PONTIANAK POST - Fenomena baru kembali mencuri perhatian netizen di TikTok. Kali ini datang dari Kantor Urusan Agama (KUA), lembaga resmi yang mengurus pernikahan di Indonesia.
Bukan tentang akad nikah atau mahar, melainkan sebuah kegiatan unik bernama “Tepuk Sakinah”.
Video sejumlah pasangan calon pengantin melakukan tepuk sakinah kompak sambil melantunkan yel-yel sederhana viral setelah diunggah akun resmi KUA, salah satunya @KUA_PAGU dari Kediri, Jawa Timur.
Sejak saat itu, banyak KUA di daerah lain ikut membagikan momen serupa, hingga warganet menjadikannya bahan perbincangan seru di media sosial.
Apa Itu Tepuk Sakinah?
Bagi yang baru mendengar, Tepuk Sakinah bukan sekadar tepukan biasa. Ia merupakan yel-yel interaktif yang dibawakan calon pasangan pengantin saat mengikuti bimbingan pranikah di KUA.
Staf KUA biasanya akan memandu pasangan untuk melakukan tepukan ritmis sambil mengucapkan kata-kata motivasi terkait makna pernikahan.
Menurut penjelasan yang diunggah akun Instagram @kuacikole (KUA Kecamatan Cikole, Sukabumi), tepuk sakinah adalah metode edukasi sederhana namun bermakna untuk menanamkan kesadaran bahwa keluarga sakinah tidak datang secara instan, melainkan harus diusahakan bersama.
Kegiatan ini bukan hanya tentang gerakan fisik, tapi juga melibatkan gerakan hati calon pasangan diajak untuk menginternalisasi nilai-nilai pernikahan dalam bentuk aktivitas menyenangkan, sehingga lebih mudah diingat dan diterapkan kelak dalam kehidupan rumah tangga.
Tujuan Utama Tepuk Sakinah
Tepuk sakinah hadir sebagai cara kreatif untuk menjembatani materi pranikah agar tidak terasa kaku.
Dari unggahan akun TikTok KUA Wongsorejo, Banyuwangi, dijelaskan bahwa tepuk sakinah diciptakan untuk mengenalkan lima pilar keluarga sakinah kepada calon pengantin, yakni:
Zawaj (berpasangan) – Pernikahan menyatukan dua insan berbeda menjadi satu ikatan halal yang saling melengkapi.
Mitsaqan Ghalizan (janji kokoh) – Akad nikah bukan sekedar prosesi, melainkan perjanjian agung yang harus dijaga sepanjang hidup.
Mu’asyarah bil Ma’ruf (hidup bersama secara baik) – Pasangan suami istri dituntut untuk saling mencintai, menghormati, menjaga, dan memperlakukan satu sama lain dengan penuh kebaikan.
Taradhin (saling ridha) – Rumah tangga hanya akan berjalan harmonis bila ada kerelaan dan saling menerima antara suami dan istri.
Musyawarah (berembuk) – Setiap masalah sebaiknya diselesaikan dengan komunikasi terbuka dan musyawarah bersama, bukan emosi sepihak.
Dengan menepuk tangan sambil melafalkan nilai-nilai ini, pasangan diharapkan tidak hanya menghafal konsep, tetapi juga menanamkan kesadaran bahwa membangun rumah tangga butuh komitmen nyata.
Antusiasme Calon Pasangan Pengantin
Fenomena tepuk sakinah yang viral ini justru menuai respons positif dari banyak calon pengantin. Dalam berbagai video, mereka terlihat antusias, kompak, dan bahkan tertawa bahagia ketika mengikuti kegiatan tersebut.
Momen itu sering diabadikan lalu diunggah ulang ke media sosial, sehingga semakin memperluas penyebarannya.
Bagi sebagian orang, kegiatan ini juga membawa suasana cair di tengah prosesi pendaftaran pernikahan yang biasanya formal. Alhasil, tepuk sakinah menjadi pengalaman unik sekaligus kenangan lucu sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.
Filosofi di Balik Tepuk Sakinah
Jika ditelusuri lebih dalam, “tepuk” dalam budaya Indonesia kerap digunakan sebagai alat pengingat atau penyemangat, misalnya tepuk pramuka atau tepuk semangat di sekolah. Namun, di KUA, tepuk ini bukan sekadar hiburan.
Tepuk sakinah memiliki filosofi simbolik yaitu setiap tepukan adalah ajakan untuk kompak, setiap yel-yel adalah pengingat komitmen, dan kebersamaan saat melakukannya melambangkan kesatuan tujuan membangun rumah tangga yang diridhoi Allah.
Dengan begitu, kegiatan sederhana ini justru sarat makna. Ia mengajarkan bahwa pernikahan bukan hanya tentang pesta, mahar, atau status, tetapi tentang perjalanan panjang dua individu yang berusaha bersama mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Viralnya tepuk sakinah di TikTok membuktikan bahwa edukasi pranikah bisa dikemas dengan cara yang kreatif, ringan, dan dekat dengan generasi muda.
Meski terlihat sederhana, gerakan ini menyimpan pesan mendalam yaitu sakinah harus diusahakan, bukan sekadar diharapkan.
Mungkin bagi sebagian orang tepuk sakinah hanya sekadar tren, namun bagi calon pasangan yang menjalaninya, kegiatan ini bisa menjadi pengingat berharga bahwa pernikahan adalah perjalanan sakral yang harus dilandasi cinta, komitmen, dan kebersamaan. (*)
Editor : Miftahul Khair