PEREMPUAN pesisir yang selama ini menjadi tulang punggung kehidupan di garis pantai kini diberi akses baru untuk belajar konservasi laut sekaligus mengembangkan keterampilan ekonomi. Yayasan Anambas meluncurkan program Women in Marine Conservation untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan tentang kelautan dan membuka peluang wirausaha berkelanjutan bagi perempuan desa.
Melalui program yang didukung PLAN International Indonesia (Youth Leadership Academy Seed Grant) dan East-West Center Small Grant, Yayasan Anambas menghadirkan pelatihan yang menggabungkan edukasi konservasi dengan praktik keterampilan bernilai jual, seperti membatik dan teknik Ecoprint.
Uniknya, pelatihan membatik dan ecoprint yang diberikan tidak menggunakan pewarna tekstil sintetis. Peserta dilatih memanfaatkan pewarna natural yang diekstrak secara bijak dari kulit batang mangrove terutama jenis nyirih (Xylocarpus granatum) dan bakau (Rhizophora sp.) tanpa menebang pohon. Teknik ini menghasilkan warna coklat alami dan ramah lingkungan, sekaligus menjaga kelestarian mangrove sebagai penyangga pesisir.
“Saya bersyukur bisa ikut latihan ecoprint bersama Yayasan Anambas karena hal ini tidak pernah diajarkan di sekolah,” ujar Lindawati (50), warga Desa Telaga, Kecamatan Siantan Selatan. Produk yang dihasilkan kemudian dijahit menjadi barang yang dapat dipasarkan oleh perempuan di Desa Kiabu, dengan bahan kain organik yang didapat lewat kerja sama selektif misalnya pemanfaatan kain linen bekas dari mitra perhotelan.
Baca Juga: Negara Hadir Lewat Koperasi: SPBUN Nelayan Tukak Sadai Resmi Dibangun
“Kami tidak berfokus pada angka, acuan kami adalah peningkatan peran perempuan dalam konservasi. Perempuan umumnya memang tidak memancing dan tidak secara langsung bersentuhan dengan laut, tapi perannya dalam konservasi harus selalu ada,” kata Afifa, staf konservasi Yayasan Anambas.
Desa Telaga dipilih karena sejak 2023 telah berjalan program rehabilitasi karang dan pemberdayaan pemuda dalam konservasi sehingga partisipasi perempuan menjadi kelanjutan yang strategis. Upaya restorasi terumbu karang di Desa Kiabu dan Desa Telaga telah berhasil memulihkan sekitar 3.300 meter persegi area karang, meski masih terdapat 17.800 meter persegi wilayah rusak yang menunggu pemulihan.
Sebagai kawasan konservasi perairan nasional terbesar kedua di Indonesia, Kepulauan Anambas memegang peran strategis dalam menjaga ekosistem ini. Monitoring Anambas Foundation tahun 2025 mencatat rata-rata tutupan karang hidup sebesar 29,19 persen, dengan biomassa ikan karang mencapai 482,78 kg per hektare dan kelimpahan megabenthos 0,58 individu per meter persegi. Dukungan masyarakat luas dapat melalui www.anambasfoundation.org.
Menjaga “Jantung” Sunda Shelf
LAUT Natuna Utara merupakan bagian dari Paparan Sunda (Sunda Shelf), sebuah koridor biologis penting yang menghubungkan ekosistem Kepulauan Anambas dengan perairan negara-negara tetangga disekitarnya. Sayangnya, keseimbangan ekologis di kawasan tersebut kini menghadapi ancaman serius.
Temuan terbaru menunjukkan adanya tren pengasaman laut di Paparan Sunda yang berpotensi merusak struktur terumbu karang sebagai fondasi utama kehidupan laut. Dampaknya tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga lintas batas, terutama terhadap ketersediaan stok ikan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir.
Kekhawatiran ini diperkuat oleh riset kolaboratif antara BRIN dan peneliti dari Singapura selama tujuh tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat keasaman laut di Paparan Sunda meningkat dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global. Dalam sejumlah pengukuran lapangan, kondisi air laut bahkan telah berada di bawah ambang batas aman bagi terumbu karang dan hewan laut bercangkang, sehingga membuat organisme yang membutuhkan kalsium menjadi lebih rapuh dan sulit berkembang.
Baca Juga: Upaya Pelestarian Penyu di Kecamatan Paloh, Sambas: Lepasliarkan 20 Ribu Tukik ke Laut
Menjawab tantangan tersebut, Anambas Foundation di bawah kepemimpinan Devina Mariskova menerapkan model konservasi holistik yang dirangkum dalam tiga pilar, yakni Above, Below, and Beyond sebagai strategi terpadu menjaga kesehatan ekosistem laut dan darat di kawasan Anambas dan sekitarnya.
Pilar Above menitikberatkan perlindungan hutan pulau kecil sebagai upaya menjaga kualitas perairan.“Hutan yang sehat mencegah erosi yang dapat memperparah degradasi laut yang kini terancam asidifikasi,” ujar pakar ekonomi biru sekaligus aktivis konservasi Ricky Soerapoetra.
Di bawah permukaan, pilar Below berfokus pada restorasi habitat laut. Kawasan Konservasi Maritim Anambas seluas 1,2 juta hektar disebut sebagai jantung yang menopang ketersediaan stok ikan hingga ke perairan lintas batas.
Sementara itu, pilar Beyond menekankan pemberdayaan sosial-ekonomi melalui pengelolaan sampah terpadu berbasis ekonomi sirkular. Anambas Foundation berharap pendekatan ini dapat menjaga Laut Natuna Utara sebagai warisan berkelanjutan bagi generasi mendatang. (als/wir)
Editor : Miftahul Khair