Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Kronologi dan Fakta-fakta Ratusan Pelajar di Garut Keracunan Usai Santap Menu MBG

Fifi Avrillya Irananda • Jumat, 19 September 2025 | 19:30 WIB

Ilustrasi menu Program MBG.
Ilustrasi menu Program MBG.

PONTIANAK POST - Program makan bergizi gratis (MBG) yang diharapkan bisa mendukung kesehatan dan gizi pelajar, justru kini menjadi perhatian publik media sosial.

Bukannya menambah semangat belajar, harapan itu berbalik menjadi kekhawatiran ketika ratusan siswa mengalami gejala keracunan setelah menyantap makanan tersebut.

Kasus ini sontak menimbulkan kekhawatiran mengenai keamanan makanan di sekolah, terutama dalam program berskala besar yang melibatkan banyak siswa sekaligus.

Peristiwa keracunan massal di Kabupaten Garut, Jawa Barat, menimpa ratusan pelajar dari berbagai tingkatan sekolah.

Sebanyak 194 siswa dilaporkan terdampak, terdiri atas 177 orang dengan gejala ringan dan 19 lainnya memerlukan perawatan intensif di Puskesmas Kadungora.

Kronologi Kejadian

Kasus bermula pada Selasa sore (16/9/2025) saat para siswa di Kecamatan Kadungora mengonsumsi menu dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Melansir dari Radar Kediri, makanan yang disiapkan dapur SPPG Yayasan Al Bayyinah 2 Garut berisi nasi putih, ayam woku, tempe orek, lalapan, dan stroberi.

Tak lama setelah makan, keluhan seperti mual, muntah, dan pusing muncul.

Kondisi ini berlanjut hingga Rabu (17/9/2025), sehingga banyak siswa harus dilarikan ke fasilitas kesehatan.

Meski ada yang tetap hadir di sekolah, sebagian pelajar lainnya terpaksa dirawat secara medis.

Pendataan awal mencatat bahwa 12 korban intensif berasal dari MA Ma'arif Cilageni, 3 dari SMP Siti Aisyah, serta 1 siswa dari SMA Siti Aisyah.

Sisanya berasal dari sekolah sekitar Kadungora.

Kepala Sekolah Menengah Atas Siti Aisyah, Hari Triputuharja, menjelaskan bahwa setidaknya 30 siswanya ikut terdampak, dan empat di antaranya harus dirawat di puskesmas.

Risiko dari Menu MBG

Beberapa jenis makanan dinilai memiliki potensi risiko jika tidak diolah dan disimpan sesuai prosedur.

Risiko tersebut muncul karena makanan merupakan jenis yang sangat mudah terkontaminasi bakteri, jamur, atau zat berbahaya lain jika proses higienitas tidak diperhatikan dengan baik.

Dalam konteks penyajian massal pada program ini memiliki potensi yang semakin besar karena jumlah porsi yang disiapkan mencapai ratusan hingga ribuan setiap harinya.

Mengutip Radar Banyuwangi, pada jenis Ayam woku ternyata bisa terkontaminasi bakteri bila dimasak tidak sempurna atau dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang.

Tempe orek juga berisiko menumbuhkan bakteri jika disajikan terlalu basah atau disimpan di wadah tertutup rapat.

Sementara itu, sayur lalapan rawan membawa bakteri maupun sisa pestisida bila tidak dicuci bersih.

Buah stroberi pun termasuk rentan karena cepat membusuk dan mudah ditumbuhi jamur apabila pencucian maupun penyimpanannya tidak higienis.

Adapun nasi putih relatif aman, tetapi jika terlalu lama disimpan pada suhu ruang tetap bisa ditumbuhi Bacillus cereus yang memicu mual dan muntah.

Dari seluruh menu, lalapan mentah dan stroberi disebut memiliki tingkat kerentanan tertinggi terhadap kontaminasi.

Langkah Dinas Kesehatan

Peristiwa keracunan massal yang menimpa ratusan pelajar di Garut mendapat sorotan luas. Tidak hanya orang tua murid yang dibuat resah, aparat kepolisian hingga pemerintah daerah juga bergerak cepat untuk menangani kasus ini.

Dilansir dari Radar Kediri, langkah cepat dilakukan aparat kepolisian dengan mendata korban, memeriksa saksi, serta membawa sampel makanan dan muntahan siswa ke laboratorium untuk diteliti lebih lanjut.

Kepala Seksi Humas Polres Garut, Ipda Adi Susilo, menegaskan bahwa pihaknya juga tengah menghimpun bahan keterangan tambahan guna memastikan jumlah korban dan mengungkap penyebab pasti peristiwa tersebut.

Sementara itu, Kepala SMA Siti Aisyah, Hari Triputuharja, menyampaikan bahwa sedikitnya 30 siswanya ikut terdampak, dengan empat di antaranya harus menjalani perawatan di puskesmas.

Dari sisi pemerintah daerah, Wakil Bupati Garut, Luthfianisa Putri Karlina, meninjau langsung kondisi para pelajar dan mengonfirmasi bahwa 15 siswa dari SMA Ma'arif Kadungora dan SMA Siti Aisyah mendapat penanganan medis lebih lanjut.

Pemkab Garut juga memastikan seluruh biaya pengobatan ditanggung sepenuhnya.

Pentingnya Standar Keamanan Pangan Sekolah

Kasus keracunan massal di Garut ini mengingatkan pada pentingnya penerapan standar keamanan pangan (food safety) di lingkungan sekolah.

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), salah satu penyebab utama keracunan makanan pada anak-anak adalah kurangnya pengawasan dalam proses pengolahan, penyimpanan, dan distribusi makanan.

Di Indonesia, pemerintah melalui Peraturan Menteri Kesehatan tentang Higiene Sanitasi Jasa Boga sebenarnya sudah mengatur standar kebersihan makanan.

Berikut penjelasannya :

Penutup

Insiden keracunan massal ini menjadi peringatan penting bahwa program makanan bergizi di sekolah harus dijalankan dengan standar yang ketat, baik dari sisi bahan, kebersihan, maupun penyimpanan.

Tujuan awal program MBG adalah mendukung kesehatan pelajar, tetapi jika pengelolaannya kurang tepat justru bisa berakibat fatal.

Saat ini, pihak kepolisian, Pemkab Garut, serta Dinas Kesehatan masih bersinergi untuk mengungkap penyebab pasti sekaligus mencegah agar kejadian serupa tidak terulang kembali. (*)

Editor : Miftahul Khair
#Mbg #keracunan #Makan Bergizi Gratis #garut #siswa