PONTIANAK POST – Fenomena Blood Moon, atau yang dikenal sebagai Bulan Merah, tahun ini kembali hadir melalui Gerhana Bulan total dengan momen spesial yang memukau.
Momen ini kerap dinanti karena menghadirkan pemandangan langit malam yang berbeda dari biasanya.
Gerhana Bulan total menjadi salah satu fenomena astronomi yang selalu dinantikan banyak orang di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Fenomena bulan merah Tidak Selalu Bisa Diamati di Indonesia
Keunikan warna merah Bulan saat gerhana menjadi daya tarik tersendiri yang membedakan Gerhana Bulan Total dari fenomena astronomi lainnya.
Menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Gerhana berikutnya baru akan kembali terlihat di Indonesia pada tahun 2033.
Jarak waktu yang panjang inilah yang membuat kehadiran gerhana kali ini begitu langka dan sayang untuk dilewatkan.
Peristiwa ini bukan hanya soal keindahan, tetapi juga kesempatan untuk menyaksikan langsung salah satu keajaiban alam yang jarang terjadi.
Proses Sejajarnya Tiga Benda Langit
Peristiwa ini terjadi saat Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam posisi yang sejajar, dengan Bumi berada tepat di tengah-tengah, sehingga bayangan bumi menutupi Bulan.
Bayangan bumi terbagi menjadi dua bagian: umbra (bayangan inti yang sangat gelap) dan penumbra (bayangan samar).
Ketika Bulan sepenuhnya masuk ke umbra, maka terjadilah fase gerhana sempurna.
Pada tahap proses permukaan Bulan berada di dalam bayangan inti, membuat Bulan tampak redup dan berubah warna menjadi merah atau oranye, fenomena yang populer disebut sebagai “Blood Moon”.
Fenomena ini hanya dapat terjadi saat bulan purnama dan posisi Bumi benar-benar sejajar dengan Matahari.
Berbeda dengan gerhana matahari yang hanya dapat dilihat dari wilayah yang sempit, gerhana bulan dapat disaksikan oleh siapapun di sisi malam Bumi di mana Bulan berada di atas horizon.
Mengapa Bulan Berwarna Merah Saat Gerhana Total?
Perubahan warna Bulan saat gerhana disebabkan oleh proses hamburan Rayleigh di atmosfer Bumi.
Ketika Bulan berada dalam bayangan umbra Bumi, sebagian besar cahaya Matahari terhalang oleh Bumi.
Cahaya Matahari dengan panjang gelombang lebih panjang (merah dan jingga) masih dibiaskan oleh atmosfer lalu diteruskan hingga mencapai permukaan Bulan, sedangkan cahaya biru dan ungu dihamburkan ke luar angkasa.
Cahaya inilah yang yang dipantulkan kembali, sehingga Bulan tampak kemerahan dari Bumi.
Semakin banyak partikel debu atau polusi di atmosfer, semakin pekat nuansa merah pada Bulan selama peristiwa berlangsung.
Proses ini serupa dengan warna langit saat matahari terbit dan terbenam.
Jadwal dan Waktu Puncak Gerhana di Indonesia
Menurut data resmi BMKG, Gerhana Bulan Total terjadi pada 7 September 2025 dan berlangsung pada malam hingga dini hari.
Berikut jadwal dan waktu wilayah Indonesia:
Fase Gerhana WIB WITA WIT
Penumbra Mulai 22.26.56 23.26.56 00.26.56
Sebagian Mulai 23.26.44 00.26.44 01.26.44
Total Mulai 00.30.17 01.30.17 02.30.17
Puncak Gerhana 01.11.45 02.11.45 03.11.45
Total Berakhir 01.53.13 02.53.13 03.53.13
Sebagian Berakhir 02.56.46 03.56.46 04.56.46
Penumbra Berakhir 03.56.34 04.56.34 05.56.34
Durasi totalitas berlangsung selama kurang lebih 1 jam 22 menit, dimulai sekitar pukul 00.30 WIB hingga 01.53 WIB.
Pada rentang waktu inilah Bulan benar-benar tertutup bayangan inti Bumi dan berubah menjadi merah secara jelas.
Waktu yang cukup panjang ini memungkinkan pengamat dari berbagai daerah mendapatkan kesempatan menyaksikan setiap fase dengan jelas
Seluruh wilayah Indonesia bagian barat hingga tengah dapat menikmati keseluruhan fase Peristiwa Bulan Merah ini. Namun, untuk wilayah Papua bagian timur, terjadi sedikit perbedaan.
Melalui fase akhir yang tidak dapat terlihat karena Bulan sudah terbenam sebelum gerhana berakhir.
Meski demikian, semua fase awal sampai fase total tetap dapat diamati dengan baik dari seluruh wilayah.
Kondisi cuaca juga sangat mempengaruhi kelancaran bagi seseorang yang mengamatinya.
Langit yang cerah dan minim awan menjadi lokasi ideal untuk menikmati pesona Bulan merah secara langsung.
Oleh karena itu, pengamatan dari tempat terbuka dengan sedikit polusi cahaya sangat dianjurkan.
Fenomena langka ini bukan hanya menghadirkan keindahan langit malam, tetapi juga memberikan pengalaman berharga yang jarang terjadi. (*)
Editor : Miftahul Khair