PONTIANAK POST - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, Erna Yulianti mengungkapkan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) membutuhkan komitmen bersama melalui penguatan pelayanan kesehatan yang berkualitas, berkesinambungan, serta didukung oleh tenaga kesehatan yang kompeten.
Secara nasional, AKI tercatat sebesar 189 per 100.000 kelahiran hidup, sementara di Provinsi Kalimantan Barat pada tahun 2025 masih berada di angka 246 per 100.000 kelahiran hidup.
“Perbedaan ini menunjukkan bahwa Kalimantan Barat masih menghadapi tantangan besar dan memerlukan upaya ekstra dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu,” ungkap Erna.
Berdasarkan data jumlah ibu hamil di Kalimantan Barat yang mencapai 106.600 orang, cakupan pelayanan K1 dengan pemeriksaan USG baru mencapai 62,11 persen, sedangkan cakupan K5 dengan USG sebesar 59,13 persen. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa pemanfaatan USG dalam pelayanan antenatal masih perlu ditingkatkan secara merata dan berkelanjutan di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.
Erna mengapresiasi adanya loka karya Penggunaan USG Obstetri Dasar Terbatas sebagai upaya meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak yang dihelat belum lama ini. Menurut Erna, pemanfaatan USG obstetri dasar terbatas menjadi strategi penting dalam mendukung deteksi dini risiko kehamilan, penentuan usia dan posisi janin, serta identifikasi komplikasi yang memerlukan rujukan lebih lanjut.
“Dengan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, keputusan klinis dapat dilakukan lebih cepat dan tepat, sehingga risiko kematian ibu dan bayi dapat ditekan,” katanya.
Erna menegaskan bahwa pembangunan kesehatan, khususnya menyangkut kesehatan ibu dan anak, merupakan prioritas utama baik di tingkat nasional maupun daerah. Ia berharap workshop semacam ini dapat memberikan dampak nyata, khususnya dalam meningkatkan cakupan pelayanan K1 dan K5 dengan USG di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. (mrd)
Editor : Hanif