PONTIANAK POST - Basarnas menutup proses evakuasi di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny, Sidoarjo, Jatim, kemarin. Keputusan itu diambil setelah material reruntuhan musala yang ambruk dinyatakan bersih. Dalam rekapitulasi akhir, terdapat 67 korban jiwa akibat kejadian tersebut.
Kepala Basarnas, Marsdya TNI Marsdya Mohammad Syafii, menyatakan data itu mengacu pada hasil evakuasi. Dari 67 yang dievakuasi, delapan di antaranya berupa potongan tubuh. ”Lokasi kejadian saat ini kami pastikan sudah klir,” katanya.
Syafii menyampaikn apresiasi kepada tim penyelamat yang bekerja keras sejak hari pertama. Terlebih, evakuasi berlangsung 24 jam. ”Dengan penutupan ini, tidak berarti kegiatan di lokasi akan berhenti,” ungkapnya. Kegiatan yang diakhiri adalah proses pencarian dan penyelamatan. Tahapan selanjutnya seperti rehabilitasi bakal dilanjutkan. ”Dari provinsi maupun lembaga terkait tentunya akan supervisi,” ujarnya.
Syafii mengungkapkan, ponpes merupakan sarana pendidikan generasi bangsa. Al-Khoziny diharapkan bisa segera pulih dan beroperasi. ”(Ponpes) aset bangsa yang tidak bisa diukur nilainya,” ungkapnya.
Lebih lanjut, dia memastikan, bangunan yang sempat terkoneksi dengan reruntuhan sudah mendapat penanganan. Jadi, tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Apalagi pelaksanaannya melibatkan ahli teknik.
Jenderal bintang tiga itu memaparkan, secara keseluruhan terdapat 171 korban. Yang selamat 104 orang. ”Mungkin ada kesan penanganan yang lambat, sebenarnya tidak. Tim SAR gabungan sejak awal bekerja tanpa henti,” paparnya.
Syafii mengungkapkan, sekitar 400 personel dari 65 instansi terlibat dalam proses penyelamatan. Namun, kendala yang dihadapi tidak mudah. Material bangunan yang ambruk saling menumpuk sehingga petugas kesulitan mendapat akses. Penggunaan alat berat tidak bisa langsung diterapkan. Sebab, tim menemukan tanda kehidupan di balik puing runtuhan. ”Evakuasi membutuhkan kehati-hatian. Bahkan ketika alat berat digunakan,” tandasnya.
Identifikasi Korban Terus Berjalan
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur, kemarin (6/10) kembali berhasil mengidentifikasi tujuh jenazah santri. Dengan demikian, total terdapat 17 jenazah yang sudah teridentifikasi sejak insiden ambruknya musala pada 29 September lalu.
”Tim DVI Polda Jatim telah berhasil melaksanakan identifikasi terhadap delapan kantong jenazah yang terdiri atas tujuh jenazah dan satu body part,” ungkap Kabiddokkes Polda Jatim, Kombespol M. Khusnan Marzuki, kemarin. Jenazah-jenazah tersebut yaitu, M. Royhan Mustofa, 17, Jl KH Syadhali Makhdi, Bangkalan; Abdul Fattah, 18, Asemnonggal, Sampang; Wasiur Rohib, 17, Jalan Gayungan VIII, Surabaya.
Selain itu, atas nama M. Aziz Pratama Yudistira, 16, Cikarang Utara, Bekasi; Moh. Dafin, 13, Bulu Lor, Semarang; M. Ali Rahbini, 19, Tambelang, Sampang; dan Sulaiman Hadi, 15, Kolla Modung, Bangkalan. Satu kantong jenazah lain yang berisi body part dinyatakan milik Moh. Dafin.
”Sampai dengan hari ini (Senin, Red) tim gabungan telah berhasil mengidentifikasi 17 korban dari 59 kantong jenazah yang diterima,” terang Khusnan.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa turut meninjau posko penampungan keluarga korban pada Senin pukul 20.00. Khofifah mengimbau kepada keluarga korban untuk memberikan data tambahan ante mortem selengkap mungkin. Hal itu demi memudahkan petugas forensik dalam proses identifikasi.
Khofifah juga mendoakan para santri yang menjadi korban dalam insiden tersebut. Dia menuturkan, santri meninggal dalam keadaan syahid. Sebab, mereka sedang menuntut ilmu serta menjalankan salat berjamaah. ”Kita semua mendoakan yang sudah teridentifikasi dipanggil ke haribaan Allah, mereka bahagia di sisi Allah,” tuturnya.
BNPB dan Kementerian PU Audit Struktur Bangunan Ponpes
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk melakukan investigasi dan audit struktur bangunan lain pondok pesantren. Hal itu dilakukan agar tragedi di pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo, tidak terulang.
Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Mayjen TNI Budi Irawan menuturkan, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, BNPB akan mendampingi asesmen semua bangunan di Al-Khoziny. BNPB juga akan melakukan sterilisasi lokasi kejadian dari sisa-sisa temuan jenazah, limbah, maupun zat-zat berbahaya. Upaya itu dimulai dari disinfeksi dan pembersihan lingkungan agar tidak mencemari sekitar area.
"Proses ini akan dilakukan mulai Rabu oleh Dinas Kesehatan setempat dan Pusat Krisis Kesehatan," ujarnya. Bahkan, lanjutnya, tim juga akan meninjau kembali tempat pembuangan puing dengan tujuan mencari objek potongan tubuh manusia yang bisa jadi terbawa oleh truk pengangkut. Dengan selesainya pembersihan puing yang sejalan dengan berakhirnya operasi SAR, rencana tindak lanjut memasuki fase peralihan menuju pemulihan rehabilitasi dan rekonstruksi.
"Setelah transisi ini, kita akan serahkan kepada BPBD Provinsi Jawa Timur. Namun BNPB akan tetap mendampingi," jelas Budi.
Pakar dari Departemen Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Muji Himawan memastikan, berdasarkan hasil evaluasi sementara, bangunan lama di sisi selatan musala dalam kondisi aman pasca-evakuasi.
“Alhamdulillah, semalam (Senin, 6/10) kami sudah melepas beberapa kolom yang miring. Cantolannya sudah lepas dan hasilnya aman,” katanya.
Muji menjelaskan, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa retakan di bangunan selatan bukan akibat ambruknya musala, melainkan retakan lama. Artinya, tidak ada pergeseran struktur setelah kejadian.
Menurut Muji, tim teknis ITS telah menyelesaikan pekerjaan penyelamatan bangunan yang berisiko runtuh saat proses evakuasi. “Untuk menyelamatkan bangunan existing, kami sangga bagian yang roboh kemarin (Rabu, 6/10). Sekarang sudah aman, tinggal pembersihan saja,” tuturnya.
Dengan hasil tersebut, tim ahli memastikan tidak ada ancaman langsung terhadap bangunan lain di sekitar lokasi. Meski demikian, Muji menegaskan, pemanfaatan kembali bangunan tetap menunggu hasil evaluasi menyeluruh dari pihak berwenang.
“Keputusan pemakaian kembali tentu menunggu evaluasi akhir,” paparnya. Untuk sementara, proses belajar mengajar masih diliburkan.
Menurut Ketua Ikatan Alumni Al-Khoziny, KH Zainal Abidin, langkah itu diambil demi keamanan para santri. Pengasuh ponpes tidak ingin mengambil risiko sebelum hasil investigasi teknis terhadap bangunan di sekitar musala yang ambruk diperoleh.
Baca Juga: Kemenkes Percepat Sertifikasi SLHS Demi Keamanan Pangan Program MBG
“Kondisinya harus dicek dulu sebelum digunakan kembali,” ujar Zainal yang juga perwakilan keluarga pengasuh di Sidoarjo, kemarin (7/10).
Zainal menjelaskan, jika hasil investigasi menyatakan struktur bangunan aman, barulah akan dipertimbangkan untuk digunakan kembali. Namun, jika ditemukan potensi bahaya, pihaknya akan mencari alternatif tempat belajar sementara.
Kemenag Adakan Istigosah Akbar
Istigosah akbar satu pekan tragedi ambruknya musala Pesantren Al-Khoziny digelar pada Senin (6/10) malam. Doa bersama itu dilaksanakan di momen penutupan Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) Internasional di Wajo, Sulawesi Selatan. Menag Nasaruddin Umar mendoakan para korban meninggal maupun yang terluka.
Nasaruddin hadir secara virtual. Dia kembali mengajak para peserta untuk mendoakan korban di Pesantren Al-Khoziny. "Kepada malaikat-malaikat kecil, terimalah di sisi-Mu ya Allah," lanjut Nasaruddin. Dia mengatakan, anak-anak itu berangkat dari rumah meninggalkan orang tuanya dengan niat tulus li i’laa’i kalimaatillaah. Kemudian Allah menjemput mereka dalam suasana husnul khatimah.
"Ya Allah, siapa yang akan Engkau masukkan dalam surga-Mu, jika bukan mereka. Mereka masih anak-anak kecil, mungil, tanpa dosa, meninggal dalam keadaan salat," kata Nasaruddin. (wan/idr/leh/edi/oni)
Editor : Hanif