Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Jalur Transportasi Masih Lumpuh , Banjir Sumatera Mulai Surut

Aristono Edi Kiswantoro • Minggu, 30 November 2025 | 20:26 WIB

 

Warga berjalan melintasi sungai dengan jembatan darurat di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Sabtu (29/11).
Warga berjalan melintasi sungai dengan jembatan darurat di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Sabtu (29/11).
 

 

Banjir bandang dan longsor akibat hujan ekstrem telah melumpuhkan sebagian besar wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Merenggut nyawa puluhan jiwa dan memaksa ribuan keluarga meninggalkan rumah. Seluruh lini kini bahu-membahu memberikan pertolongan dan bantuan pascabencana.

BANJIR besar yang melanda Kota Medan Kamis (27/11) lalu mulai surut di sebagian besar wilayah. Sebanyak 19 kecamatan di antara 21 kecamatan terendam. Hanya Kecamatan Medan Perjuangan dan Medan Area yang aman dari banjir.

’’Tetapi, alhamdulillah, saat ini banjir tersisa di wilayah Medan Utara saja,’’ kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan, Yunita Sari, kemarin (29/11).

Wilayah di Medan Utara yang masih terendam itu meliputi Medan Marelan, Medan Labuhan, Medan Belawan, dan Medan Deli.

Yunita menyampaikan, pihaknya baru saja selesai memutakhirkan data dampak banjir karena tim BPBD sebelumnya memprioritaskan evakuasi atau pertolongan kepada warga.

’’Di 19 kecamatan itu, total 7.402 rumah rusak dan 29.364 jiwa atau 9.225 kepala keluarga (KK) terdampak. Data tersebut baru bisa kami update kemarin (Jumat, 28/11) petang. Sebab, seluruh petugas kami berjibaku di lapangan untuk evakuasi,’’ ujarnya.

Dia melanjutkan, total 645 warga telah dievakuasi dari rumah mereka yang terendam cukup dalam. Evakuasi berlangsung terus-menerus sejak Kamis (27/11) hingga Jumat (28/11) malam. ’’Data itu akan terus kami update sampai banjir benar-benar selesai,’’ tegasnya.

Yunita menjelaskan, tidak semua warga yang terjebak banjir bisa segera dievakuasi. Pasalnya, permintaan evakuasi terbilang sangat tinggi. Sementara jumlah anggota tim dan peralatan cukup terbatas.

’’Medannya juga tidak semua bisa dijangkau dengan cepat. Kami bersama basarnas, pemerintah kecamatan dan kelurahan, serta rekan-rekan TNI-Polri terus melakukan evakuasi 24 jam sehari. Tidak berhenti. Banyak personel yang kelelahan. Tetapi, mereka terus bekerja,’’ ungkapnya.

Dia mengungkapkan, total ada 1.839 jiwa yang mengungsi saat banjir. Namun, saat ini sebagian besar di antara mereka sudah kembali ke rumah masing-masing karena banjir telah surut. Kebanyakan warga mengungsi di masjid hingga kantor kecamatan dan kelurahan.

’’Tinggal yang di Medan Utara. Masih cukup banyak yang mengungsi karena rumah-rumah di sana masih terendam,’’ ungkapnya.

 

Padang–Bukittinggi Putus

Jalur utama Padang–Bukittinggi, Sumatera Barat (Sumbar), terputus akibat banjir bandang, baik melalui Lembah Anai maupun Malalak. Arus lalu lintas di kawasan Sitinjau Lauik pun meningkat drastis. Pemprov Sumbar memberlakukan pengalihan jam operasional bagi sejumlah angkutan barang yang melintasi ruas itu.

Padang Ekspres (jaringan Pontianak Post) melaporkan, keputusan yang dituangkan dalam SE Gubernur Sumbar Nomor 550/1085/DISHUB-SB/XI/2025 tersebut berlaku sejak kemarin (29/11) pukul 06.00. Sasaran utamanya adalah kendaraan yang mengangkut komoditas tertentu. Di antaranya, batu bara, crude palm oil (CPO), semen, sirtukil (pasir, batu, kerikil), dan bahan bangunan lain. Kendaraan-kendaraan tersebut hanya diperbolehkan beroperasi pukul 20.00–06.00.

Demi menjaga stabilitas pasokan energi dan kebutuhan pokok masyarakat, kendaraan pengangkut BBM dan sembako tidak termasuk yang dibatasi. Pembatasan itu bertujuan untuk menjaga kelancaran arus lalu lintas, keselamatan pengguna jalan, serta mencegah kemacetan di ruas Sitinjau Lauik.

 

Krisis Air Bersih

Banjir di Provinsi Aceh juga mulai surut di sebagian wilayah. Sejumlah warga mulai mengalami kekurangan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Di Lhokseumawe, misalnya, pemkot bergerak cepat mengatasi krisis air bersih di empat kecamatan setelah banjir surut. ’’Kami sedang mendistribusikan air bersih dari PDAM ke sejumlah gampong (kelurahan). Kami ingin memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi,’’ tegas Wali Kota Lhokseumawe Sayuti Abubakar kepada Rakyat Aceh kemarin (29/11).

Hingga kemarin, genangan masih terjadi di Kecamatan Banda Sakti, Muara Dua, Blang Mangat, dan Muara Satu.

Sayuti pun mengimbau para camat dan keuchik (kepala gampong) di 68 gampong terus menjalin koordinasi posko utama penanganan banjir yang berpusat di kantor wali kota. (map/cc1/arm/ra/rif/dri)

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#sumatera barat #aceh #sumatera #sumatera utara #banjir