PONTIANAK POST - Menteri Agama Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa kerusakan alam lingkungan bukan hanya persoalan ekologis, tapi juga persoalan spiritual. Jika alam itu rusak, manusia juga ikut merasakan dampaknya.
Melansir dari laman resmi Kemenag RI, Nasaruddin Umar menyatakan ekoteologi adalah perpaduan antara iman, ilmu, dan amal.
Menag menyebut relasi tersebut sejalan dengan konsep mitos, logos, dan ethos yang ada dalam setiap agama.
“Satu isu yang sangat penting sekarang ini adalah masalah lingkungan. Ada salah satu program kami di Kementerian Agama adalah Ekoteologi,” ujar Menag menjelaskan.
Peran Agama dalam Menjaga Lingkungan
Menag Nasaruddin mengutip pandangan Paus Leo yang menyatakan bahwa bahasa agama merupakan medium paling kuat dalam menanamkan kepedulian terhadap lingkungan.
“Betapa pentingnya menyadarkan umat untuk memelihara lingkungan hidup, karena manusia tidak bisa hidup tanpa lingkungan hidup yang segar,” sebut Menag.
Menag Nasaruddin mengajak masyarakat untuk melihat akar masalah kerusakan lingkungan melalui kacamata spiritual.
Menurut Menag Nasaruddin selama ini kepatuhan terhadap lingkungan seringkali hanya didasari ketakutan pada sanksi hukum, ke depan perlu juga menggunakan bahasa agama.
Penelitian membuktikan kata Menag Nasaruddin, di New York baru-baru ini menyatakan bahwa hanya bahasa agama yang paling efektif bisa menyadarkan orang untuk menyayangi lingkungan.
Membangun Kesadaran Ekologis Lewat Ajaran Agama
Dalam jurnal Agama dan Humaniora, Vol 01 No. 01 September 2025 diterangkan hasil penelitian menunjukkan setiap tradisi agama memiliki ajaran dasar tanggung jawab manusia kepada alam.
Kesamaan nilai-nilai itu menunjukkan agama memiliki landasan etis yang selaras dengan prinsip keberlanjutan dalam ekologi modern.
Pada jurnal tersebut menerangkan, di Indonesia, penelitian menunjukkan kearifan lokal yang berakar pada agama memiliki peran signifikan dalam menjaga ekosistem.
Lebih lanjut diterangkan, selain berfungsi sebagai sumber nilai, agama juga dapat menjadi motor gerakan sosial lingkungan.
“Membangun kesadaran ekologis tidak cukup melalui pendekatan ilmiah-teknis, tetapi juga membutuhkan dimensi moral dan spiritual,” simpul jurnal tersebut. (*)
Editor : Miftahul Khair