Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Gus Yahya Tegaskan Tak Mundur dari Ketum PBNU, Singgung Risalah Syuriyah yang Dinilai Inkonstitusional

Hanif PP • Senin, 24 November 2025 | 09:35 WIB

 

Gus Yahya
Gus Yahya

PONTIANAK POST - Keputusan Yahya Cholil Staquf sudah bulat. Dia tidak akan mundur dari kursi ketua umum PBNU. Sebaliknya, dia menyebut risalah rapat Syuriah yang memintanya mundur adalah perbuatan inkonstitusional.

”Saya sama sekali tidak terbesit pikiran untuk mundur. Saya mendapat amanat lima tahun dan akan saya jalani,” tegas Gus Yahya, sapaan Yahya Cholil Staquf. Penegasan itu dia sampaikan setelah bertemu dengan para ketua PWNU di Surabaya, Sabtu (22/11) malam sampai Minggu (23/11) dini hari. Pantauan di lapangan, pertemuan tertutup itu berlangsung selama 4 jam dan 45 menit.

Di hadapan ketua PWNU se-Indonesia, Gus Yahya menjelaskan duduk persoalan yang selama beberapa hari terakhir menjadi perbincangan publik. ”Alhamdulillah, saya menjelaskan apa yang terjadi beberapa hari ini, dan mereka (para ketua PWNU, Red) bisa mendapatkan pemahaman yang utuh,” ujarnya.

Gus Yahya juga mempertanyakan legalitas risalah Syuriyah. Dia mengaku belum menerima dokumen resmi apapun terkait tuntutan agar dirinya mundur. ”Sampai sekarang saya belum menerima secara fisik surat apa pun dari Syuriyah,” katanya.

Pria 59 tahun itu menilai dokumen yang beredar di media sosial tidak memenuhi standar administratif PBNU. Alias inkonsistusional. Menurut dia, dokumen resmi seharusnya dilengkapi tanda tangan digital agar dapat dipertanggungjawabkan. ”Kalau tanda tangan manual itu kan gampang sekali dibuat. Jadi kita lihat nanti,” ujarnya.

Kakak kandung mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas itu menekankan, amanah Muktamar ke-34 mengharuskannya menjabat selama lima tahun penuh. Karena itu, dia menolak mundur.

Selain itu, dia menilai rapat harian Syuriyah tidak memiliki kewenangan konstitusional untuk memberhentikan ketua umum. ”Rapat harian Syuriyah tidak bisa memberhentikan wakil sekjen atau ketua lembaga. Apalagi ketua umum. Jadi kalau ada implikasi untuk memberhentikan ketua umum, itu tidak sah,” tegasnya.

Setelah rakor berakhir, Gus Yahya menyebut seluruh PWNU akan melakukan konsolidasi internal untuk menyikapi situasi dengan pemahaman yang lengkap, bukan berdasarkan rumor atau fitnah. ”Saya hanya menyampaikan penjelasan supaya pemahaman mereka utuh,” jelasnya.

Sowan kepada Para Kiai

Gus Yahya kini menyiapkan langkah lanjutan. Salah satu agenda yang akan ditempuh adalah sowan kepada para kiai. Dia akan menyampaikan hasil rakor serta meminta nasihat terkait dinamika internal organisasi.

”Dalam waktu dekat akan nyuwun dawuh ke para kiai, dan kiai sepuh ya, meminta nasihat, semoga segera terlaksana,” ungkapnya. Ditanya mengenai komunikasi dengan Rais Aam maupun jajaran Syuriyah, Gus Yahya menyatakan telah bertemu sejumlah anggota Syuriyah dan para kiai lainnya. 

Dia menyebut para kiai juga menyesali karena sebelumnya tidak mendapat informasi lengkap dan utuh. Menurut dia, suara moral para kiai dan ulama sepuh itu penting untuk merumuskan jalan keluar terbaik. Dia menyebut, pertemuan dengan kiai sepuh dalam waktu dekat akan lebih banyak mendengar ketimbang berbicara. ”Biasanya kalau saya ketemu ulama sepuh, saya enggak pernah ngomong. Saya hanya minta dinasehati atau didoakan. Saya enggak pernah mengadu atau mengeluh,” paparnya.

Dia mengakui banyak rumor negatif terkait dirinya. Namun, Gus Yahya menegaskan tidak ingin bertindak berdasarkan prasangka atau tuduhan yang belum terbukti. Rumor itu, misalnya, Gus Yahya disebut terafiliasi dengan jaringan zionisme Israel hingga pergolakan konsesi tambang.

”Sebelum ini rumor sudah nggak karu-karuan ya, macam-macam tuduhan, saya disebut makan duit Rp 900 miliar, saya begini begitu. Tapi saya tidak mau bertindak atas dasar rumor atau prasangka,” jelasnya.

Soal kaitannya dengan jaringan zionisme Israel, Gus Yahya memaparkan, lawatannya ke Israel terjadi pada 2018. ”Saya bertemu Netanyahu (Perdana Menteri Israel, Red). Saya bertemu dengan Presiden Israel. Saya bertemu dengan berbagai elemen di sana. Di depan Netanyahu ya, saya tegaskan keberpihakan pada kemerdekaan Palestina,” jelasnya.

Kendati demikian, saat Muktamar NU 2021, Gus Yahya tetap terpilih sebagai ketua umum. ”Semua cabang NU justru memilih saya. Betul kan? Semua bisa melihat itu, kenapa dipermasalahkan sekarang,” imbuhnya.

Mengenai isu hubungannya dengan Sekjen PBNU Saifullah Yusuf yang dinilai kurang harmonis, Gus Yahya menyangkal. Dia mengaku tidak memiliki persoalan dengan Saifullah Yusuf.  ”Alhamdulillah baik, meski jarang berkomunikasi. Mungkin beliau sibuk, enggak pernah menghubungi saya. Saya enggak tahu,” katanya.

Jamaah Nahdliyin Bergerak tanpa Arahan

Pada bagian lain, kader muda NU Nadirsyah Hosen membuat catatan terkait gejolak di tubuh PBNU. Dia menyebut bahwa roda jam'iyah NU sudah mati. Menurut dia, jam’iyyah NU sedang berjalan terbalik.

"Ketua Umum berkonflik dengan Sekjen dan Bendum. Ketua Umum juga tidak akur dengan Rais Aam. Sementara Rais Aam sendiri tidak sreg dengan Katib Aam yang kebetulan masih keluarga dekat Ketum," katanya.

Nadirsyah mengatakan, polemik sekarang bukan lagi soal organisasi yang macet. Tetapi soal mesin yang mati dan dibiarkan karatan selama berbulan-bulan. Masing-masing kubu berjalan sendiri. Jamaah nahdliyin bergerak tanpa arahan, bimbingan, dan tanpa kepemimpinan PBNU. Baginya, roda terkunci mati.

Dia mengatakan, tagline ingin menghidupkan kembali Gus Dur, nyatanya sikap kritis justru hilang sama sekali. Mengaku ingin governing NU, tapi tata kelola PBNU sendiri remuk redam. Mengibarkan bendera khittah, malah tercebur dalam kubangan dukung-mendukung pilpres. Mengaku berkhidmat untuk bangsa, malah gaduh sendiri soal tambang.

"Bicara ingin membangun peradaban dunia, tapi yang diundang justru tokoh zionis perusak peradaban," katanya. Satu Abad NU bukan dirayakan dengan kejayaan, tapi dilewati dengan perih dan prihatin yang menyesakkan dada. (zam/wan/oni)

Editor : Hanif
#pwnu #gus yahya #PBNU #independen #inkonstitusional #Syuriyah #Menolak #mundur