Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Film Dokumenter Tambang Emas Ra Ritek Menang FFI 2025, Bukti Isu Lingkungan Didengar

Hanif PP • Senin, 22 Desember 2025 | 10:13 WIB
PROSES PANJANG: Wahyu AO (kiri) dan Alvina NA di FFI 2025 yang berlangsung di Teater Jakarta, TIM (20/12).
PROSES PANJANG: Wahyu AO (kiri) dan Alvina NA di FFI 2025 yang berlangsung di Teater Jakarta, TIM (20/12).

Di balik keberhasilan “Tambang Emas Ra Ritek” meraih Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2025 sebagai Film Dokumenter Panjang Terbaik, terdapat kerja panjang, riset mendalam, serta perjuangan para kreator muda Trenggalek dengan berbagai keterbatasan. Kemenangan yang  memperlihatkan keberanian warga dalam mempertahankan ruang hidup.

ZAKI JAZAI, Trenggalek

TEPUK tangan yang tak terlalu terdengar dari hadirin di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, itu seperti mengafirmasi pesimisme Wahyu Agung Prasetyo atau yang akrab disapa Wahyu AO. Persisnya saat film yang dia produseri, Tambang Emas Ra Ritek, disebut dalam daftar nominasi kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik Festival Film Indonesia 2025.

Wahyu pesimistis film yang menceritakan penolakan warga—ra ritek dalam dialek Trenggalek, Jawa Timur, berarti tidak usah atau tidak butuh—terhadap tambang emas itu bakal menang. Tapi, sejurus kemudian ketidakyakinan itu terbantahkan.

Film yang disutradarai Alvina NA tersebut memenangi Piala Citra pada perhelatan yang berlangsung 20 November lalu itu. “Kami tidak menyangka bisa meraih Piala Citra. Persaingan tahun ini sangat ketat dan film lain pun tidak kalah bagusnya. Tapi, mungkin ini saatnya isu lingkungan didengar lebih luas,” ujar Wahyu kepada Radar Trenggalek Grup Jawa Pos akhir November lalu.

Piala Citra itu merupakan buah dari proses panjang anak-anak muda Trenggalek yang terlibat di dalamnya. Penolakan terhadap tambang, sebagai alasan di balik pembuatan dokumenter tersebut, bahkan berumur lebih panjang lagi.

Pada 2012, misalnya, warga Desa Dukuh, Kecamatan Watulimo, sudah pernah berdemonstrasi di DPRD Trenggalek untuk menegaskan bahwa tambang emas ra ritek. Pada 2021, mengutip Radar Tulungagung Grup Jawa Pos (15/3/2021), Papang Wida Kristianto membuat petisi tolak tambang emas di change.org.

Penolakan atas eksploitasi tambang emas yang dimaksud berkaitan dengan izin usaha penambangan pada tahap operasi produksi oleh PT Sumber Mineral Nusantara (SMN). Berdasarkan laman Minerba One Data Indonesia Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, izin eksploitasi itu berlaku untuk lahan seluas 12.813 hektare di Kabupaten Trenggalek.

Secara keseluruhan, dari total 14 kecamatan di Trenggalek, 12 di antaranya memiliki potensi tambang. Menurut Alvina, sejak nobar perdana “Tambang Emas Ra Ritek” pada 29 Mei 2025, banyak warga yang jadi lebih memahami tentang kronologi perizinan eksplorasi hingga eksploitasi tambang emas.

“Syukurlah, berkat film ini masyarakat juga jadi semakin sadar tentang pentingnya menjaga lingkungan dari ancaman tambang emas,” kata Alvina.

 

Tantangan Klasik

Alvina merupakan jebolan Sekolah JATAM (Jaringan Advokasi Tambang) 2024. “Tambang Emas Ra Ritek” merupakan tindak lanjut dari program tersebut. Gagasan awalnya lahir dari keinginan merekam penolakan warga terhadap tambang emas secara utuh, dari hulu ke hilir.

“Ide ini lahir karena kami ingin menyampaikan alasan mengapa warga Trenggalek tidak membutuhkan tambang emas,” ujarnya.

Kerja sunyi, demikian mereka yang terlibat penggarapan menyebut proses pembuatan “Tambang Emas Ra Ritek”, sudah dimulai sejak lama. Riset, misalnya. Sejak 2021, Wahyu telah menulis artikel dan laporan mengenai tambang emas di media lokal. Tulisan-tulisan tersebut kemudian bertransformasi menjadi pondasi data film.

Tantangan terbesar justru muncul dari hal-hal klasik seperti waktu, peralatan, keterbatasan kru, serta minimnya dana. Meski demikian, dukungan JATAM dan warga Trenggalek melalui penjualan kaus serta zine membantu menutup kebutuhan produksi hingga nobar di 14 kecamatan.

Sinematografer sekaligus editor Jati Pramudya Darmastuti menyebut, konsep visual film itu merupakan hasil penerjemahan naskah riset dan suara warga. “Kami menggunakan perpaduan arsip, video lapangan, hingga animasi kolase untuk memperjelas kronologi eksplorasi dan eksploitasi. Teknik multikamera kami gunakan untuk mempercepat pengumpulan materi,” paparnya.

Produksi dokumenter ini juga melibatkan Thalia Silfiana sebagai videografer dan desainer poster serta Beni Kusuma Wardani selaku videografer dan editor. Selain itu, Melky Nahardari dan Imam Shofwan dari JATAM terlibat sebagai produser eksekutif.

Aral lainnya adalah masa produksi yang singkat, sementara lokasi syuting tersebar. Penentuan jadwal warga serta kondisi cuaca turut menyulitkan. Kolaborasi kru dilakukan secara egaliter. Semua bekerja dalam ruang bebas-aktif, saling belajar, dan mengutamakan inklusivitas.

Perangkat yang digunakan pun sederhana: komputer, laptop, tablet, penyimpanan eksternal, dan koneksi internet. “Yang paling penting tetap tubuh yang sehat,” selorohnya.

 

Apresiasi untuk Warga

Kemenangan “Tambang Emas Ra Ritek”, menurut Alvina, merupakan apresiasi bagi perjuangan warga Trenggalek. Film tersebut menjadi arsip, pengingat, sekaligus penyambung solidaritas warga di seluruh Indonesia.

“Ada pesan keberanian warga mempertahankan ruang hidup dalam film dokumenter ini. Warga bisa melawan perusakan lingkungan bahkan sebelum tambang beroperasi. Tulisan, foto, video, dan film semua bisa jadi alat perjuangan,” katanya.

Sebab, persoalan tambang bukan hanya terjadi di Trenggalek, tapi juga di banyak daerah lain. “Kalau Trenggalek bisa bangkit mempertahankan alamnya, daerah lain pun bisa,” ujar Wahyu. (*/rka/ttg)

Editor : Hanif
#tambang emas ra ritek #kreator muda #film dokumenter #trenggalek #piala citra ffi 2025