PONTIANAK POST - Ada “gula” di pertigaan Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Ia bukan pasar besar, bukan pula objek wisata resmi. Namun, sejak beberapa pekan terakhir, tempat itu ramai diserbu “semut” dari berbagai penjuru—bahkan luar kota—yang datang berombongan menggunakan bus. Tujuannya satu: melihat langsung Patung Macan Putih yang viral karena dianggap “tak lazim”.
Patung yang awalnya diledek sebagai hasil persilangan macan dengan kuda nil, atau disebut mirip zebra hingga kapibara, itu kini justru menjelma magnet keramaian. Pengunjung berdatangan untuk satu ritual khas era digital: berswafoto, lalu mengunggahnya ke media sosial. Dari sanalah, gelombang rasa penasaran terus membesar.
“Mboten nyangka Mbak bisa viral seperti ini. Awalnya saya kira ramai-ramai karena kecelakaan,” ujar Suwari, sang pematung, kepada Radar Kediri Grup Jawa Pos. Ia tak menyangka, warga yang mengerubungi pertigaan itu ternyata tengah menyaksikan karyanya sendiri.
Guyonan di media sosial memang sempat menjadi nada dominan ketika patung tersebut pertama kali berdiri. Wajah macan yang dianggap “blendet” memantik kreativitas warganet. Namun, olok-olok itu justru melahirkan keingintahuan. Dan dari sanalah, roda ekonomi berputar.
Pasar kaget bermunculan. Warga menjajakan makanan, minuman, hingga merchandise berupa kaus bergambar Patung Macan Putih. Desa yang sebelumnya hanya dikenal sebagai titik penunjuk arah, dulu dengan patokan pohon beringin, kini punya ikon baru yang membuatnya dikenal luas.
Suwari pun ikut kecipratan rezeki. Pria berusia 70 tahun itu banyak dicari pengunjung. Ada yang sekadar ingin berfoto, mendengar cerita proses pembuatan, hingga menawarkan pekerjaan baru. Saking seringnya didatangi orang, Suwari bahkan sempat “berkantor” di sebuah warung tak jauh dari patung tersebut. “Supaya mudah dicari,” katanya.
Menariknya, semua itu terjadi tanpa sepeser pun dana desa. Kepala Desa Balongjeruk Safi’i menyebut, pembangunan patung sepenuhnya menggunakan dana pribadi. Total biaya sekitar Rp 3,5 juta—Rp 2 juta untuk ongkos pematung dan Rp 1,5 juta untuk material.
Macan putih dipilih bukan tanpa alasan. Ia merujuk pada folklor setempat tentang danyang atau penunggu desa yang digambarkan berwujud macan putih. Cerita serupa juga dikenal luas di Kediri. Kota Kediri dan klub sepak bola Persik Kediri bahkan menjadikan Macan Putih sebagai logo dan julukan.
Mengutip situs resmi Pemkot Kediri, simbol tersebut berakar dari kisah Bubuksah dan Gagang Aking yang tergambar dalam relief di Gua Selomangleng. “Awalnya kami ingin membuat tetenger desa. Dulu orang bertanya Balongjeruk yang mana, jawabannya selalu ‘yang ada beringinnya’. Sekarang kami ingin punya ikon,” kata Safi’i.
Sekretaris Desa Balongjeruk Ardan Setiadi menambahkan, para sesepuh desa meyakini macan putih menjadi bagian dari sejarah pembabatan desa. Usulan masyarakat itulah yang kemudian diwujudkan Safi’i, dengan konsekuensi membiayai sendiri pembangunannya.
Nama Suwari dipilih karena rekam jejaknya panjang. Karyanya tersebar di sekolah, rumah, hingga bangunan lain. Pengerjaan Patung Macan Putih dimulai 1 Desember dan rampung 18 hari kemudian. Namun, baik pemdes maupun warga tak menyangka hasilnya akan memicu perbincangan luas.
“Sebelumnya beliau bikin patung elang bagus. Kok pas macan jadi blendet,” ujar Ardan, setengah berkelakar.
Di balik hasil yang ramai dibicarakan itu, Suwari punya cerita sendiri. Ia mengaku kondisi fisiknya belum pulih sepenuhnya setelah sebelumnya menggarap patung Semar dan Gareng selama berbulan-bulan hingga jatuh sakit. Macan putih dikerjakannya setengah hari per sesi, dibantu dua pekerja.
Ia juga mengaku mengalami pengalaman mistis. Meski mengikuti desain, tangannya terasa seperti “dibelokkan” saat membentuk patung. “Seperti bukan yang biasanya,” kenangnya.
Sempat muncul wacana mengganti patung karena kritik bertubi-tubi. Bahkan, seorang seniman dari Trowulan, Mojokerto, sempat menawar patung itu dengan harga tinggi untuk dibawa ke galeri. Namun, dampak ekonomi dan popularitas yang terlanjur terasa membuat warga dan pemdes sepakat mempertahankannya.
Kini, mau disebut mirip kuda nil, zebra, atau apa pun, Patung Macan Putih telah membuktikan satu hal: dari olok-olok bisa lahir berkah. Ia menjadi gula di pertigaan desa, dan Balongjeruk, tanpa disangka-sangka, ikut merasakan manisnya. (sad/rq/ttg)
Editor : Hanif