Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Tak Ada Kasus, Semua Sesuai Standar! SPPG Polri Dipandang Layak Jadi Role Model Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia

Syeti Agria Ningrum • Jumat, 3 Oktober 2025 | 13:04 WIB
Ilustrasi SPPG Polri.
Ilustrasi SPPG Polri.

PONTIANAK POST - Kehadiran lebih dari 600 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri mendapat apresiasi luas dari berbagai kalangan.

Dapur yang dikelola Polri dinilai berhasil menghadirkan makanan bergizi gratis yang aman, higienis, serta sesuai standar nasional.

Anggota Komisi IX DPR RI, Irma Suryani Chaniago, menyebut dapur SPPG Polri tidak pernah terjerat kasus karena semua operasional dilakukan sesuai aturan.

“Informasi kok ya, kalau Polri itu punya 600 SPPG. Dapur yang di bawah Polri itu, itu nggak ada yang berkasus. Karena dapurnya sesuai dengan standar,” ujar Irma.

Apresiasi juga datang dari pengamat politik Rocky Gerung. Ia menilai SPPG menjadi pintu masuk pencerahan dalam program gizi nasional karena ada jaminan klinis di setiap makanan yang diproduksi.

“Pencerahan juga dimulai di pintu dapur SPPG. Dan itu dipastikan tadi oleh Pak Kapolda, melalui dokter Rohak Morono, yang menjelaskan secara inti. Pemerintah mengerti bahwa ada jaminan ketika bahan makanan selesai, dia ada dalam status layak cerna. Setiap bahan makanan itu dikuji secara klinis, dihasilkan secara etis,” jelas Rocky.

Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional, Dr. Ir. Dadan Hindayana, menekankan pentingnya alat rapid test untuk menjamin kualitas makanan.

“Dapur Presiden sudah memerintahkan agar di setiap SPPG memiliki alat rapid test yang bisa digunakan untuk menguji makanan yang sudah dimasak sebelum didistribusikan. Dan ini juga diterapkan di SPPG yang dibangun oleh Polri,” ungkap Dadan.


Proses Berlapis dari Dapur Hingga Distribusi
Dalam peninjauan di salah satu dapur SPPG Polri, terlihat jelas bagaimana alur produksi makanan dilakukan secara ketat mulai dari hulu hingga hilir.

Pemilihan Bahan Baku
Semua bahan pangan seperti beras, sayuran, dan lauk pauk dipilih dengan teliti. Hanya bahan segar dan berkualitas yang dinyatakan layak untuk masuk dapur.

Pengolahan Bahan Makanan
Tim dapur memastikan seluruh proses memasak mengikuti standar higienis dengan mencuci, memotong, hingga teknik memasak dilakukan dengan benar. Tujuannya agar kandungan gizi tetap utuh sekaligus menghasilkan cita rasa yang layak konsumsi.

Uji Kelayakan dan Gizi (Food Test)
Sebelum dikemas, makanan melalui dua tahap pemeriksaan.


Uji organoleptik, yang menilai rasa, aroma, tekstur, dan warna.

Uji kimia, menggunakan reagent untuk mendeteksi kemungkinan adanya bahan berbahaya seperti arsen, nitrit, formalin, atau pewarna tekstil yang kerap disalahgunakan dalam makanan.

Menurut dr. Pepi dari tim kesehatan Polri, langkah ini penting untuk memastikan tidak ada kontaminan berbahaya yang bisa membahayakan penerima makanan.

Selain itu, seluruh petugas dapur diwajibkan menggunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan, masker, hingga penutup kepala untuk mencegah kontaminasi silang.

Pengemasan dan Distribusi
Setelah dinyatakan lolos uji, makanan dikemas secara rapi dan higienis. Kemasan dirancang agar mampu menjaga kualitas makanan tetap aman hingga sampai ke tangan pelajar di berbagai sekolah.

Apresiasi terhadap langkah Polri melalui SPPG dinilai bukan hanya sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah, tetapi juga wujud nyata kepedulian institusi terhadap generasi penerus bangsa.

Dengan sistem yang transparan, standar higienitas tinggi, serta pengawasan berlapis, SPPG Polri kini dipandang sebagai contoh model dapur pemenuhan gizi nasional.

Pemerintah bahkan mendorong agar setiap SPPG dilengkapi dengan fasilitas uji cepat sehingga jaminan keamanan pangan semakin kuat. (*)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Mbg #higienis #SPPG #polri #dapur