Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Bantuan Pangan untuk Aceh Tertunda, Distribusi Terhambat Banjir dan Longsor

Hanif PP • Jumat, 5 Desember 2025 | 10:12 WIB

 

Sekitar 70 persen wilayah terdampak lainnya masih belum tersentuh akibat dari terputusnya jalur penghubung.
Sekitar 70 persen wilayah terdampak lainnya masih belum tersentuh akibat dari terputusnya jalur penghubung.

PONTIANAK POST – Badan Pangan Nasional (Bapanas) siap mengguyur beras sebanyak 14 ribu ton ke daerah bencana di Aceh. Namun, proses distribusi tidak mudah. Sebab, masih banyak akses yang terputus akibat banjir dan tanah longsor yang terjadi pada akhir November lalu. 

Stok beras untuk Aceh itu dipaparkan Deputi III Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas Andriko Noto Susanto dalam rapat koordinasi di Posko Tanggap Darurat Bencana Aceh, Rabu (3/12). Menurut Andriko, total ketersediaan beras untuk Aceh saat ini mencapai 14.721,29 ton, termasuk bantuan pangan dua bulan (Oktober–November) yang disalurkan sekaligus sebanyak 12.495,12 ton, serta tambahan minyak goreng sebanyak 2.449.024 liter.

Sesuai instruksi Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian, seluruhnya harus segera disalurkan. “Di Aceh baru terealisasi 24 persen karena ada hambatan distribusi. Mudah-mudahan kendala ini bisa kita selesaikan sehingga seluruh bantuan bisa diterima. Target penerimanya mengacu pada data titik sebar dari Kementerian Sosial,” ujarnya kepada Harian Rakyat Aceh.

Andriko menerangkan, pihaknya juga telah menyetujui usulan bantuan sebesar 1.797,88 ton, yang akan ditambah hingga mencapai 3.000 ton. "Jadi perintahnya Pak Menteri jika dibutuhkan, diusulkan lagi Pak. Baik melalui Bupati atau Gubernur," terangnya.

Ia menjelaskan, untuk setiap tiga titik wilayah dialokasikan sekitar 10.000 ton. Dengan alokasi 3.000 ton saat ini, masih ada sekitar 7.000 ton yang dapat digunakan untuk kebutuhan tanggap darurat selama 14 hari. Jika jumlah tersebut masih belum mencukupi, pemerintah memperbolehkan pengajuan tambahan secara bertahap.

Andriko menambahkan, Aceh juga memiliki Cadangan Pangan Pemerintah Aceh (CPP) sebanyak 187,10 ton, ditambah cadangan kabupaten/kota sebesar 241,19 ton, sehingga totalnya sekitar 428 ton. Beras sebanyak itu disimpan di Bulog. “Realisasinya saat ini baru sekitar 20 ton, sehingga belum bisa didorong lebih jauh. Cadangan pangan pemerintah daerah itu sebenarnya berupa barang yang dititipkan pemprov dan pemkab di Bulog, dan bisa diminta sewaktu-waktu, tidak hanya untuk bencana,” ujar Andriko.

Ia juga mendorong agar alokasi 1.797,88 ton untuk bencana alam yang telah disetujui diharapkan dapat direalisasikan. Menurut dia, mekanisme penyaluran akan dilakukan berdasarkan permintaan resmi dari Gubernur Aceh, kemudian didistribusikan melalui BPBA hingga BPBD kabupaten/kota.

“Intinya harus ada penugasan agar prosesnya cepat. Kami juga sudah mengonfirmasi ke direktur operasional supaya seluruh jajaran Bulog dalam posisi siaga. Hambatannya saat ini memang pada akses distribusi,” kata dia.

Andriko juga melaporkan bahwa Kementerian Pertanian dan Bapanas telah mengumpulkan donasi sekitar Rp 80 miliar yang akan dikirimkan ke Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara untuk mendukung penanganan bencana. “Informasinya mulai Kamis bantuan non-beras akan dikirim melalui laut dari Lhokseumawe. Karena beras tetap dari Bulog. Sesuai arahan Presiden, jangan ada hambatan terkait pangan karena ini kebutuhan paling mendesak,” ujarnya.

 

 

Bantah Isu Temuan Mayat Satu Truk

Pemerintah Aceh menegaskan bahwa kabar mengenai temuan mayat hingga satu truk di Aceh Tamiang belum terverifikasi. Masyarakat diminta tidak menyebarkan informasi yang tidak jelas sumbernya.

Sekda Aceh M. Nasir menekankan pentingnya merujuk pada data resmi agar tidak menimbulkan kepanikan di tengah penanganan bencana yang masih berlangsung. Nasir menyatakan bahwa hingga Rabu (3/12), pemerintah tidak menerima laporan temuan jenazah dalam jumlah besar seperti yang ramai beredar di media sosial. Ia mengingatkan bahwa informasi semacam itu dapat memperburuk kondisi psikologis warga yang sudah terdampak bencana. “Itu berita yang belum teridentifikasi. Kita harus menenangkan masyarakat,” ujar Nasir kepada Harian Rakyat Aceh.

Ia menjelaskan, laporan yang diterima pemerintah dari Wakil Menteri Sosial yang sedang berada di Aceh Tamiang menunjukkan bahwa situasi di wilayah kota relatif terkendali. Proses evakuasi korban di sejumlah titik masih berlangsung. “Memang ada beberapa temuan mayat, dan itu sudah dievakuasi. Jumlah pastinya belum bisa kita sampaikan karena kita terus mengupdate data. Untuk seluruh Aceh saat ini ada 305 korban meninggal dunia,” jelasnya.

Terkait penanganan logistik di Aceh Tamiang, Nasir menyebut situasinya kini lebih baik setelah bantuan dari Kementerian Sosial berhasil masuk melalui jalur darat dari Sumatera Utara. Menurutnya, wilayah tersebut sempat berada dalam kondisi “SOS”, sehingga perlu segera dikirim bantuan logistik.

 

BPKH Salurkan Bantuan Rp 3 M

Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) bergerak cepat merespons musibah banjir dan tanah longsor di Pulau Sumatera. Mereka menyalurkan bantuan program tanggap bencana sebesar Rp 3.029.100.000. Bantuan itu bersumber dari nilai manfaat Dana Abadi Umat (DAU) yang dikelola oleh BPKH. Dana tersebut memang diperuntukkan kegiatan kemaslahatan, termasuk penanggulangan bencana. Distribusi bantuan difokuskan pada titik-titik pengungsian dan wilayah terdampak parah di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.

Kepala Badan Pelaksana BPKH Fadlul Imansyah menyampaikan, bantuan itu merupakan amanah dari umat yang harus segera dirasakan manfaatnya oleh korban bencana. ’’Di saat yang berat ini, BPKH hadir untuk memastikan bahwa nilai manfaat Dana Abadi Umat benar-benar mewujud dalam kemaslahatan nyata. Bantuan ini bukan sekadar materi, melainkan pesan solidaritas dari jutaan jamaah haji dan masyarakat Indonesia bahwa saudara-saudara kita di Sumatera tidak sendirian dalam menghadapi ujian ini," ujar Fadlul Imansyah.

Bantuan senilai lebih dari Rp 3 miliar tersebut dialokasikan dalam berbagai bentuk logistik. Antara lain, paket sembako keluarga, hygiene kit, selimut dan alas tidur, kebutuhan khusus ibu dan bayi, peralatan kebersihan, serta logistik pendukung lainnya.

Anggota Badan Pelaksana BPKH Sulistyowati menjelaskan teknis penyaluran bantuan tersebut. Ia menekankan pentingnya sinergi dan kecepatan dalam distribusi agar bantuan tepat sasaran dan tepat waktu. "BPKH bekerja sama dengan berbagai mitra kemaslahatan dan pemerintah daerah setempat untuk memastikan distribusi berjalan lancar. Harapan kami, bantuan ini dapat sedikit meringankan beban, menjadi penyemangat, dan membantu proses pemulihan agar masyarakat dapat segera bangkit kembali," jelas Sulistyowati. (sep/raf/oni)

Editor : Hanif
#longsor #Distribusi terhambat #aceh #bantuan pangan #banjir