Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kalbar Jadi Episentrum Hilirisasi Bauksit Nasional, Groundbreaking Dimulai Akhir Januari 2026

Hanif PP • Jumat, 23 Januari 2026 | 10:29 WIB
Prasetyo Hadi
Prasetyo Hadi

 

PONTIANAK POST — Pemerintah akan memulai peresmian awal atau groundbreaking enam proyek hilirisasi strategis pada akhir Januari 2026. Langkah ini menandai percepatan agenda transformasi industri nasional sekaligus penguatan fondasi ekonomi berbasis nilai tambah sumber daya alam.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan, enam proyek tersebut siap memasuki tahap awal pembangunan sebagai bagian dari upaya menggerakkan sektor riil dan fundamental ekonomi nasional.

“Di akhir bulan ini rencananya akan ada kurang lebih enam proyek hilirisasi yang akan dilakukan groundbreaking,” ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (22/1).

Prasetyo menegaskan, Kalimantan Barat menjadi salah satu provinsi yang ditetapkan sebagai lokasi proyek hilirisasi tersebut.

Selain enam proyek tahap awal, pemerintah juga menyiapkan sekitar 12 proyek hilirisasi lanjutan yang ditargetkan mulai diresmikan pada Februari 2026.

“Kalimantan Barat itu juga, ya salah satunya. Jadi, ada enam proyek. Mohon doa restunya supaya selebihnya masih ada kurang lebih 12 lagi bisa pada bulan Februari. Paling lambat Maret semuanya sudah bisa kita mulai,” kata Prasetyo.

Rencana groundbreaking ini sejalan dengan agenda Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia yang sebelumnya menyatakan kesiapan memulai sejumlah proyek hilirisasi pada Februari 2026.

Chief Executive Officer Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyebut proyek-proyek tersebut mencakup hilirisasi bauksit dan aluminium, pembangunan fasilitas bioavtur, kilang minyak (refinery), hingga proyek budi daya unggas di lima lokasi.

“Itu ada bauksit, aluminium di Balikpapan, kemudian ada bioavtur, refinery, dan juga budi daya unggas di lima tempat,” ujar Rosan usai acara Semangat Awal Tahun 2026 di Jakarta, Rabu (14/1).

Selain itu, proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) juga berpeluang dilakukan groundbreaking pada Februari 2026, seiring finalisasi kesiapan proyek.

Percepatan hilirisasi ini sebelumnya juga menjadi perhatian Presiden RI Prabowo Subianto. Pada 11 Januari 2026, Presiden memimpin rapat terbatas di kediamannya di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang membahas penguatan transformasi industri nasional, termasuk hilirisasi bauksit.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya mengatakan, rapat tersebut membahas kesiapan sejumlah proyek strategis yang akan segera memasuki tahap peletakan batu pertama.

“Rapat terbatas membahas kesiapan sejumlah proyek hilirisasi yang akan segera memasuki tahap groundbreaking,” ujar Teddy dalam keterangan resmi.

Pemerintah menargetkan enam proyek hilirisasi baru dengan nilai investasi sekitar 6 miliar dolar AS mulai dibangun pada awal Februari 2026.

Salah satu proyek utama adalah pengembangan smelter alumina dan fasilitas smelter grade alumina (SGA) berbasis bauksit di Mempawah, Kalimantan Barat.

Kalimantan Barat dinilai memiliki posisi strategis dalam agenda ini. Berdasarkan data Indonesia Mining and Energy Watch (ISEW), cadangan bauksit Indonesia diperkirakan mencapai 7,78 miliar ton. Namun selama ini, penjualan bauksit dalam bentuk bahan mentah dinilai belum memberikan dampak ekonomi yang optimal.

Direktur Eksekutif ISEW Ferdy Hasiman menjelaskan, jika seluruh cadangan bauksit dijual mentah dengan asumsi harga USD 40 per metrik ton, nilai ekonominya hanya sekitar USD 311,2 miliar. Nilai tersebut melonjak signifikan ketika bauksit diolah menjadi alumina dan aluminium.

“Tiga ton bauksit dapat menghasilkan satu ton alumina. Dengan asumsi harga USD 400 per metrik ton, potensi nilai ekonominya meningkat menjadi sekitar USD 1.037 miliar,” kata Ferdy.

Pada tahap lanjutan, dua ton alumina dapat menghasilkan satu ton aluminium dengan nilai ekonomi mencapai USD 3.885 miliar atau setara Rp 65.145 triliun.

Salah satu proyek unggulan yang kini digencarkan pemerintah adalah fasilitas penambangan dan pengolahan bauksit terintegrasi di Mempawah yang dikelola PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), inisiatif Grup MIND ID melalui PT Aneka Tambang Tbk dan PT Indonesia Asahan Aluminium.

Selain fokus domestik, agenda hilirisasi juga menarik perhatian internasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, Danantara telah melakukan pembicaraan dengan pihak Amerika Serikat terkait akses mineral kritis, termasuk bauksit.

“Ada pembicaraan Danantara dengan badan ekspor Amerika, serta beberapa perusahaan AS yang sudah berkomunikasi dengan perusahaan mineral kritis di Indonesia,” ujar Airlangga.

Menurutnya, kerja sama tersebut bersifat business to business dan mencerminkan meningkatnya minat global terhadap mineral kritis Indonesia, yang dibutuhkan untuk sektor otomotif, penerbangan, hingga pertahanan. (ant/jpc)

Editor : Hanif
#Hilirisasi Bauksit #Januari 2026 #groundbreaking #kalimantan barat #episentrum #nasional