PONTIANAK POST – Pemerintah pusat boleh bersikeras tidak menjadikan bencana di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), dan Sumatera Barat (Sumbar) sebagai Bencana Nasional yang membuat bantuan luar negeri sulit masuk. Namun, pemerintah daerah terdampak memilih sebaliknya.
Setelah Pemerintah Aceh mempersilakan lima relawan Tiongkok membantu mencari jenazah yang masih tertimbun, kemarin (12/12) Pemerintah Kota Padang, Sumbar, menerima bantuan logistik dari Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) Shaima Al Hebsi di Kantor Camat Koto Tangah, Padang. Al Hebsi menyampaikan bahwa masyarakat dan Pemerintah UEA turut merasakan duka mendalam atas musibah yang menimpa warga Kota Padang serta Provinsi Sumbar, Sumut, dan Aceh.
Ia menambahkan bahwa pengiriman bantuan tersebut sekaligus menunjukkan hubungan erat antara Pemerintah Indonesia dan UEA. “Melalui Palang Merah UEA, kami menyalurkan bantuan kepada korban bencana alam di Kota Padang. Kami juga akan melihat langkah berikutnya untuk meringankan beban masyarakat terdampak,” katanya, seperti dikutip dari Padang Ekspres kemarin.
Sementara itu, Wali Kota Padang Fadly Amran berterima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan Pemerintah UEA. “Kami merasa terhormat atas perhatian dari Pemerintah UEA. Bantuan ini akan segera didistribusikan kepada masyarakat terdampak. Alhamdulillah, Bapak Presiden Prabowo Subianto pun memberikan dukungan yang luar biasa,” ungkap Fadly.
Di Medan, Sumut, anggota Komisi D DPRD Sumut Mangapul Purba menyoroti minimnya ketersediaan alat berat untuk mempercepat proses pemulihan pascabencana di sejumlah daerah di Sumut. “Jumlah alat dari PUPR Sumut, saya yakin tidak mencukupi,” ujar Mangapul saat memberikan keterangannya kepada Sumut Pos kemarin (12/12).
Mangapul mendorong Pemerintah Provinsi Sumut untuk mengambil langkah strategis, termasuk menambah jumlah alat berat melalui berbagai skema. Menurutnya, alternatif seperti menyewa alat, menerima dukungan donasi, atau opsi teknis lainnya harus segera dipertimbangkan agar penanganan bencana tidak terhambat.
Tenda Oranye–Putih
Di Aceh Tamiang, sejak Rabu (10/12) atau dua hari sebelum kedatangan Presiden Prabowo Subianto kemarin, tenda-tenda Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendominasi di berbagai sudut jalan dan sejumlah desa. Padahal, sampai Selasa (9/12), yang mencolok adalah tenda-tenda darurat yang mayoritas didirikan sendiri oleh warga.
Misalnya di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. Pantauan Rakyat Aceh pada Selasa (9/12), terpal dan kayu sisa banjir menjadi bahan utama pembuatan tenda darurat warga. Namun, situasi tersebut berubah sejak Rabu (10/12).
Tenda berwarna oranye dan putih bertuliskan BNPB mulai terlihat di berbagai titik. Pemasangan itu dilakukan dua pekan setelah banjir melanda kawasan tersebut.
Chandra, warga Desa Tanjung Karang, mengatakan bahwa warga sebelumnya hanya mengandalkan tenda seadanya. “Dari kemarin (11/12) sampai hari ini (12/12), sudah banyak tenda itu terpasang. Sebelumnya warga buat sendiri tenda,” ujarnya.
BNPB membantah pemasangan tenda dikaitkan dengan agenda kunjungan Presiden. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan bahwa distribusi logistik baru berjalan maksimal setelah akses Medan–Aceh Tamiang terbuka pada 6 Desember 2025.
Dalam sepekan terakhir, lanjutnya, BNPB telah mengirim 30 tenda pleton (TP) dan 1.000 tenda keluarga (TK). Dari jumlah itu, 8 TP dan 664 TK sudah berdiri sejak 9 Desember. “Pembangunan tenda dilakukan siang dan malam. Narasi bahwa ini untuk kunjungan Presiden tidak benar,” kata Abdul Muhari.
Tidak Punya “Tongkat Musa”
Seusai lawatan ke Pakistan dan Rusia, Presiden Prabowo Subianto kembali mengunjungi kawasan bencana Sumatera. Kemarin (12/12), ada beberapa titik yang dikunjunginya. Dalam kunjungan ke Posko Pengungsian Jembatan Aceh Tamiang, ia sempat meminta maaf jika ada yang kurang maksimal dalam penanganan pascabencana.
“Saya meminta maaf. Presiden Indonesia tidak punya tongkat (Nabi) Musa, tapi kita akan bekerja keras mengatasi dan membantu saudara-saudara,” katanya.
Soal listrik, misalnya, Prabowo menyadari bahwa listrik di wilayah itu belum menyala dengan baik. Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadia pada rapat terbatas yang diselenggarakan pada Senin lalu (8/12) menyatakan bahwa 97 persen listrik di Aceh menyala.
Namun, nyatanya banyak daerah yang masih gelap. “Keadaannya sulit, jadi kita atasi bersama,” imbuhnya.
Prabowo juga mengunjungi lokasi pengungsian di SMP Negeri 2 Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah, Aceh. Di hadapan ribuan pengungsi, Presiden Prabowo menegaskan bahwa kedatangannya bukan sekadar seremoni, melainkan untuk melihat sendiri kondisi lapangan yang sesungguhnya.
Ia memastikan seluruh fasilitas vital yang rusak akan dipulihkan. “Semua jembatan yang rusak akan kita bangun. Jalan-jalan yang longsor akan kita tembus. Listrik akan kita hidupkan kembali. Segala kekurangan akan kita atasi bersama,” katanya. (hrs/fir/uri/lyn/wan/ttg).
Editor : Hanif