Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Dompet Ummat dan Pontianak Post Dirikan Dapur Umum untuk Korban Banjir di Aceh Tamiang

Marsita Riandini • Jumat, 19 Desember 2025 | 10:07 WIB

 

DAPUR UMUM: Dompet Ummat membangun dapur umum untuk membantu masyarakat terdampak banjir dan tanah longsor di Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh.
DAPUR UMUM: Dompet Ummat membangun dapur umum untuk membantu masyarakat terdampak banjir dan tanah longsor di Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh.

PONTIANAK POST - Dompet Ummat bekerja sama dengan Pontianak Post mendirikan dapur umum untuk membantu masyarakat terdampak banjir dan tanah longsor di  Tanjung Karang Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Kehadiran dapur ini bermanfaat untuk 1.020 jiwa yang terdampak. Untuk mendukung operasional dapur umum, telah disalurkan bantuan berupa beras 250 kilogram, minyak goreng 50 kilogram, sarden 50 kaleng, mi telur 50 bungkus, dan air mineral 72 botol.

Rino, Ketua Relawan Kebaikan Dompet Ummat Bagian Kebencanaan, mengatakan banjir dan tanah longsor menyebabkan banyak warga kehilangan akses memasak, sementara mereka membutuhkan dukungan makanan harian. Oleh karena itu, keberadaan dapur umum menjadi penting untuk pemenuhan kebutuhan tersebut.

Setelah berkoordinasi dan menentukan lokasi pembangunan dapur umum, tim juga menggandeng warga setempat untuk bergotong-royong memasak. Ikan sarden kaleng  dan sayur kol sebagai menu hari pertama. "Dapur umum Dompet Ummat ini selama dua hari. Logistiknya kami suplai satu hari untuk keperluan selama dua hari," ujarnya saat dihubungi dari Pontianak, Kamis (18/12).

Menurutnya, suplai bahan pokok menjadi tantangan tersendiri. Ketersediaan bahan pokok di Aceh Tamiang sangat terbatas. Begitu juga wilayah terdekatnya, Kota Langsa. Relawan harus pergi ke Medan, menempuh perjalanan lebih kurang tiga jam untuk mendapatkan bahan baku. "Kami kesulitan untuk mendapatkan barang pokok. Karena kami belanjanya ke Medan, yang jaraknya tiga jam dari Aceh Tamiang,” ujarnya.

Pascabencana ini, Aceh Tamiang juga mengalami krisis air bersih.  Selain logistik, ketersediaan air bersih untuk kebutuhan dapur umum terbatas. Relawan Dompet Ummat harus membeli air bersih di daerah Sibolangit, Medan dengan harga yang tidak murah. Satu tangki berkapasitas tujuh ribu liter dibeli dengan harga Rp.3 juta.

"Kalau hari-hari biasa, harga satu tangki itu hanya Rp 1,5 juta," ucap Rino. Ia mengatakan, selama delapan hari berada di Aceh Tamiang, baru pada Kamis (18/12) ada sinyal jaringan internet meskipun belum stabil (hilang timbul). "Hari-hari sebelumnya, tidak ada sinyal. Kata warga ini pun belum tentu bertahan lama. Jadi, nanti malam kami mau membuka layanan internet gratis pakai tenaga genset," ujarnya.

Warga dan relawan juga menggunakan penerangan seadanya. Tidur pun berpindah-pindah. Kadang di masjid dan ada kalanya di mobil. "Penerangan pakai lilin, bahkan ada yang bakar sampah untuk bantu penerangan," pungkasnya.(mrd)

 

Editor : Hanif
#dompet ummat #bantuan #aceh tamiang #pontianak post #dapur umum #logistik #korban banjir