Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Hilirisasi Bauksit Berpotensi Rp 65 Ribu Triliun, Kalbar Pemilik Cadangan Terbesar

Hanif PP • Rabu, 14 Januari 2026 | 10:45 WIB

 

RATAS: Presiden RI Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas yang membahas penguatan transformasi industry, termasuk bauksit, di kediamannya kawasan Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (11/1
RATAS: Presiden RI Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas yang membahas penguatan transformasi industry, termasuk bauksit, di kediamannya kawasan Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Minggu (11/1

PONTIANAK POST – Cadangan bauksit Indonesia diperkirakan mencapai 7,78 miliar ton. Namun penjualan sumber daya alam (SDA) mentah belum memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Pemerintah didorong untuk memaksimalkan bauksit menjadi alumina dan aluminium untuk meningkatkan nilai tambah.

Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Watch (ISEW) Ferdy Hasiman menilai bahwa langkah hilirisasi bauksit merupakan isu vital. Saat ini, Indonesia memiliki cadangan sebesar 7,78 miliar ton. Jika seluruh cadangan dijual dalam bentuk bahan mentah dengan asumsi harga USD 40 per metrik ton, potensi nilai ekonominya hanya sekitar USD 311,2 miliar.

Nilai ekonomi dari sumber daya alam mineral Indonesia tersebut melonjak ketika bauksit diolah lebih lanjut. Tiga ton bauksit bisa menghasilkan 1 ton alumina. Potensi produksi alumina diperkirakan mencapai 2,59 miliar ton. Dengan asumsi harga USD 400 per metrik ton, nilai ekonominya meningkat sekitar USD 1.037 miliar atau setara Rp 17.435 triliun.

”Pada tahap produksi aluminium, diperlukan 2 ton alumina untuk menghasilkan aluminium. Dengan demikian, estimasi produksi sekitar 1,29 miliar ton aluminium dan harga USD 3.000 per metrik ton,” jelasnya.

”Total nilai ekonomi yang dapat diciptakan mencapai USD 3.885 miliar atau setara Rp 65.145 triliun,” tegas Ferdy Hasiman.

Salah satu proyek yang digencarkan oleh pemerintah yakni fasilitas penambangan dan pengolahan bauksit terintegrasi di Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek ini dikelola oleh PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) yang merupakan inisiasi oleh Anggota Grup MIND ID yakni PT Aneka Tambang Tbk dan PT Indonesia Asahan Aluminium. ’’Pada 2025, MIND ID sudah menunjukkan langkah progresif yang sangat berarti. Mereka mulai meninggalkan pola lama pertambangan ekstraktif dalam menekan defisit neraca pembayaran,’’ jelasnya.

 

Prabowo Percepat Hilirisasi

Presiden RI Prabowo Subianto mematangkan percepatan hilirisasi bauksit nasional melalui pembangunan smelter alumina dan fasilitas smelter grade alumina (SGA) di Mempawah, Kalimantan Barat. Proyek ini menjadi salah satu agenda utama dalam rapat terbatas yang digelar bersama jajaran Kabinet Merah Putih di kediaman pribadi Presiden di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Minggu.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan rapat tersebut membahas transformasi industri nasional, termasuk percepatan proyek hilirisasi strategis berbasis sumber daya alam, salah satunya bauksit.

“Rapat terbatas membahas kesiapan sejumlah proyek hilirisasi yang akan segera memasuki tahap peletakan batu pertama,” ujar Teddy dalam keterangan resminya di Jakarta, Minggu (11/1).

Ia menjelaskan, pemerintah menargetkan peletakan batu pertama enam proyek hilirisasi baru dengan nilai investasi mencapai 6 miliar dolar AS pada awal Februari 2026. Salah satu proyek utama adalah pengembangan industri smelter aluminium dari alumina serta fasilitas smelter grade alumina berbasis bauksit di Mempawah, Kalimantan Barat.

Sebelumnya, CEO Danantara Rosan Roeslani menyebut proyek hilirisasi bauksit di Mempawah menjadi bagian penting dari upaya pemerintah memperkuat industri pengolahan mineral dalam negeri, sekaligus mengurangi ketergantungan ekspor bahan mentah.

Selain proyek bauksit, hilirisasi juga mencakup pengembangan fasilitas produksi bioavtur di Cilacap, Jawa Tengah, pengolahan kelapa terintegrasi di Morowali, Sulawesi Tengah, pengembangan bioetanol, serta lima fasilitas budidaya unggas.

Dalam rapat tersebut, Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya sinergi lintas sektor untuk memastikan proyek hilirisasi berjalan sesuai target, mulai dari kesiapan investasi, infrastruktur energi, hingga dukungan regulasi. “Presiden meminta seluruh kementerian terkait memastikan kesiapan proyek agar hilirisasi memberi nilai tambah maksimal bagi perekonomian nasional dan daerah,” kata Teddy.

Rapat di Hambalang dihadiri sejumlah menteri, antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Kepala Danantara Rosan Roeslani, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, serta Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi.

 

Amerika Serikat Tertarik

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, Danantara telah melakukan pembicaraan dengan pihak Amerika Serikat (AS) terkait akses terhadap mineral kritis (critical mineral), termasuk bauksit. Pembahasan tersebut menjadi bagian dari negosiasi tarif nol persen untuk sejumlah komoditas SDA Indonesia.

"Tentu yang critical mineral sudah ada pembicaraan Danantara dengan badan ekspornya di Amerika, dan juga ada beberapa perusahaan Amerika yang sudah berbicara dengan perusahaan critical mineral di Indonesia. Jadi itu akses terhadap critical mineral yang disediakan oleh pemerintah," ujar Airlangga dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat.

Peran Danantara dalam hal ini bersifat business to business (B2B). Artinya, Danantara memfasilitasi dan menjembatani kerja sama langsung antara perusahaan Indonesia dan perusahaan AS yang memiliki minat berinvestasi di sektor mineral kritis.

Airlangga menjelaskan, sebenarnya keterlibatan AS dalam sektor mineral kritis Indonesia bukanlah hal baru. Ia mencontohkan komoditas tembaga  yang telah lama digarap perusahaan asal AS, Freeport-McMoRan, sejak tahun 1967. Selain tembaga, Airlangga menyebut sejumlah mineral kritis lain yang menjadi perhatian AS, antara lain nikel, bauksit, hingga logam tanah jarang (rare earth). Lebih lanjut, Airlangga mengakui bahwa AS memang membutuhkan akses terhadap mineral kritis untuk berbagai sektor strategis, mulai dari otomotif, industri pesawat terbang, hingga peralatan pertahanan dan militer. (agf/bil/ant)

Editor : Hanif
#cadangan #Proyek Strategis Nasional #kalbar #bauksit #hilirisasi