Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Ubah Limbah jadi Cuan, Kilang Pertamina Internasional Gandeng Mitra Asing Kembangkan Teknologi WSA

Aristono Edi Kiswantoro • Rabu, 24 Desember 2025 | 14:11 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi
PONTIANAK POST — Di tengah tekanan global menuju dekarbonisasi dan efisiensi energi, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) mulai mengubah tantangan emisi menjadi peluang bisnis.

 Anak usaha Pertamina ini menggandeng tiga mitra internasional untuk mengembangkan teknologi Wet Gas Sulphuric Acid (WSA) yang mampu mengonversi gas buang kilang menjadi asam sulfat bernilai komersial tinggi.

Kerja sama tersebut dituangkan dalam penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara KPI dengan SumiSaujana TCM Chemicals dan SPCI HELM asal Malaysia, serta Topsoe A/S dari Denmark, yang berlangsung di Grha Pertamina, Jakarta, Jumat (19/12/2025).

Direktur Utama KPI Taufik Aditiyawarman menegaskan, proyek WSA menjadi jawaban atas dua tuntutan besar industri energi saat ini: menekan emisi sekaligus meningkatkan efisiensi operasional. 

Teknologi ini memungkinkan gas asam sisa proses kilang diolah kembali menjadi asam sulfat yang dibutuhkan luas oleh industri pupuk, kimia dasar, pertambangan, hingga petrokimia.

“Ini bukan hanya soal kepatuhan lingkungan, tapi juga menciptakan nilai tambah dari limbah. WSA mengubah beban emisi menjadi produk yang dibutuhkan industri,” kata Taufik.

Selain menghasilkan produk komersial, proses WSA juga memproduksi panas yang dapat dimanfaatkan kembali sebagai uap (steam).

Skema ini dinilai mampu menekan konsumsi energi sekaligus mengurangi emisi secara signifikan.

Proyek ini akan dikaji melalui skema Build-Own-Operate-Transfer (BOOT).

Dalam kerja sama tersebut, Topsoe bertindak sebagai penyedia teknologi, SPCI HELM sebagai calon pembeli (offtaker) asam sulfat, sementara SumiSaujana memimpin evaluasi teknis dan komersial.

KPI berperan menyediakan data operasional kilang serta memfasilitasi kajian kelayakan proyek.

CEO SumiSaujana Encik Norazlam Bin Norbi menyebut kerja sama ini sebagai langkah strategis untuk memperluas peran perusahaannya dari pemasok bahan kimia menjadi mitra solusi kilang terintegrasi di kawasan.

“Konversi gas asam menjadi produk bernilai tambah bukan hanya menguntungkan secara bisnis, tetapi juga meningkatkan kinerja lingkungan melalui pendekatan limbah menjadi nilai,” ujarnya.

Taufik menambahkan, inisiatif ini sejalan dengan strategi transisi energi Pertamina menuju Net Zero Emission 2060 serta penguatan penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

MoU ini akan menjadi dasar studi kelayakan lanjutan sebelum masuk ke tahap Heads of Agreement (HoA).

“Kolaborasi ini menunjukkan bahwa agenda dekarbonisasi bisa berjalan seiring dengan pengembangan bisnis yang berkelanjutan,” pungkasnya. (ars)

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#WSA #kilang #Pertamina #limbah