PONTIANAK POST — Harga emas batangan PT Aneka Tambang (Antam) Tbk melonjak tajam pada Rabu (21/1). Berdasarkan pantauan di laman Logam Mulia, harga emas naik Rp35.000 dari Rp2.737.000 menjadi Rp2.772.000 per gram. Seiring kenaikan harga jual, harga jual kembali (buyback) emas Antam juga meningkat menjadi Rp2.612.000 per gram.
Sesuai Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 34/PMK.10/2017, transaksi jual emas batangan dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22. Untuk penjualan kembali emas batangan ke PT Antam Tbk dengan nilai di atas Rp10 juta, dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen bagi pemegang Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dan 3 persen bagi non-NPWP. Pajak tersebut dipotong langsung dari nilai buyback.
Sementara itu, pembelian emas batangan juga dikenakan PPh 22 sebesar 0,45 persen untuk pemegang NPWP dan 0,9 persen untuk non-NPWP. Setiap transaksi pembelian disertai bukti potong pajak.
Adapun harga emas batangan Antam berdasarkan pecahan tercatat sebagai berikut: 0,5 gram Rp1.436.000; 1 gram Rp2.772.000; 2 gram Rp5.484.000; 3 gram Rp8.201.000; 5 gram Rp13.635.000; 10 gram Rp27.215.000; 25 gram Rp67.912.000; 50 gram Rp135.745.000; 100 gram Rp271.412.000; 250 gram Rp678.265.000; 500 gram Rp1.356.320.000; dan 1.000 gram Rp2.712.600.000.
Pengamat pasar modal Reydi Octa menilai lonjakan harga emas dipicu oleh peralihan dana investor ke instrumen yang lebih aman, di tengah meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Uni Eropa.
“Jika risiko meningkat, investor akan memindahkan aset mereka ke instrumen yang lebih rendah risikonya seperti emas dan obligasi. Hal ini memicu aksi profit taking dan cut loss di pasar saham,” kata Reydi di Jakarta, Rabu.
Ketegangan geopolitik tersebut turut menekan pasar saham Indonesia. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp1,90 triliun pada perdagangan Rabu. Kondisi ini menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 124,37 poin atau 1,36 persen ke level 9.010,33.
Menurut Reydi, ketegangan global, termasuk isu Greenland dan ancaman tarif dari Presiden AS Donald Trump terhadap sejumlah negara Eropa, mendorong investor global mengurangi eksposur risiko, terutama di pasar negara berkembang seperti Indonesia.
“Sektor yang paling terdampak aksi jual adalah sektor sensitif siklus ekonomi seperti perbankan, properti, dan konsumer,” ujarnya.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan frekuensi perdagangan mencapai 4,03 juta transaksi dengan volume 61,67 miliar saham senilai Rp34,22 triliun. Sebanyak 170 saham menguat, 546 saham melemah, dan 77 saham stagnan. (ant)
Editor : Hanif