Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Ratusan Pendaki Selamat Saat Semeru Erupsi, 50 Rumah Rusak di Lumajang

Hanif PP • Jumat, 21 November 2025 | 09:14 WIB

 

ERUPSI: Kondisi Desa Supiturang rusak parah usai terkena erupsi Gunung Semeru
ERUPSI: Kondisi Desa Supiturang rusak parah usai terkena erupsi Gunung Semeru

PONTIANAK POST - Ratusan pendaki sempat bermalam di Ranu Kumbolo saat Gunung Semeru mengalami erupsi. Letusan gunung tertinggi di Jawa itu juga menyebabkan puluhan rumah rusak dan tiga orang mengalami luka bakar di Lumajang, Jawa Timur (Jatim).

Basarnas mengonfirmasi data petugas Pos Ranupani yang mencatat terdapat 187 orang di kawasan Ranu Kumbolo saat Semeru meletus. Jumlah itu terdiri atas 129 pendaki, satu petugas, dua saver, 24 anggota PPGST (pemandu pendakian Gunung Semeru terdaftar), 25 pemandu gunung, dan enam personel dari Kementerian Pariwisata.

Sejak kemarin (19/11) pagi pukul 07.00 hingga 10.00 WIB, ratusan orang tersebut mulai dievakuasi dengan beranjak dari Ranu Kumbolo menuju Ranupani. Ranu Kumbolo merupakan danau yang biasa menjadi tempat berkemah atau beristirahat mereka yang menuju atau tengah turun dari Puncak Mahameru.

“Sebenarnya mereka tidak terjebak, erupsi Gunung Semeru tidak berdampak pada kawasan tersebut. Tapi, mereka yang berada di sana baru dievakuasi mulai Kamis (20/11) pagi untuk menjaga keamanan mereka,” ucap Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Rudijanta Tjahja Nugraha, seperti dikutip dari Radar Jember Grup Jawa Pos kemarin.

Menurutnya, proses evakuasi baru bisa dilakukan kemarin karena tidak memungkinkan dilakukan saat Semeru meletus Rabu (19/11) petang. Penyebabnya, medan menantang, jalan licin akibat hujan, dan kondisi alam yang gelap gulita.

Melihat sejarah letusan Semeru, lanjut dia, material erupsi tidak pernah mencapai Ranu Kumbolo yang berada di sisi utara. Erupsi Rabu mengarah juga ke tenggara dan selatan sehingga dipastikan Ranu Kumbolo berada di wilayah aman.

Sampai tadi malam pukul 19.00, status Semeru masih Level IV atau Awas, meski aktivitas erupsinya dipastikan telah berakhir pada Rabu (19/11) pukul 18.11 WIB. Status itu dipertahankan untuk mengantisipasi potensi aktivitas lanjutan.

Demi menjaga situasi tetap terkendali, Rudijanta menambahkan bahwa pihaknya menutup jalur pendakian sejak Rabu (19/11) hingga batas waktu yang tidak ditentukan. “Sebetulnya wilayahnya cukup aman, tapi jalur pendakian tetap ditutup mengingat status Gunung Semeru saat ini berada di Level IV atau Awas,” katanya.

 

Langkah Antisipasi

Sementara itu, Bupati Lumajang Indah Amperawati Masdar menetapkan status tanggap darurat erupsi selama tujuh hari (19–25 November). Langkah itu diambil agar proses koordinasi antarlembaga berjalan lebih efektif.

“Evakuasi juga bisa dilakukan dengan cepat dan warga tetap mendapatkan perlindungan yang tepat,” kata Indah saat mendampingi Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa meninjau sejumlah lokasi terdampak erupsi, kemarin.

Beberapa daerah aliran sungai yang terdampak material abu vulkanik seperti Kajar Kuning dan Curah Kobokan terus mengeluarkan kepulan asap putih kemarin pagi. Baunya sangat menyengat.“Bau banget, makanya tidak bisa lama-lama kalau di sini. Harus pakai masker untuk menjaga keamanan,” ucap Siti Aminah, warga sekitar.

Tak sedikit warga yang penasaran dengan wilayah terdampak. Karena itu, petugas keamanan berjaga ketat untuk mengantisipasi keluar-masuk warga yang hanya ingin melihat dan mengabadikan momen.

Padahal, potensi bencana susulan masih mengintai. “Statusnya masih awas, khawatir terjadi erupsi susulan,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Lumajang, Isnugroho.

 

Tak Bisa Ditempati

Kerusakan paling parah akibat awan panas Semeru terjadi di dua dusun di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo: Sumbersari dan Kamar A. Ada sekitar 50 rumah warga yang rusak parah.

Kedua dusun itu berada di jalur rawan aliran awan panas dan banjir lahar. Beruntung, semua warga langsung mengungsi begitu sirine peringatan berbunyi.

Mereka mengungsi dengan tergesa-gesa, tanpa sempat membawa barang berharga. Mereka memilih mengamankan diri di tempat pengungsian yang telah disediakan pemerintah desa setempat.

Nur Rokayah, salah seorang warga, mengatakan, hewan ternak dan dokumen penting langsung ditinggal. “Sudah tidak sempat memikirkan itu, yang penting keluarga selamat dan langsung berlari menuju jalur evakuasi,” ucapnya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, terlihat beberapa ternak kambing warga mati terkena semburan abu panas dengan kondisi berlumur abu. Puluhan rumah warga juga rusak parah, hancur, dan porak-poranda.

Beberapa rumah tertutup material abu vulkanik dan sudah tidak bisa ditempati lagi. “Sekitar 50 rumah yang terdampak, tapi masih kami data lagi untuk pembaruan. Saat ini mereka mengungsi dan menyelamatkan barang yang bisa dibawa,” kata Ali Suud, salah seorang relawan.

Untuk warga Kecamatan Pronojiwo, mereka mengungsi antara lain ke Balai Desa Oro-Oro Ombo, Masjid Ar-Rahmah di Desa Oro-Oro Ombo, SDN 04 Supiturang, dan Masjid Nurul Jadid di Desa Supiturang. Sedangkan tempat pengungsian untuk warga Kecamatan Candipuro berada di Balai Desa Penanggal, SDN 02 Sumberurip, Kantor Kecamatan Candipuro, serta rumah Kepala Desa Sumbermujur.

“Total pengungsi yang tersebar di wilayah Kecamatan Pronojiwo dan Candipuro sebanyak 346 jiwa. Sejumlah tenaga kesehatan diterjunkan untuk mengecek kondisi para pengungsi,” kata Khofifah. (dea/fid/ttg)

Editor : Hanif
#Warga Mengungsi #lumajang #pendaki #rumah rusak #Dievakuasi #Erupsi Semeru