Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Doraemon Pamit dari Layar Kaca, Akhiri Ritual Minggu Pagi yang Menghiasi Hidup Generasi Indonesia

Hanif PP • Rabu, 7 Januari 2026 | 07:38 WIB

 

ADEGAN: Salah satu adegan dalam animasi "Doraemon the Movie: Nobita
ADEGAN: Salah satu adegan dalam animasi "Doraemon the Movie: Nobita

PONTIANAK POST - Berhentinya penayangan Doraemon di televisi pada awal 2026 menjadi penanda hilangnya ritual Minggu pagi lintas generasi yang bertahan hampir 35 tahun. Masyarakat Indonesia rama-ramai mengungkapkan perasaannya di media sosial.

Setelah hampir empat dekade menemani pagi akhir pekan masyarakat Indonesia, anime legendaris Doraemon resmi berhenti tayang di televisi nasional. Mulai awal 2026, serial robot kucing biru dari masa depan itu tak lagi hadir di layar RCTI, stasiun yang menayangkannya secara rutin sejak 9 Desember 1990. Kabar ini bukan sekadar akhir sebuah program televisi, melainkan penanda perubahan besar dalam pola konsumsi hiburan lintas generasi.

Informasi berhentinya penayangan Doraemon pertama kali ramai diperbincangkan di media sosial. Akun X @IndoPopBase mengumumkan bahwa Doraemon resmi berakhir tayang di RCTI setelah hampir 35 tahun. Pernyataan serupa disampaikan akun X Habis Nonton Film yang menegaskan panjangnya perjalanan serial ini, dari tayang mingguan setiap Minggu pagi hingga sempat hadir setiap hari.

Pengumuman tersebut langsung memicu gelombang nostalgia dan kesedihan warganet yang merasa kehilangan tontonan ikonik masa kecil. Bagi banyak penonton, Doraemon bukan sekadar anime, melainkan bagian dari ritme hidup. Galuh, salah seorang penggemar yang dihubungi dari Jakarta, mengenang bagaimana serial ini menjadi tontonan yang selalu dinantikan setiap Minggu pagi.

Ia mengaku ingin hari Minggu datang lebih cepat agar bisa menyaksikan petualangan Nobita bersama Doraemon. Kenangan itu melekat erat dengan suasana akhir pekan, sebelum aktivitas rutin dimulai. Meski demikian, Galuh menilai berhentinya penayangan di televisi bukan persoalan besar selama Doraemon masih dapat diakses melalui platform digital. Menurutnya, perubahan ini lebih mencerminkan pergeseran kebiasaan menonton masyarakat yang kini beralih dari televisi ke layanan daring.

Pandangan serupa disampaikan Satrio. Ia mengenang Doraemon sebagai serial yang mengajarkan ironi sederhana melalui karakter Nobita yang kerap meminta solusi instan, tetapi justru berakhir dalam masalah baru. Bagi Satrio, daya tarik Doraemon terletak pada kisah-kisah tersebut yang sederhana, lucu, sekaligus dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia berharap serial ini dapat terus hadir melalui platform digital agar tetap relevan bagi generasi muda yang tumbuh di era gawai dan layanan streaming.

Nostalgia juga dirasakan Angel, yang mengingat kuat salah satu alat paling ikonik dalam serial tersebut, baling-baling bambu. Benda sederhana itu, baginya, menjadi simbol kebahagiaan Minggu pagi sebelum memulai aktivitas keluarga. Ia berharap, meski tak lagi tayang di televisi swasta, Doraemon setidaknya bisa hadir di stasiun televisi milik negara agar tetap menjadi tontonan akhir pekan anak-anak Indonesia.

Gelombang reaksi warganet di media sosial menunjukkan betapa dalamnya keterikatan publik terhadap serial ini. Banyak yang mengungkapkan kesedihan karena Doraemon sudah menjadi bagian dari kebiasaan sarapan akhir pekan.

Sebagian warganet bahkan menyebut tanda-tanda penghentian penayangan sebenarnya sudah terlihat sejak lama, seiring durasi siar yang terus dipangkas, dari satu setengah jam menjadi satu jam, hingga akhirnya hanya tersisa setengah jam sebelum dihentikan sepenuhnya. Kondisi tersebut memunculkan spekulasi bahwa penurunan minat menonton televisi menjadi faktor utama di balik keputusan ini.

Selama sekitar 35 tahun tayang di Indonesia, Doraemon berhasil melintasi batas generasi. Kehadirannya memperkenalkan dunia imajinatif yang dipenuhi alat-alat ajaib dari abad ke-22, yang digunakan Doraemon untuk membantu Nobita menghadapi berbagai persoalan. Mesin waktu di laci meja Nobita menjadi simbol awal pertemuan mereka, ketika Sewashi, cicit Nobita dari masa depan, mengirim Doraemon ke masa lalu demi mengubah nasib leluhurnya. Alat itu pula yang membuka ruang petualangan lintas waktu, memperkaya cerita dengan nuansa futuristik yang memikat.

Selain mesin waktu, baling-baling bambu menjadi alat paling populer yang melekat di ingatan penonton. Dengan alat sederhana itu, Doraemon dan kawan-kawan dapat terbang bebas menjelajahi langit dan berpindah tempat dalam sekejap. Pintu ke mana saja, yang secara logika tak masuk akal karena keluar dari kantong kecil Doraemon, justru menjadi daya tarik tersendiri karena memungkinkan perjalanan instan ke lokasi mana pun hanya dengan membayangkannya. Kantong empat dimensi milik Doraemon juga menjadi simbol keajaiban tanpa batas, tempat berbagai alat canggih dengan ukuran beragam dapat disimpan dan dikeluarkan sesuai kebutuhan cerita.

Alat-alat tersebut bukan hanya elemen hiburan, tetapi juga bagian dari imajinasi kolektif penonton yang tumbuh bersama Doraemon. Kamera Dress Up, misalnya, menghadirkan fantasi mengganti pakaian secara instan hanya dengan memotret desain yang diinginkan. Semua alat itu membentuk dunia yang absurd namun akrab, sekaligus mengajarkan bahwa solusi instan sering kali membawa konsekuensi tak terduga.

Di tengah kesedihan publik, beredar pula spekulasi mengenai masa depan Doraemon di Indonesia. Sejumlah warganet menyebut serial ini tidak benar-benar berhenti tayang, melainkan hanya berpindah rumah siar. Dugaan tersebut menguat setelah kabar bahwa pengisi suara versi Indonesia masih melakukan proses dubbing untuk episode terbaru. Muncul spekulasi bahwa hak siar Doraemon akan beralih ke stasiun televisi lain, seiring film terbarunya yang ditayangkan di Trans TV. Spekulasi lain menyebutkan Doraemon akan sepenuhnya beralih ke platform over-the-top (OTT), mengikuti tren konsumsi hiburan digital.

Terlepas dari spekulasi tersebut, berhentinya Doraemon dari layar kaca menandai babak baru dalam sejarah penyiaran televisi Indonesia. Serial yang pernah menjadi penanda waktu Minggu pagi bagi jutaan penonton kini harus beradaptasi dengan perubahan zaman. (jpc/ant)

Editor : Hanif
#Ikonik #berhenti tayang #doraemon #masyarakat indonesia #Minggu Pagi