PONTIANAK POST - DI Pondok Pesantren (Ponpes) Tremas, Pacitan, Jawa Timur, bangunan yang sudah berusia tua segera diremajakan. Bahkan, yang berpotensi membahayakan bakal dirobohkan.
“Misalnya, toilet asrama putra yang dibangun 2006 dan kini sudah keropos serta berisiko, kami robohkan,” ungkap pengasuh Ponpes Tremas, KH Jabir, kepada Radar Pacitan Grup Jawa Pos, kemarin (6/10).
Ponpes yang berdiri di Desa Tremas, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, itu termasuk salah satu yang tertua di tanah air, berdiri satu abad lebih sebelum Indonesia merdeka. Dalam daftar yang dirilis Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, PP Tremas yang didirikan KH Abdul Manan pada 1830 itu berada di urutan ke-15 ponpes tertua.
Bangunan ponpes menjadi sorotan luas setelah ambruknya musala Ponpes Al-Khoziny, Sidoarjo, pada Senin (30/9) pekan lalu. Menteri Agama Nasaruddin Umar, ketika mengunjungi lokasi, termasuk yang mengakui kalau banyak bangunan ponpes yang lolos dari pengawasan teknis.
Namun, di Ponpes Tremas, kata KH Jabir, manajemen pembangunan yang baik dan terukur sangat diperhatikan. Bekas area toilet ponpes yang berlokasi di Desa Tremas, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan itu, misalnya, rencananya akan dijadikan ruang terbuka. Sedangkan fasilitas sanitasinya sudah dipindahkan ke lokasi baru yang lebih luas. “Ukuran 48 x 2 meter,” sebutnya.
Gandeng Konsultan
Perihal pembangunan asrama, Ponpes Tremas yang memiliki 5–6 ribu santri selalu menggandeng konsultan teknis konstruksi, meskipun pembiayaan dilakukan secara swadaya. Ia menuturkan, bahwa setiap pembangunan, terutama pondok yang bertingkat, selalu mengikuti standar kekuatan bangunan.
“Minimal, perencanaan kolom dan besi harus melalui konsultan,” terang KH Jabir.
Sebelum didirikan bangunan, pondasi digali dan dipadatkan dengan cerucuk bambu. Lalu, menggunakan sistem cakar ayam seluas 100 meter persegi dengan besi ukuran 13 dan 16 untuk konstruksi kolom.
“Ini dilakukan karena keterbatasan lahan. Ini membuat pembangunan asrama di Pondok Tremas maksimal hanya bisa mencapai tiga lantai,” katanya. (hyo/den/ttg)
Editor : Hanif