Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Evakuasi Jenazah Pesawat ATR 42-500 IAT di Gunung Bulusaraung Berjalan Dramatis

Hanif PP • Rabu, 21 Januari 2026 | 09:35 WIB

 

BAWA JENAZAH: Tim Gabungan Basarnas dan TNI melakukan evakuasi terhadap korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di medan berat kawasan Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Selasa (20/1).
BAWA JENAZAH: Tim Gabungan Basarnas dan TNI melakukan evakuasi terhadap korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di medan berat kawasan Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Selasa (20/1).

PONTIANAK POST — Setelah menuruni jurang sedalam sekitar ratusan meter dengan medan ekstrem, tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi satu jenazah. Ini adalah evakuasi jenazah kedua kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selata.

Korban kedua yang dievakuasi berjenis kelamin perempuan. Proses pengangkatan jenazah berlangsung dramatis dan berisiko tinggi karena lokasi berada di kawasan pegunungan dengan lembah curam, tebing vertikal, serta cuaca yang tidak bersahabat.

“Akhirnya korban kedua berjenis kelamin perempuan berhasil dievakuasi dari kedalaman sekitar 350 meter dengan kondisi medan yang sangat ekstrem,” kata Kepala Kantor Basarnas Makassar, Muhammad Anwar Arif, Selasa (20/1) malam.

Sebagai koordinator SAR Mission Coordinator (SMC), Arif menjelaskan operasi hari itu difokuskan pada pencarian dan evakuasi di sejumlah sektor. Kekuatan tim dibagi ke dalam enam Search and Rescue Unit (SRU), mencakup tim darat hingga vertical rescue yang dilengkapi peralatan khusus untuk menuruni jurang dan tebing terjal.

Menurut Arif, proses evakuasi dilakukan secara bertahap dengan tingkat kehati-hatian tinggi. Selain medan yang sulit, hujan dan kabut tebal membatasi jarak pandang, sehingga setiap pergerakan tim harus dihitung secara cermat untuk menghindari risiko kecelakaan tambahan.

“Evakuasi korban membutuhkan teknik vertical rescue dan koordinasi lintas unsur yang sangat ketat. Tim bekerja dari lembah menuju puncak dengan peralatan khusus. Saat ini jenazah sementara dibawa ke Posko Tompobulu, Balocci, Pangkep, untuk kemudian diserahkan kepada tim DVI,” ujar Arif.

Operasi SAR melibatkan kekuatan besar dengan total 1.075 personel dari berbagai unsur, mulai dari Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, komunitas pecinta alam, hingga tenaga medis. Dukungan alutsista darat dan udara juga dikerahkan, termasuk helikopter, pesawat intai, serta drone thermal untuk membantu pelacakan di area dengan visibilitas rendah.

“Kami mengapresiasi dedikasi seluruh unsur yang terlibat. Operasi ini adalah wujud nyata sinergi dan kemanusiaan. Fokus kami tetap pada pencarian seluruh korban dengan mengutamakan keselamatan tim di lapangan,” kata Arif.

Sejauh ini, baru dua jenazah yang berhasil ditemukan, masing-masing satu laki-laki dan satu perempuan, yang identitasnya masih dalam proses penelusuran. Selain itu, tim menemukan serpihan badan pesawat serta barang-barang pribadi korban yang terhambur di sekitar lokasi benturan. Berdasarkan manifes penerbangan, pesawat tersebut mengangkut 10 orang.

Di tengah beratnya proses evakuasi, upaya mengungkap penyebab kecelakaan masih menghadapi kendala serius. Kepala Basarnas Mohammad Syafii menyatakan hingga kini pihaknya belum menemukan black box pesawat ATR 42-500 tersebut. “Kami belum menemukan bagian pesawat yang tanda-tandanya black box,” kata Syafii.

Laik Terbang

Di sisi lain, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan bahwa pesawat ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan dinyatakan dalam kondisi laik terbang sebelum insiden terjadi. “Kalau laik terbang, iya. Syarat utamanya adalah layak terbang. Kami sudah memeriksa kelaikan dari dokumen yang dimiliki oleh pesawat tersebut, dan pesawat tersebut dinyatakan layak terbang,” ujar Dudy.

Menhub menegaskan pihaknya tidak ingin berspekulasi terkait dugaan masalah teknis yang beredar di publik. Menurut dia, kesimpulan mengenai penyebab kecelakaan tidak boleh disampaikan sebelum seluruh bukti penting terkumpul. “Kita tidak mau terlalu dini menyampaikan apa yang menjadi penyebab dari kecelakaan,” katanya.

Terkait ketinggian jelajah pesawat maupun aspek teknis lainnya, Dudy menyatakan seluruhnya akan dikaji setelah bukti kunci, termasuk black box, berhasil ditemukan. Proses investigasi sepenuhnya menjadi kewenangan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). (jpc/ant)

Editor : Hanif
#gunung bulusaraung #korban kecelakaan #IAT #tim sar #sulawesi utara #evakuasi dramatis #Pesawat ATR 42 500