Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mentan Pastikan Indonesia Setop Impor Beras hingga Akhir 2025

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 7 September 2025 | 19:55 WIB
NAIK : Tumpukan beras di salah satu toko sembako di Pasar Flamboyan.
NAIK : Tumpukan beras di salah satu toko sembako di Pasar Flamboyan.

 

PONTIANAK POST - Menteri Pertanian (Mentan) RI Andi Amran Sulaiman memastikan Indonesia tidak bakal impor beras hingga akhir tahun 2025. Hal itu karena stok beras tahun ini melimpah.

’’Indonesia bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri tanpa impor,’’ tegasnya.

Menurutnya, dalam dua tahun terakhir pemerintah selalu mengimpor beras untuk meningkatkan cadangan beras pemerintah.

Namun, hingga saat ini Indonesia tidak lagi impor beras di tengah kondisi global sedang krisis pangan. Sebab stok beras yang dimiliki saat ini kurang lebih 4 juta ton atau lebih tinggi dari tahun lalu yang mencapai 2 juta ton.

"Insyaallah tidak ada impor karena stok kita banyak," katanya.

Ia menjelaskan berdasarkan informasi Badan Pusat Statistik (BPS) dan Badan Pangan dan Pertanian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), masa panen pada tahun 2025 itu mencapai sekitar 34-35 juta ton atau naik 4 juta ton setara beras.

"Kenaikan 4 juta ton ini membuat tambahan pendapatan petani juga naik Rp 60 triliun. Kita syukuri ini, di bawah gagasan Pak Presiden, dengan menyederhanakan regulasi, sarana produksi ditambah, mempermudah pengadaan pupuk dan lain-lain juga berkontribusi pada produksi," jelasnya.

Adapun soal gejolak harga beras di beberapa titik, dia menilai hal itu sebagai anomali. Termasuk adanya kabar kelangkaan beras, padahal produksi melimpah. Amran mencontohkan, Indonesia merupakan penghasil terbesar minyak kelapa sawit di dunia. Namun, Indonesia pernah mengalami kelangkaan minyak goreng.

’’Anomali seperti itu harus diatasi. Kementan bersama Satgas Pangan Mabes Polri akan terus mengawasi rantai pasok atau distribusi beras sehingga aman terkendali dari hulu sampai hilir,’’ tegasnya.

 

Gerakan Pangan Murah 

Gerakan pangan murah (GPM) sudah berjalan beberapa hari. Pemerintah mengklaim program itu berhasil menstabilkan harga pangan di pasaran. Kondisi tersebut tergambar dari data inflasi yang menurun. 

’’Secara nasional, angka inflasi menurun dari 2,37 persen menjadi 2,31 persen (yoy),’’ kata Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian saat mendampingi Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meninjau harga pangan di Pasar Palembang Jaya, Sumatera Selatan, Jumat (5/9).

Dia mengapresiasi berbagai pihak yang telah ikut andil menstabilisasi harga pangan, khususnya lewat penyaluran beras stabilitas pasokan dan harga pangan (SPHP). Mantan Kapolri itu juga memastikan stok beras saat ini aman. Termasuk distribusi oleh Bulog yang berjalan lancar.

 

Penyaluran Beras SPHP

Sementara itu, Perum Bulog mencatat penyaluran beras SPHP telah mencapai 22 persen dari total penugasan sebesar 1,5 juta ton sepanjang 2025 atau mencapai 327.718 ton per 6 September 2025.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan, percepatan penyaluran beras SPHP tersebut dapat terwujud berkat dukungan penuh dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI-Polri, BUMN, serta para pengecer di pasar.

“Karena sekarang kami sudah banyak dibantu oleh seluruh jajaran pemerintah maupun TNI-Polri, total sampai hari ini 327.718 ton, yaitu setara dengan 22 persen dari total 1,5 juta ton yang diperintahkan kepada kami,” kata Rizal saat dijumpai di Gudang dan Sentra Pengolahan Beras Bulog, Sunter, Jakarta Utara, kemarin.

Menjawab pertanyaan wartawan mengenai kelangkaan beras di pasaran dan harga yang meningkat padahal stok beras melimpah, Rizal mengatakan bahwa penyaluran beras oleh Bulog telah dilakukan semaksimal mungkin.

Beras SPHP disalurkan melalui tujuh saluran strategis, antara lain pengecer di pasar tradisional, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP), outlet pangan binaan pemerintah daerah dan Gerakan Pangan Murah (GPM), outlet BUMN, koperasi instansi pemerintah, Rumah Pangan Kita (RPK) Bulog, serta swalayan/toko modern.

Rizal mengatakan bahwa penyaluran beras ke pasaran memerlukan waktu, sementara permintaan (demand) cukup besar. Oleh sebab itu, Bulog terus berupaya menyalurkan beras secara masif ke berbagai wilayah di Indonesia.

“Makanya kami melibatkan seluruh stakeholder pemerintah. Dan kemarin juga sudah melaksanakan Gerakan Pangan Murah serentak dengan tujuh ribu titik/tempat penjualan outlet. Alhamdulillah, ini berdampak luar biasa,” katanya.

Beras SPHP merupakan jenis beras yang sedang disalurkan Bulog dari stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Bulog merencanakan bakal menyalurkan beras SPHP sebanyak 1,3 juta ton pada periode Juli-Desember 2025.

Beras SPHP dijual sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET), yaitu Rp12.500 per kilogram untuk zona 1 (Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi); Rp13.100 per kilogram untuk zona 2 (Sumatera selain Lampung dan Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan); dan Rp13.500 per kilogram untuk zona 3 (Maluku, Papua).

Adapun saat ini, total stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang ada di gudang Bulog mencapai 3,9 juta ton.

Dari total CBP tersebut, sekitar 2,95 juta ton atau 75 persen merupakan hasil pengadaan dalam negeri. Sedangkan sisanya berasal dari pengadaan luar negeri yang dilaksanakan berdasarkan penugasan pemerintah pada 2024.

Bulog memastikan seluruh prosedur pemeliharaan stok beras di gudang berjalan sesuai standar, sehingga masyarakat dapat menerima beras terbaik. Bulog secara konsisten melaksanakan pemeriksaan beras mulai dari harian, mingguan, bulanan hingga triwulanan.

Proses pemeliharaan yang dilakukan Bulog meliputi pemeriksaan awal beras saat pemasukan di gudang dan kualitas beras secara berkala, menjaga sanitasi gudang, spraying, hingga fumigasi apabila ditemukan indikasi serangan hama.

Dalam proses pengeluaran beras dari gudang, Bulog menerapkan prinsip “Fifo” atau “first in, first out” dan “Fefo” atau “first expired, first out”. Selain itu, penyaluran juga memperhatikan kondisi nyata kualitas beras.

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan operasi pasar beras SPHP dari Perum Bulog menjadi solusi utama untuk menekan harga beras premium yang saat ini masih mahal.

Ia menjelaskan pemerintah telah menyiapkan stok sebanyak 1,3 juta ton beras SPHP untuk operasi pasar besar-besaran, guna menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan ketersediaan pangan tetap terjangkau bagi masyarakat.

Selain itu, Mentan menegaskan tidak hanya beras SPHP, namun juga beras premium akan terus didorong pendistribusiannya agar masyarakat tetap memiliki alternatif pilihan dengan harga yang lebih stabil.(wan/dri/ant)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#stok #beras #impor #mentan