PONTIANAK POST - Bagi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) Arifah Fauzi, Marsinah adalah simbol keberanian melawan ketidakadilan. Karena itu, dia sangat mendukung dan mengapresiasi upaya Pemerintah Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, menjadikan Marsinah pahlawan nasional.
“Demi memperjuangkan hak pekerja, Marsinah disiksa sampai akhirnya meninggal dunia. Sangat layak menjadi pahlawan nasional,” kata Arifah di sela mengunjungi kediaman dan berziarah ke makam Marsinah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Nganjuk, kemarin (19/10), sebagaimana dilansir Radar Kediri Grup Jawa Pos.
Arifah didampingi Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi dan Wakil Bupati Nganjuk Trihandy Cahyo Saputro. Marhaen menginformasikan bahwa proses pengukuhan aktivis buruh yang ditemukan meninggal pada 8 Mei 1993 di Hutan Wilangan, Nganjuk, itu menjadi pahlawan nasional sedang berjalan.
“Prosesnya tinggal sedikit lagi, minta doanya agar semuanya lancar,” imbuhnya.
Pekan lalu, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono telah menerima audiensi Marhaen yang datang bersama Kepala Dinas Sosial Jawa Timur Restu Novi Widiani, Kepala Dinas Sosial Nganjuk Haris Jatmiko, perwakilan TP2GD Nganjuk/Serikat Buruh Kelik Widi Wahyuni serta Kepala Desa Nglundo M. Ansori di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, Agus menjanjikan, pihaknya segera menindaklanjuti pengusulan Marsinah menjadi Pahlawan Nasional.
Koordinasi terkait persyaratan dan lainnya telah dilakukan antara Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Kabupaten Nganjuk dan TP2GD Provinsi Jawa Timur. Setelahnya, hasil tersebut diserahkan kepada Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) untuk pembahasan di tingkat nasional.
“Semua dokumen akan segera kami teruskan ke sidang TP2GP, untuk kemudian dilaporkan kepada menteri sosial dan tahap terakhir diserahkan ke Dewan Gelar di Istana Presiden,” tutur Agus.
Jejak Marsinah
Marsinah yang bekerja sebagai buruh di perusahaan PT Catur Putra Surya, Porong, Sidoarjo, itu diculik dan kemudian ditemukan terbunuh pada 8 Mei 1993 setelah menghilang selama tiga hari. Hasil otopsi, dia meninggal akibat penganiayaan berat.
Sebelumnya, perjuangan Marsinah dikenang dalam berbagai bentuk. Pada 2001, Slamet Rahardjo Djarot membuat film bertajuk Marsinah, Cry for Justice. Band Marjinal juga menulis lagu berjudul Marsinah, sedangkan sejumlah seniman Surabaya yang dikoordinasikan musisi Mus Mulyadi membuat sebuah album musik dengan judul yang sama.
Di kediaman Marsinah di Nganjuk kemarin, Arifah bersama rombongan melihat-lihat foto hingga barang peninggalan almarhumah. Kemudian dilanjutkan ziarah ke makam Marsinah yang berada di desa yang sama.
Di Jakarta, Agus Jabo Priyono menyebut, sosok Marsinah memiliki unsur-unsur spesial yang membuatnya layak memperoleh gelar pahlawan nasional. Selain merepresentasikan perjuangan perempuan dalam sejarah pergerakan rakyat Indonesia, ia juga memiliki keberanian dalam memperjuangkan keadilan bagi kaum buruh.
“Berkat perjuangan Marsinah, kaum buruh kini bebas mendirikan serikat dan menyampaikan pendapat,” paparnya. (wib/mia/ttg)
Editor : Hanif