Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Polisi Temukan Serbuk Diduga Pemicu Ledakan SMAN 72 Jakarta, Korban Bertambah Jadi 96 Orang

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 9 November 2025 | 20:41 WIB

 

Senjata api mainan yang diduga milik pelaku ledakan di Masjid SMAN 72 Jakarta, Jumat (7/11) siang.
Senjata api mainan yang diduga milik pelaku ledakan di Masjid SMAN 72 Jakarta, Jumat (7/11) siang.

PONTIANAK POST - Aparat kepolisian menemukan serbuk saat menggeledah rumah terduga pelaku peledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Jumat (7/11) siang.

"Terdapat sejumlah barang bukti yang disita polisi dari hasil penggeledahan itu. Salah satunya adalah serbuk yang diduga dijadikan pemicu ledakan di SMAN 72 Jakarta," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto di Polda Metro Jaya, Sabtu (8/11).

Meski begitu, Budi belum mau memastikan serbuk itu benar-benar yang digunakan menjadi bahan peledak atau tidak.

"Untuk barang bukti tadi serbuk. Nanti kita sampaikan secara lengkap oleh Puslabfor. Karena memang secara investigasi ilmiah (scientific investigation), pelaksanaan pengolahan barang bukti ini kewenangan di Puslabfor. Nanti secara mereka-mereka yang memiliki keahlian di dalam hal ini," ujarnya.

Penggeledahan ini merupakan salah satu rangkaian penyelidikan terkait kasus peledakan di SMAN 72 Jakarta. Penyelidikan melibatkan berbagai satuan kerja kepolisian, mulai dari penanganan hingga sterilisasi di lokasi kejadian dan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Selain itu, penggeledahan dilakukan untuk menemukan persesuaian barang bukti dengan yang ditemukan di TKP. "Penggeledahan ini dari alat bukti yang ditemukan di TKP. Merujuk untuk memilah persesuaian antara barang bukti pada saat penggeledahan dengan barang bukti yang ada di TKP," paparnya.

Polisi masih harus melakukan uji laboratorium untuk memastikan bahwa serbuk yang ditemukan di TKP dan rumah terduga pelaku merupakan jenis yang sama.

"Ada beberapa bagian (serbuk). Makanya ini harus dijelaskan apakah serbuk-serbuk tersebut cocok atau sesuai dengan yang ada di TKP kan harus uji lab," ucap Budi.

Menurut Budi, polisi akan menjelaskan secara lengkap seluruh barang bukti yang ditemukan saat semuanya sudah jelas. Termasuk terkait motif terduga pelaku melakukan peledakan di area sekolah.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan, terdapat sejumlah barang bukti yang sudah diamankan oleh tim di lapangan. Beberapa di antaranya adalah tulisan dan serbuk yang diduga menyebabkan ledakan itu terjadi di sekolah.

"Ditemukan beberapa bukti pendukung yang tentunya ini sedang kita kumpulkan. Ada tulisan, kemudian ada barang bukti serbuk yang diperkirakan bisa menimbulkan potensi terjadinya ledakan," kata Listyo di RS Islam Jakarta, Cempaka Putih, Jakarta Pusat.

Pihak kepolisian juga masih terus mengumpulkan catatan-catatan yang terkait kasus tersebut. Selain itu, polisi juga telah melakukan pemeriksaan media sosial dan lingkungan keluarga terduga pelaku.

 

Paparan Radikalisme

 

Pengamat terorisme Al Chaidar menjelaskan, perundungan membuat pelaku rentan terhadap pengaruh ideologi radikal. ’’Sebab, korban bullying cenderung memiliki emosi yang labil sehingga mudah terpapar paham radikal,’’ ujarnya.

Temuan senjata mainan bertulisan nama pelaku penyerangan masjid di luar negeri membuktikan kuatnya indikasi paparan radikalisme itu.

Al Chaidar menduga, pelaku belajar membuat bahan peledak dari bahan sederhana seperti belerang dari petasan. ’’Belajar membuat peledak kini sangat mudah, cukup dengan menonton tutorial di YouTube,’’ ungkapnya.

Untuk mencegah kasus serupa, dia mendorong pemerintah memperketat pengawasan ideologi di dunia maya. Salah satunya melalui kebijakan screening ideology. ’’Itu akan membantu mendeteksi ideologi berbahaya yang rawan berkembang,’’ tegasnya.

Sementara itu, Detasemen Khusus (Densus) 88 terus mendalami dan menelusuri keterkaitan antara terduga pelaku peledakan di SMAN 72 Jakarta dengan jaringan teror.

"Pihak Densus 88 menganalisa apakah ini ada kaitan dengan pelaku-pelaku aksi teror lainnya, termasuk bagaimana motif. Itu adalah kewenangan dari Densus 88," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto.

Budi menyebut, tim dari Densus 88 tengah menganalisis sejumlah aspek, termasuk motif serta aktivitas media sosial dari terduga pelaku.

"Penyelidikan atas aktivitas media sosial terduga pelaku juga tengah dilakukan. Hal itu untuk menelusuri kemungkinan pelaku pernah bergabung dalam grup atau komunitas daring yang memiliki afiliasi dengan kelompok teror tertentu," jelas Budi.

Sebelumnya, sempat muncul pertanyaan publik terkait kemungkinan adanya keterkaitan antara kasus ledakan di SMAN 72 dengan ancaman bom di beberapa sekolah yang terjadi pada awal Oktober lalu.

Termasuk di North Jakarta Intercultural School. Namun, menurut Budi, sejauh ini belum ada indikasi yang mengarah ke hubungan antara kedua peristiwa tersebut.

"Sejauh ini belum ditemukan ada keterkaitan. Tapi itu pasti akan didalami pihak Densus dan satuan kerja yang berkompeten terkait tugas pokoknya masing-masing," ucap Budi.

 

Korban Bertambah

 

Polda Metro Jaya mengungkapkan, korban ledakan di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Jumat (7/11) siang bertambah menjadi 96 orang.

"Tadi disampaikan oleh Bapak Kapolri Jenderal Listyo Sigit di Rumah Sakit Islam Jakarta, Cempaka Putih tentang jumlah korban. Kami tekankan jumlah korban 96 orang," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto di Polda Metro Jaya, Sabtu (8/11).

Dari jumlah tersebut, sebanyak 29 orang masih menjalani perawatan medis, sementara 67 orang lainnya sudah diperbolehkan pulang ke rumah setelah kondisinya membaik.

"Saat ini yang dirawat berjumlah 29 orang, dengan rincian 14 di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, 14 orang di Rumah Sakit Yarsi, dan satu di Rumah Sakit Pertamina. Sementara 67 orang lainnya sudah pulang ke rumah dalam kondisi lebih baik," jelas Budi.

Angka korban ini mengalami peningkatan dari data sebelumnya yang sempat disebut sebanyak 55 orang. Menurut Budi, data bersifat dinamis karena korban terus berdatangan ke fasilitas kesehatan dan dilakukan verifikasi ulang oleh petugas.

"Makanya kemarin saat doorstop kami sampaikan 55 orang korban, karena memang data masih bergerak. Setelah dilakukan pendataan ulang, jumlah korban kini mencapai 96 orang," ujarnya.

Menjawab pertanyaan terkait korban yang dirawat di ruang ICU dan satu korban yang dirujuk ke Rumah Sakit Pertamina, Budi mengatakan, perawatan dilakukan menyesuaikan kondisi medis masing-masing pasien.

"Ada kemungkinan pihak keluarga atau tim medis melakukan rujukan agar korban mendapat pengobatan yang lebih memadai. Jadi distribusi korban ini tidak hanya di rumah sakit besar, tetapi juga di Puskesmas, klinik Lantamal, dan rumah sakit rujukan," ucap Budi.

Pada Jumat (7/11) sekira pukul 12.15 WIB, terjadi ledakan di lingkungan SMA Negeri 72 Jakarta di Kelapa Gading, Jakarta Utara, tepatnya dalam kompleks Kodamar TNI Angkatan Laut (AL).

Menurut keterangan saksi, ledakan terjadi saat siswa dan guru sedang Salat Jumat di masjid di sekolah tersebut. Letusan terdengar ketika khotbah, disusul ledakan kedua yang diduga berasal dari arah berbeda.

Ledakan itu menyebabkan para korban mengalami beragam cedera, termasuk luka bakar dan luka akibat serpihan, sekaligus menyulut kepanikan dari warga sekolah dan masyarakat sekitar.

Berdasarkan investigasi awal, pelaku diduga merupakan salah satu siswa dari sekolah tersebut. Siswa itu dikabarkan mengalami perundungan (bullying) yang diduga menjadi motif untuk melakukan aksi tersebut.

Di lokasi juga ditemukan benda yang mirip senjata airsoft gun dan revolver yang setelah pemeriksaan dipastikan bahwa senjata itu adalah mainan.(ant/idr)

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#pelajar #motif pelaku #SMA Negeri 72 Jakarta #siswa