Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Bencana Longsor Bandung Barat, Operasi SAR Berlanjut dan Pemerintah Rencanakan Relokasi Warga

Hanif PP • Senin, 26 Januari 2026 | 10:49 WIB

 

 

PENCARIAN: Tim SAR Gabungan melakukan pencarian para korban longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisaruan, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (25/1).
PENCARIAN: Tim SAR Gabungan melakukan pencarian para korban longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisaruan, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (25/1).

PONTIANAK POST – Operasi pencarian korban tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kabupaten Bandung Barat, memasuki hari kedua kemarin (25/1). Namun, hingga siang, belum ada perkembangan signifikan. Jumlah jenazah yang ditemukan tetap sembilan orang. Sebanyak 65 orang lainnya diduga masih terkubur dalam timbunan material longsor.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan, selain korban meninggal dunia, terdapat 23 jiwa dilaporkan selamat. Sehingga, total korban terdampak berjumlah 113 jiwa. "Angka jumlah korban ini bersifat sementara dan masih akan terus dilaksanakan verifikasi di lapangan," ujarnya. Dari sembilan jenazah yang sudah diidentifikasi itu, lima jenazah sudah diserahkan kepada pihak keluarga. Sedangkan 4 orang korban masih di Posko Disaster Victim Identification (DVI).

"Upaya pencarian dilakukan dengan pengerahan alat berat. Namun, kondisi tanah yang masih labil menjadi tantangan bagi tim SAR gabungan," ujarnya. BPBD Kabupaten Bandung Barat bersama instansi gabungan masih melakukan pendataan lanjutan dan pemantauan di lokasi terdampak. "Termasuk proses pencarian korban serta pendataan rumah terdampak," paparnya.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penangggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto menjelaskan, pihaknya memastikan seluruh masyarakat terdampak, baik korban langsung maupun warga yang kehilangan anggota keluarga, tempat tinggal, dan mata pencaharian, akan ditangani secara menyeluruh.

Untuk warga terdampak bencana, pihaknya  menyiapkan dua opsi. Yakni, pembangunan hunian sementara (huntara) atau penempatan warga di rumah kerabat. "Sebagaimana yang telah diterapkan pada penanganan bencana di daerah lain, termasuk yang saat ini masih berlangsung di Sumatera," katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan, relokasi warga akan dilakukan secara terpusat atau mandiri. Karena itu, pihaknya telah meminta Pemkab Bandung Barat mencari lahan yang tepat. ''Bapak Wakil Presiden secara khusus menekankan pentingnya kehati-hatian dalam penentuan lokasi relokasi guna menghindari risiko bencana di kemudian hari," katanya.

Pihkanya akan menggandeng Badan Geologi dan Pusat Mitigasi Bencana Geologi untuk melakukan kajian dan menentukan wilayah yang aman dihuni. "Tidak hanya warga yang terdampak langsung oleh longsor, masyarakat yang tinggal di kawasan rawan meskipun belum terkena longsor juga akan ditindaklanjuti. Relokasi akan dilakukan sebagai langkah pencegahan," katanya, dikutip dari Radar Bandung.

Menko PMK Pratikno menegaskan penyelamatan jiwa menjadi prioritas utama. Operasi SAR dilakukan 24 jam non-stop dengan melibatkan lima klaster, yakni SAR, kesehatan, logistik, pengungsian dan perlindungan, serta pemulihan. Status tanggap darurat telah ditetapkan sejak 23 Januari 2026 selama 14 hari.

Sementara itu, Kementerian Sosial telah menyalurkan bantuan logistik berupa tenda, selimut, kasur, makanan siap saji, dan kebutuhan dasar lainnya. Dapur umum juga didirikan di SDN 1 Pasirlangu. Mensos Saifullah Yusuf menyatakan pemerintah akan memberikan santunan Rp15 juta bagi ahli waris korban meninggal dunia dan Rp5 juta bagi korban luka berat. Pendataan korban masih terus dilakukan agar penyaluran bantuan tepat sasaran. (idr/kro/mia/oni)

Editor : Hanif
#longsor #bandung barat #relokasi warga #rawan bencana