Di Segaran yang mayoritas penduduknya memeluk Kristen, suasana pada awal tahun baru atau sepekan setelah Natal tak ubahnya Lebaran: semua warga saling bertamu, saling menjamu, dan tak lupa menyiapkan angpau untuk para bocah. Pembagian bantuan untuk warga tidak mampu dalam kegiatan cinta kasih gereja juga tak memandang latar belakang agama.
ASAD M. S, Kabupaten Kediri
YANG di dalam Gereja Kristen Jawi Wetan, umat Kristiani dengan khidmat mengikuti misa malam Natal. Sedangkan yang di luar gereja yang berada di Desa Segaran, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, tersebut, para anggota Banser berjaga mengamankan jalannya peribadatan.
Di Desa Segaran, harmoni antarumat beragama seperti terlihat pada Kamis (24/12) malam lalu itu sudah menjadi napas keseharian. “Ini umat beragama lainnya juga diundang, tapi membaur. Gabung teman-teman Kristiani,” jelas Wakil Gereja Segaran Dwija Kristiyanta kepada Radar Kediri Grup Jawa Pos sembari menunjuk ke arah kerumunan orang.
Segaran yang masuk wilayah Kecamatan Wates berada di lereng Gunung Kelud. Dari total 2.012 jiwa penduduk desa tersebut, sekitar 1.900-an di antaranya merupakan pemeluk Kristen. “Muslim sekitar 90-an, Katolik ada belasan. Kalau Hindu lima dan Buddha tiga,” rinci Dwija yang juga Kepala Desa Segaran itu.
Rangkaian kegiatan Natal sudah berlangsung sejak 7 Desember. Di antaranya perjamuan kudus serta aksi Natal berupa pemberian bingkisan atau cinta kasih Natal kepada puluhan warga kurang mampu.
Bentuk Rasa Syukur
Selain itu, selama Desember ini ada pula budaya berbagi berkat nasi kepada masyarakat sekitar sebagai bentuk sedekah atas rasa syukur terhadap rezeki yang diberikan Tuhan. “Kalau di Islam itu seperti maleman saat Ramadan,” terang Dwija.
Berkat nasi itu tak cuma diperuntukkan bagi sesama kalangan Kristiani. Namun, semua warga tanpa memandang latar belakang agama. “Ketika maleman, warga yang Islam juga memberi kepada yang Kristiani. Nah, saat momen Natal ini gantian,” terang laki-laki kelahiran 1974 itu.
Rangkaian perayaan Natal masih akan berlanjut hingga tahun baru. Mulai 1 Januari hingga 5 Januari bakal berlangsung silaturahmi. Warga saling bertamu lengkap dengan suguhan makanan ringan, mirip seperti saat Lebaran. Selain itu, ada pula pemberian angpau kepada para bocah.
Warga non-Kristiani pun membuka rumah mereka untuk menerima anjangsana umat Kristiani, termasuk menyediakan jamuan makanan ringan. Tradisi tersebut, lanjut Dwija, sudah berlangsung sepanjang usia Desa Segaran.
Di luar agenda Natal, terdapat pula kegiatan cinta kasih gereja berupa pembagian bantuan kepada warga yang kurang mampu.
Tidak hanya umat Kristiani yang menerima bantuan, tetapi penganut agama lain yang memang membutuhkan juga mendapatkannya. “Tidak pandang bulu, semua umat beragama diberi,” jelasnya.
Menurut Dwija, di Desa Segaran juga terdapat kelompok Gusdurian, yaitu para pengikut, murid, dan penerus pemikiran serta perjuangan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Anggotanya memang mayoritas warga Nahdlatul Ulama, namun ada pula umat Kristiani dan pemeluk agama lain.
“Setiap pekan teman-teman Gusdurian juga melakukan aksi membagi-bagikan nasi kotak, baik kepada umat Muslim, Kristen, maupun pemeluk agama lainnya,” jelas laki-laki berusia 51 tahun itu. (*/ttg)
Editor : Hanif