PONTIANAK POST – Pemerintah pusat memastikan akan membangun ulang seluruh kompleks Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur menggunakan dana APBN. Langkah ini menjadi respons atas tragedi ambruknya bangunan musala tiga lantai yang menewaskan 67 santri pada akhir September lalu.
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Dody Hanggodo menegaskan, keputusan membangun ulang diambil setelah tim teknis memastikan struktur bangunan lama tidak layak diperbaiki. “Bangunan yang warna hijau itu lebih murah kalau dirobohkan. Jadi dibangun baru dari nol, daripada kita tambal sulam,” ujarnya usai bertemu Menko Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar di Jakarta, Selasa (7/10).
Menurut Dody, pembangunan ulang dinilai lebih efisien secara teknis dan anggaran dibandingkan revitalisasi parsial. Kementerian PUPR kini tengah menghitung total kebutuhan biaya bersama lembaga terkait. Sumber pendanaan utama berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), namun tidak menutup kemungkinan dukungan dari sektor swasta.
“Kalau soal anggaran, insyaallah cukup dari APBN. Tapi tidak menutup kemungkinan ada bantuan dari swasta,” tambahnya. Meski urusan pembangunan pesantren umumnya berada di bawah Kementerian Agama, kondisi darurat ini membuat Kementerian PUPR turun tangan demi menjamin keselamatan santri dan keberlanjutan pendidikan.
Sementara itu, Menko Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar mengumumkan pemerintah akan membuka layanan hotline khusus bagi masyarakat yang ingin melaporkan bangunan sekolah atau pondok pesantren yang rawan ambruk. “Kita buka hotline, nanti dikasih tahu nomornya. Tolong disampaikan kepada masyarakat, pesantren-pesantren yang merasa rawan, konsultasi saja dengan hotline,” kata Muhaimin.
Tragedi Al Khoziny menjadi titik balik bagi pemerintah dalam memperkuat pengawasan dan penanganan bangunan pendidikan keagamaan. Melalui pembangunan ulang dan pembukaan layanan pengaduan publik, pemerintah menunjukkan komitmen mencegah tragedi serupa terulang di masa depan.
Santri Mengungsi ke Asrama Darurat
Aktivitas belajar mengajar di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny sendiri dihentikan sementara pascainsiden ambruknya bangunan musala empat lantai yang menewaskan lebih dari 60 santri pada Senin (29/9). Sembari menunggu hasil investigasi kepolisian, pihak pesantren menyiapkan tempat pengganti untuk asrama santri putra. Bangunan di sekitar lokasi kejadian saat ini disterilkan penuh demi alasan keamanan.
“Nampaknya kita tunggu investigasi dulu. Baru nanti kalau memang sudah ada rekomendasi untuk kita tempati, ya kita tempati,” ujar KH M. Zainal Abidin, alumnus Ponpes Al Khoziny sekaligus Ketua PCNU Kabupaten Sidoarjo, Rabu (8/10).
Menurut Zainal, pihak pesantren telah menyiapkan ruangan di sisi timur kompleks sebagai tempat tinggal sementara bagi para santri. Lahan yang cukup luas di area itu rencananya akan dipasangi tenda-tenda agar santri bisa tetap menginap di lingkungan pesantren. “Kita sudah siapkan ruang di sebelah timur, halamannya cukup luas. Mungkin kita buat tenda-tenda, sehingga sementara bisa digunakan untuk menginap para santri,” tambahnya.
Meski didera duka mendalam, sebagian santri memilih tetap bertahan di pesantren. Mereka ikut membantu proses evakuasi dan bahkan menyediakan makanan bagi keluarga korban. “Ruangan di sisi timur itu nantinya bisa digunakan oleh santri yang masih bertahan di sini, mengawal dan membantu proses-proses yang sedang berlangsung,” jelas Zainal.
Sebagai informasi, bangunan empat lantai yang difungsikan sebagai musala di kompleks Ponpes Al Khoziny tiba-tiba ambruk pada Senin (29/9) sekitar pukul 15.35 WIB, saat para santri tengah melaksanakan Salat Asar berjamaah di rakaat kedua. Peristiwa tragis itu menyebabkan banyak santri tertimbun reruntuhan. Setelah sembilan hari operasi pencarian, tim SAR resmi menutup proses evakuasi pada Selasa (7/10) pukul 10.00 WIB.
Berdasarkan data terakhir, jumlah korban mencapai 171 orang. Sebanyak 104 santri berhasil diselamatkan, sementara 67 meninggal dunia, termasuk delapan bagian tubuh (body part) yang ditemukan terpisah. Dari korban meninggal tersebut, hingga Rabu (8/10), sebanyak 34 telah berhasil diidentifikasi. (jpc/ant)
Editor : Hanif