PONTIANAK POST - PBNU menegaskan bahwa konflik internal yang sempat memecah kepengurusan telah berakhir dan seluruh elemen NU kembali bersatu. Peringatan satu abad NU kini diposisikan sebagai momentum konsolidasi besar organisasi tanpa lagi kubu-kubuan.
Puncak Peringatan Harlah ke-100 Masehi Nahdlatul Ulama (NU) bakal digelar di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1).
Momen bersejarah ini bakal dihadiri seluruh jajaran pengurus NU di seluruh tingkatan, para ulama-masyayikh, serta segenap warga Nahdliyin. Presiden RI Prabowo Subianto juga dijadwalkan hadir dalam peringatan satu abad NU itu.
Jelang peringatan hajatan akbar ini, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memastikan bahwa seluruh dinamika yang sempat terjadi, telah berakhir. Tak ada lagi perpecahan. Tak ada lagi kubu-kubuan.
”Jajaran NU dari pusat sampai bawah memiliki aspirasi yang kuat sekali supaya kami kembali lagi bersama, bersatu, menyelesaikan apa pun yang sudah menjadi tantangan ke depan bersama-sama," kata Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf di kantor PBNU di Jakarta Jumat (30/1).
Dalam kesempatan itu, dia menegaskan posisinya di PBNU pasca sempat digoyang saat konflik berlangsung. Dia menyebut bahwa sejak 25 Desember 2021 alias Muktamar ke-34 di Lampung, sudah tidak ada lagi nama Yahya Cholil Staquf.
”Yang ada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Jamiyah Nahdlatul Ulama. Apa pun yang terjadi di dalam Muktamar, itulah hasil dari aspirasi. Tidak ada lagi Yahya, yang ada hanya PBNU dan Jamiyah NU," katanya.
Harlah 1 Abad NU ini mengangkat tema Mengawal Indonesia Merdeka, Menuju Peradaban Mulia. Tema ini sudah ditetapkan dalam rapat pada 21 Agustus 2025. ”Jadi sebelum pada ramai-ramai kami sudah menetapkan peringatan harlah ini dengan tema ini," ujarnya.
Seperti diketahui, internal PBNU sempat dilanda konflik hebat. Berawal dari pemberhentian Gus Yahya oleh jajaran Syuriah, yang berujung munculnya kubu kepengurusan. Namun, situasi itu mereda setelah para ulama dan kiai sepuh NU meminta agar konflik itu diakhiri.
Rapat Akbar jadi Pemuncak
Sementara itu, sebelumnya, Ketua PBNU Rumadi Ahmad menjelaskan, rangkaian acara akan dimulai sejak pukul 06.00 WIB. Diawali dengan pelaksanaan istighotsah kubra, mahallul qiyam, dan doa bersama.
Selanjutnya, pada puncak peringatan Harlah ke-100 Masehi digelar Rapat Akbar. ”Disebut Rapat Akbar karena diikuti semua elemen NU, mulai dari seluruh jajaran PBNU, hingga pengurus NU, lembaga, badan otonom (banom), dan badan khusus di semua tingkatan,” jelasnya.
Pada sesi puncak acara, selain amanat dari Presiden Prabowo, disampaikan pidato Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf serta taujihat Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar.
Selain itu, momen peringatan Harlah ke-100 Tahun Masehi NU juga bakal diisi dengan penggalangan donasi untuk membantu korban bencana yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.
Soal Dinamika Internasional
Di sela-sela persiapan Peringatan Harlah ke-100 Tahun Masehi NU, Gus Yahya menyampaikan sikapnya perihal keterlibatan Indonesia sebagai anggota pendiri Board of Peace (Dewan Perdamaian). Gus Yahya menyatakan bahwa membantu Palestina adalah bagian dari amanat.
”Karena seperti saya ingatkan tadi bahwa aspirasi proklamasi itu bukan hanya aspirasi Indonesia tapi aspirasi segala bangsa. Malah kita tidak boleh berhenti sampai kapan pun untuk terus membantu bangsa Palestina," tegasnya.
Menurutnya, saat ini dinamika yang ada penuh dengan ketidakpastian. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, serta berbagai negara Eropa disebutnya penuh dengan ketidakpastian dan wacana serta isu-isu kontroversial yang muncul.
Oleh sebab itu, di tengah ketidakpastian ini, dia menilai kalau ingin dan sungguh-sungguh berbuat sesuatu untuk membantu Palestina menemukan jalan keluar dari masalahnya, maka harus hadir di semua arena.
Dari pertimbangan inilah, dia menyebutkan keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk bergabung dalam BoP adalah keputusan yang tepat berdasar komitmen yang abadi untuk membantu Palestina. (raf/ant/ris)
Editor : Hanif