Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026, Berikut Waktu dan Jalur Negara yang Dilintasinya

Khoiril Arif Ya'qob • Senin, 19 Januari 2026 | 15:54 WIB
Ilustrasi gerhana matahari.
Ilustrasi gerhana matahari.

PONTIANAK POST - Fenomena alam langka akan kembali menyita perhatian dunia pada 12 Agustus 2026, ketika gerhana Matahari total terjadi dan membuat siang hari berubah gelap di sejumlah wilayah.

Peristiwa astronomi ini hanya dapat disaksikan secara sempurna di jalur totalitas tertentu yang melintasi beberapa negara, menjadikannya momen istimewa yang dinanti para ilmuwan, pengamat langit, dan masyarakat luas.

Dilansir dari Batam Pos (Grup Pontianak Post) pada (19/1), gerhana Matahari total ini tidak dapat disaksikan secara penuh dari Indonesia.

Lintasan gerhana akan bermula dari kawasan Arktik, lalu bergerak ke arah selatan melintasi sejumlah wilayah daratan di berbagai belahan dunia, yakni:

- Laut Arktik dan pesisir utara Siberia menjadi titik awal totalitas.

- Greenland menjadi lokasi paling awal menyaksikan totalitas.

- Islandia menjadi wilayah barat yang diperkirakan mengalami totalitas hingga lebih dari dua menit.

- Spanyol bagian utara dilintasi bayangan umbra Bulan, dengan kota-kota seperti Galicia dan wilayah lain di sepanjang lintasan.

Di titik tengah jalur gerhana, fase totalitas akan berlangsung paling lama, yakni sekitar 2 menit 18 detik, terutama di wilayah laut dekat pesisir barat Islandia sebelum bayangan Bulan menyentuh daratan.

Saat totalitas terjadi, siang hari seketika berubah bak senja. Langit meredup, suhu udara menurun, dan korona Matahari tampak jelas mengelilingi cakram gelap Bulan.

Sementara itu, di luar jalur totalitas, fenomena ini akan terlihat sebagai gerhana parsial di kawasan Eropa, Afrika Utara, Amerika Utara bagian barat, serta sejumlah wilayah di Asia Utara.

“Fenomena gerhana total tidak hanya menarik bagi penikmat sains, tetapi juga memberikan peluang riset ilmiah,” kata NASA dan National Solar Observatory.

Peristiwa ini menjadi gerhana Matahari total pertama yang dapat disaksikan dari daratan Eropa sejak 1999, menjadikannya momen bersejarah bagi para pengamat astronomi di benua tersebut.

Namun, para ahli mengingatkan bahwa mengamati Matahari secara langsung tanpa pelindung khusus sangat berbahaya, terutama saat fase parsial, karena berisiko menimbulkan kerusakan serius pada retina mata. (*)

Editor : Miftahul Khair
#gerhana matahari #fenomena langka #Asia #spanyol #Greenland #Arktik