merasakan tekanan emosional yang cukup besar dari platform media sosial seperti Twitter, Instagram, Facebook, dan aplikasi instan lainnya.
Ketika demonstrasi berlangsung, algoritma yang mengalirkan konten dengan cepat cenderung bisa meningkatkan tekanan psikologi. Inilah yang dikenal sebagai kecemasan akibat paparan media sosial.
Sehingga, walaupun memiliki potensi besar untuk membentuk opini publik dan memperluas solidaritas, aliran konten yang deras saat demonstrasi bisa menjadi penyebab stres psikologis.
Gejala Kecemasan Digital yang Sering Tidak Disadari
1. Detak Jantung Meningkat Setelah Membaca Berita
Ketika melihat unggahan yang menimbulkan rasa takut atau panik, tubuh bereaksi dengan detak jantung yang lebih cepat, telapak tangan mungkin berkeringat, dan pernapasan terasa lebih pendek.
Ini menjadi respons fisik langsung dari sistem saraf kita yang merespons ancaman yang bersifat virtual.
2. Pola Tidur yang Terganggu
Berita yang terus menerus memenuhi pikiran dari media sosial membuat otak susah untuk beristirahat.
Akibatnya, waktu tidur menjadi tidak berkualitas, bahkan sulit untuk benar-benar terlelap, sering terbangun di tengah malam atau mengalami mimpi buruk yang berkaitan dengan informasi yang dilihat di media sosial.
3. Ketakutan berlebihan
Meskipun berada dalam situasi yang aman, perasaan cemas bisa muncul akibat dari keterlibatan emosional yang berlebihan terhadap konten digital.
Ketakutan ini bukanlah sesuatu yang rasional, melainkan respons emosional yang dipicu oleh konten digital.
Baca Juga: Panduan Lengkap Pertolongan Pertama Saat Demonstrasi
4. Kelelahan Mental dan Emosional
Rasa lelah yang tidak disebabkan oleh aktivitas fisik tanpa disadari muncul karena otak dipaksa bekerja keras untuk menyaring dan memahami informasi yang terus berdatangan.
Ini menyebabkan suasana hati menjadi tidak stabil, rasa gelisah meningkat, dan rentan lebih mudah tersulut emosi.
Baca Juga: Polisi Amankan 12 Remaja Diduga Penyusup Demo di Pontianak, Bawa Sajam dan Bom Molotov
Strategi Efektif Mengatasi Cemas di Tengah Riuhnya Dunia Maya
1. Batasi Konsumsi Berita
Kebiasaan mengambil kendali atas beberapa informasi yang beredar, istilah doomscrolling namanya yang memiliki arti kebiasaan terus-menerus mencari berita negatif tanpa henti.
Dikutip dari Dr. Aditi Nerurkar, dosen di Divisi Kesehatan Global dan Kedokteran Sosial di Harvard Medical School bahwa "Kita perlu tetap terinformasi, tetapi jangan sampai mengorbankan kesehatan mental kita," ujarnya
"Dan mengurangi aktivitas bukan berarti pantang melainkan mengurangi ketergantungan." Tambahannya.
Hal tersebut menjadi aktivitas rutin yang tanpa disadari, sehingga akan memperburuk kecemasan dan rentan merasa lelah secara emosional dan kunci nya adalah dengan meminimalisir bacaan berita.
2. Pilih Sumber Terpercaya
Penting bagi kita untuk hanya mengikuti sumber yang sudah jelas kredibilitasnya, seperti media resmi atau akun institusi yang memang memiliki otoritas resmi.
Kualitas informasi jauh lebih penting daripada kuantitas berita yang beredar.
3. Lakukan Digital Detox Singkat
Digital detox tidak harus berlangsung lama, cukup dengan mematikan notifikasi selama satu atau dua jam saja sudah mampu membuat pikiran lebih tenang.
Bisa juga mengisi waktu dengan kegiatan yang positif, seperti membaca buku, mendengarkan musik, atau bahkan melakukan ibadah.
Penutup
Paparan media sosial yang berlebihan selama pawai aksi massa jelas menjadi pemicu utama kecemasan dan stres. Namun, kecemasan ini bukan sesuatu yang tidak bisa dikendalikan.
Solusi untuk mengatasi hal ini adalah dengan menemukan keseimbangan dalam penggunaan media sosial, jadi bukan berarti kita harus mengabaikan isu sosial, melainkan dengan menerapkan manajemen diri yang bijak di tengah derasnya arus informasi digital. (*)
Editor : Miftahul Khair