Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Banjir Tewaskan 72 Orang di Sumatera: Pemerintah Tetapkan Tanggap Darurat di Aceh, Sumut, dan Sumbar

Hanif PP • Sabtu, 29 November 2025 | 11:39 WIB

 

EVAKUASI: Petugas mengevakuasi warga yang terkena dampak banjir di Tapanuli Utara, Sumatera Utara, kemarin.
EVAKUASI: Petugas mengevakuasi warga yang terkena dampak banjir di Tapanuli Utara, Sumatera Utara, kemarin.

PONTIANAK POST – Tiga provinsi di Pulau Sumatera, Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar), diterjang bencana banjir bandang disertai tanah longsor. Puluhan ribu warga terpaksa mengungsi akibat bencana hirdrometeorologi itu. Sementara, 72 orang meninggal.

Dari data BNPB pada Jumat (28/11), di Sumut, banjir terjadi di beberapa kota, salah satunya di Binjai pada Rabu (26/11) malam pukul 18.00 waktu setempat. Banjir disebabkan luapan Sungai Bingai, Mencirim, dan Bangkatan, akibat hujan turun lebat.

Total 5.818 Kepala Keluarga (KK) atau 19.349 jiwa terdampak di 21 kelurahan yang tersebar di lima kecamatan. Yaitu Kecamatan Binjai Selatan, Binjai Kota, Binjai Timur, Binjai Utara, dan Binjai Barat.

Banjir bandang juga terjadi di Kota Tebing Tinggi, pada Kamis (27/11) pukul 06.00 WIB. Bencana itu dipicu oleh kenaikan debit air sungai Padang dan Bahilang karena hujan dengan intensitas tinggi di wilayah hulu, yakni Kabupaten Simalungun dan Kabupaten Serdang. Luapan sungai itu menyebabkan 26 kelurahan di lima kecamatan terendam. Sebanyak 5.054 KK atau 13.337 jiwa kena dampak bencana dengan kerugian material 4.080 unit rumah terendam air.

Di Kabupaten Sedang Bedagai, banjir setinggi 60 sentimeter merendam empat kecamatan, dengan jumlah warga terkena dampak mencapai 186 KK atau sekitar 575 jiwa.

Korban Meninggal

Di Aceh, banjir melanda Kabupaten Aceh Selatan yang menyebabkan delapan kecamatan dan 24 gampong kebanjiran. Sebanyak 878 KK atau 3.106 jiwa terdampak. Di Kabupaten Pidie ada 24 gampong di delapan kecamatan tergenang air. Tercatat, 726 KK atau sejumlah 2.547 jiwa di Kecamatan Muara Tiga, Kecamatan Pidie, dan Kecamatan Mutiara Timur harus terendam air. Sementara di Kabupaten Aceh Tenggara, 71 gampong dari 14 kecamatan terendam banjir. Satu orang meninggal dunia, serta 774 KK atau 1.879 jiwa yang rumahnya kebanjiran.

Selain itu, banjir juga menyebabkan kerusakan infrastruktur seperti empat unit jembatan terputus, tiga unit tanggul terdampak, dan tiga akses jalan terputus.

Banjir di Aceh Tenggara merenggut sembilan nyawa. Enam orang dilaporkan masih hilang. Koordinator Basarnas Kutacane Muhammad Amri mengatakan, sembilan korban telah ditemukan. ”Pencarian terus dilakukan, baik menggunakan perahu karet, dan penyisiran darat pinggir sungai. Begitu juga pencarian dilakukan juga menggunakan drone Termal,”  jelasnya.

Imbas banjir, 27 sekolah di Kabupaten Aceh Barat meliburkan siseanya. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Barat, Huseinsah mengungkapkan, sekolah yang terdampak sudah terdata dan dilaporkan ke Kementerian bahwa aktivitas belajar tidak bisa dilakukan. ”Pendataan masih terus dilakukan oleh pihak kita, sejauh ini tercatat 23 SD dan empat SMP yang berhenti total,” jelasnya.

 

Meluas ke-14 Daerah

Sedangkan itu di Sumbar, bencana Hidrometeorologi meluas hingga 13–14 kabupaten/kota. Adapun daerah yang terdampak bencana banjir meliputi Padang Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Agam, Pesisir Selatan, Solok, Kota Pariaman, Pasaman Barat, Bukittinggi, dan sejumlah kota/kabupaten lainnya.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menyampaikan, sebanyak 72 orang meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Data tersebut diperoleh per Jumat pagi.

Tanggap Darurat Bencana

Pemerintah telah menetapkan tanggap darurat bencana. Operasi penanganan pun telah dilakukan melalui kementerian dan lembaga terkait dengan koordinasi dari Menko PMK Pratikno.

Kemarin, sesuai perintah presiden, TNI mengerahkan tiga pesawat Hercules dan satu pesawat Airbus A400 untuk mengangkut kebutuhan logistik bagi para korban bencana di tiga provinsi itu. Termasuk, alat komunikasi, perahu karet, hingga genset listrik. ”Itu hal-hal yang sangat diperlukan supaya pekerjaan-pekerjaan tanggap darurat ini semakin efisien,” ujar Pratikno di Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma, Jakarta, saat melepas misi operasi.

Saat ini, tim dari Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) telah bergerak untuk membuka akses ke beberapa lokasi yang terputus akibat tanah longsor. ”Jadi, kami fokus pada tanggap darurat,” jelas Pratikno.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menambahkan, empat pesawat sudah diberangkatkan membawa logistik bantuan pada pukul 07.30 WIB. Keempat pesawat itu akan mendarat di Padang, kemudian ke bandara terdekat di Tapanuli, yakni di Bandara Silangit, Sumut; dan ke bandara di Banda Aceh dan Lhokseumawe, Aceh Utara. ”Bantuan ini bukan yang pertama. Beberapa hari lalu sampai hari ini bantuan terus menuju ke sana,” kata Teddy.

Bantuan tersebut, kata Teddy, diangkut  menggunakan pesawat TNI maupun pesawat sipil. Sejumlah logistik penting yang dikirimkan seperti 150 unit tenda, 64 unit perahu karet, alat bantu listrik genset, dan 100 perangkat sinyal untuk alat komunikasi. ”Agar komunikasi bisa dimulai kembali,” ujarnya.

Bahan makanan siap saji juga diprioritaskan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan TNI juga mengirimkan tim medis. Tim medis terdiri atas dokter, perawat, serta bantuan obat-obatan.

Modifikasi Cuaca

Selain fokus mempercepat penanganan korban bencana, pemerintah juga berencana menggelar operasi modifikasi cuaca. Itu dilakukan untuk mengurangi curah hujan dan mengantisipasi bencana susulan.  ”Sudah mulai bisa diterbangkan untuk mengurangi curah hujan di daratan, sehingga nanti curah hujan kita bawa ke lautan,” papar Pratikno.

Siklon Tropis Senyar penyebab hujan ekstrem di wilayah Sumatera, kata Pratikno,  sudah mulai mereda. Meski begitu, dia meminta warga tetap waspada, apalagi di wilayah utara sudah ada Siklon Tropis Koto.

Sama seperti Siklon Senyar, Siklon Koto ini berpotensi memengaruhi cuaca di wilayah Aceh dan Sumut. Siklon itu memicu curah hujan ekstrem disertai dengan angin kencang.

 

BLTS Tetap Disalurkan

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf memastikan penyaluran bantuan lansung tunai sementara (BLTS) ditunda terlebih dahulu, khususnya bagi penyaluran tahap II melalui PT Pos.  ”Menyesuaikan situasi dan kondisi ya di daerah bencana. Jadi dengan cara-cara yang memungkinkan nanti PT Pos akan melakukan penyaluran,” ungkapnya

Tak menutup kemungkinan, penyaluran dilakukan di tempat pengungsian atau di tempat-tempat yang bisa dijangkau oleh PT POS maupun oleh penerima manfaat. Yang jelas, penyaluran akan dilakukan kembali setelah kondisi lebih terkendali. (mia/bry/ted/val/den/aph)

Editor : Hanif
#sumbar #aceh #sumatera #pemerintah #sumut #banjir #Tanggap Darurat