Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Percepatan AI Dinilai Lampaui Kesiapan Sosial, CEO JPMorgan Minta Transisi Bertahap

Hanif PP • Sabtu, 24 Januari 2026 | 10:39 WIB

 

Ilustrasi AI
Ilustrasi AI

PONTIANAK POST - CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon menilai percepatan adopsi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) secara global berisiko melampaui kesiapan sosial dan ekonomi masyarakat, sehingga berpotensi memicu gejolak sosial jika tidak dikelola dengan hati-hati.

Dimon mengakui AI membawa manfaat besar, mulai dari peningkatan produktivitas hingga terobosan di sektor kesehatan. Namun, menurutnya, penerapan teknologi tersebut perlu dilakukan secara bertahap agar tidak berdampak buruk bagi kelompok pekerja yang terdampak otomatisasi.

Dilansir dari The Guardian, Jumat (23/1/2026), Dimon menegaskan pemerintah dan dunia usaha harus menyiapkan mekanisme perlindungan, termasuk pelatihan ulang tenaga kerja, untuk mengantisipasi dampak sosial dari perkembangan AI yang terlalu cepat.

“Kecerdasan buatan mungkin bergerak terlalu cepat bagi masyarakat. Jika itu terjadi, pemerintah dan dunia usaha harus bekerja sama melakukan transisi secara bertahap,” ujar Dimon.

Meski demikian, Dimon menegaskan AI tidak mungkin dihindari. Menurutnya, perusahaan dan negara lain akan terus mengadopsi teknologi tersebut demi menjaga daya saing. Ia memperkirakan dalam lima tahun ke depan, JPMorgan Chase akan beroperasi dengan jumlah karyawan yang lebih sedikit seiring penerapan AI di berbagai lini bisnis.

Sebagai contoh, Dimon menyoroti sektor transportasi Amerika Serikat. Kehadiran kendaraan tanpa pengemudi dinilai berpotensi menghilangkan mata pencaharian sekitar dua juta pengemudi truk jika transisi dilakukan secara mendadak, kondisi yang menurutnya dapat memicu gejolak sosial.

Dimon juga mendorong pemerintah menyiapkan bantuan pendapatan, pelatihan ulang, relokasi, hingga skema pensiun dini bagi pekerja terdampak. Ia menilai langkah tersebut penting demi menjaga stabilitas sosial di tengah transformasi teknologi.

Selain AI, Dimon menyinggung dinamika geopolitik global, termasuk hubungan Amerika Serikat dengan Eropa dan NATO. Ia menilai arah kebijakan Eropa seharusnya ditentukan oleh kepemimpinan kawasan itu sendiri.

Di sisi lain, CEO Nvidia Jensen Huang menyampaikan pandangan berbeda. Menurutnya, ancaman utama dari AI bukan pemutusan hubungan kerja massal, melainkan kekurangan tenaga kerja. Huang menyebut pembangunan infrastruktur AI sebagai proyek terbesar dalam sejarah manusia yang justru akan menciptakan banyak lapangan kerja.

Perbedaan pandangan tersebut mencerminkan perdebatan global mengenai bagaimana menyeimbangkan percepatan teknologi dengan kesiapan dan stabilitas sosial masyarakat. (jpc)

Editor : Hanif
#Jamie Dimon #Ekonomi #gejolak sosial #CEO JPMorgan #AI global