Hari kedua menjelajah Melaka, rombongan kami berkunjung ke Ayer Keroh. Dari Malaysia Heritage Studios, kebun binatang, hingga taman rekreasi air. Kunjungan kemudian ditutup dengan berendam di Gadek Hot Spring, tempat terbaik melepas lelah setelah seharian berwisata.
IDIL AQSA AKBARY, Melaka
SEJAK matahari baru merangkak naik, Rabu (26/11), semangat kami sudah penuh, seolah Melaka memanggil untuk segera dijelajahi dari satu sudut ke sudut lainnya. Usai sarapan di hotel, rombongan langsung bergerak menuju kawasan Ayer Keroh untuk mengunjungi Malaysia Heritage Studios. Salah satu destinasi wisata budaya modern yang menjadi salah satu andalan Melaka. Dari pusat kota, waktu tempuh ke lokasi ini hanya sekitar 15 menit.
Begitu tiba, dan melewati pintu masuk, pengunjung disambut deretan patung lilin artis Hollywood dengan kemiripan mencolok. Brad Pitt dan Angelina Jolie langsung mencuri perhatian dengan mengenakan pakaian tradisional Melayu. Ada pula sosok Rowan Atkinson yang populer lewat karakter Mr. Bean. Tiket masuk untuk wisatawan mancanegara dipatok 81 ringgit untuk dewasa, dan 63 ringgit untuk anak-anak.
Malaysia Heritage Studios menghadirkan konsep serupa Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta. Di sana, rumah-rumah adat dari 13 negara bagian Malaysia, mulai dari Johor, Kedah, Kelantan, Melaka, Negeri Sembilan, Pahang, Perak, Perlis, Pulau Pinang, Sabah, Sarawak, Selangor, hingga Terengganu. Semua ditampilkan dengan ragam tema dan wahana.
Malaysia Heritage Studios mulai dibangun sejak 1980-an, namun mengalami pembaruan besar pada 2020 sehingga tampil jauh lebih modern dan interaktif. Meski tampilan luarnya tradisional, bagian dalam rumah justru menampilkan pameran kreatif, hingga teknologi modern.
Di Rumah Perlis, misalnya, pengunjung dapat menemukan manekin raksasa yang dapat diputar seperti kotak musik, memperlihatkan busana-busana khas Malaysia. Salah satu spot yang juga menarik adalah Rumah Johor, yang cukup dikenal luas di Indonesia karena menjadi inspirasi rumah Opah dalam serial animasi Upin & Ipin.
“Inilah rumah Upin-Ipin, rumah Opah itu adalah rumah khas Johor,” jelas pemandu wisata yang membawa kami berkeliling. Rumah itu menampilkan tema house of festive, memperkenalkan berbagai perayaan budaya Malaysia mulai dari pernikahan Melayu, Tahun Baru Cina, hingga Deepavali.
Tak jauh dari area rumah adat, pengunjung dapat menyaksikan pertunjukan tarian, musik, hingga ikut menari bersama di panggung terbuka. Wahana yang juga tak kalah menarik perhatian di sana adalah Immortal Maze. Sebuah labirin besar berisi teka-teki untuk menemukan jalan keluar. Di dalamnya, dipasang replika makhluk-makhluk legenda atau hikayat Malaysia, seperti Naga Tasik Chini, Gajah Mina, Semberani sang kuda terbang, dan lainnya.
Usai berkeliling di Malaysia Heritage Studios, kami kemudian diajak makan siang di Restoran Zahrin Asam Pedas. Asam pedas ternyata juga menjadi salah satu kuliner khas Melaka yang memiliki cita rasa berbeda dibandingkan asam pedas Pontianak. Dagingnya lembut, kuahnya tebal, dan rempahnya terasa kuat.
Usai santap siang, perjalanan dilanjutkan ke Zoo & Taman Burung Melaka, kebun binatang seluas 54 hektare. Mengelilinginya dengan buggy car membutuhkan waktu 20–30 menit. Koleksi satwanya lengkap mulai dari zebra, jerapah, singa, harimau, rusa, gajah, badak, unta, berbagai primata, dan fauna lainnya. Ada pula sun bear atau beruang madu yang menjadi maskot Visit Malaysia 2026 – Truly Asia. Di sana, pengunjung juga dapat memberi makan hewan jinak di beberapa titik interaksi.
Destinasi berikutnya ialah Melaka Wonderland Theme Park & Resort, taman rekreasi air yang berada di tengah kawasan hijau Ayer Keroh. Wahana populernya antara lain Tornado Chute, Kamikaze Racer, hingga Lazy River yang cocok dinikmati seluruh anggota keluarga. Tempat ini menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan yang ingin menikmati hiburan outdoor setelah berkeliling kota.
Tak jauh dari taman rekreasi, terdapat pusat oleh-oleh di depan kawasan Melaka Botanical Garden. Di sini wisatawan bisa memborong camilan lokal, kerajinan tangan, gantungan kunci, magnet kulkas, hingga berbagai produk bertema Melaka dengan harga terjangkau.
Menjelang malam, rombongan kami menuju Gadek Hot Spring Wellness & Spa Resort di Alor Gajah, sekitar 25 kilometer dari pusat kota. Tempat ini merupakan kawasan pemandian air panas alami yang telah dikelola sejak masa kolonial Inggris. Lalu telah dibangun ulang secara modern dan baru saja diresmikan pada Januari 2025.
Tiket masuk untuk nonwarga Malaysia berkisar 17–27 ringgit, tergantung usia dan hari kunjungan. Kawasan ini buka pukul 07.00–00.00 pada Selasa–Kamis, dan 07.00–03.00 pada Jumat–Minggu. Senin tutup.
Di tengah area terdapat kolam air panas utama, dikelilingi kolam-kolam kecil berbentuk jacuzzi. Suhu air di sana bisa mencapai 56 derajat celcius. Kandungan sulfur dan hidrogen sulfida di dalam air dipercaya bermanfaat untuk kesehatan kulit, sendi, dan melancarkan peredaran darah. Fasilitas di sana juga lengkap. Ada 20 kamar hotel dan delapan villa dengan kolam air panas privat, serta ada spa dan restoran.
Perjalanan di hari itu seolah merangkum wajah Melaka yang tak pernah berhenti bergerak antara sejarah, budaya, dan modernitas. Dari rumah-rumah adat yang bercerita tentang akar negeri, kebun binatang yang hidup oleh ragam satwa, hingga wahana air, dan pemandian panas yang menawarkan jeda di tengah hiruk-pikuk wisata.
Ketika malam turun dan uap hangat dari kolam Gadek Hot Spring menyelimuti tubuh, rasa lelah perlahan larut. Yang tersisa hanyalah kesadaran bahwa Melaka bukan sekadar destinasi, melainkan pengalaman yang meresap pelan, meninggalkan jejak yang membuat siapa pun ingin kembali.*
Editor : Aristono Edi Kiswantoro