PONTIANAK POST - Di tengah tekanan perdagangan dunia dan gejolak geopolitik, ekonomi Indonesia tetap melaju. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2025 mencapai 5,11 persen. Angka itu lebih tinggi dibandingkan 2024 yang sebesar 5,03 persen. Konsumsi masyarakat masih menjadi mesin utama yang menjaga ekonomi stabil.
Pada kuartal IV 2025, Produk Domestik Bruto (PDB) tumbuh 5,39 persen secara tahunan (YoY), meningkat dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar 5,02 persen.
Kepala BPS RI Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama pertumbuhan. Kinerja konsumsi ditopang meningkatnya mobilitas masyarakat selama libur Natal dan tahun baru (Nataru), kebijakan pengendalian inflasi, serta paket stimulus pemerintah untuk menjaga daya beli. Indikatornya terlihat dari meningkatnya transaksi e-commerce, penggunaan uang elektronik, kartu debit, dan kartu kredit.
“Jumlah perjalanan wisatawan nusantara tumbuh 13,42 persen (YoY) pada kuartal IV 2025, diikuti peningkatan penumpang angkutan rel dan laut,” tuturnya di Jakarta kemarin (5/2).
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan juga ditopang pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang tumbuh 6,12 persen. Hal itu seiring meningkatnya investasi bangunan, mesin, dan peralatan. Konsumsi pemerintah naik 4,55 persen.
Genjot Belanja
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pertumbuhan 5,11 persen sebagai capaian positif meski sedikit di bawah target APBN 2025 sebesar 5,2 persen. Dia menyoroti lonjakan kuartal IV 2025 yang mencapai 5,39 persen, tertinggi dibanding tiga kuartal sebelumnya. “Yang penting arah ekonomi sudah membalik,” katanya.
Purbaya menargetkan pertumbuhan ekonomi mendekati 6 persen pada 2026 dengan mendorong belanja pemerintah lebih agresif. Dia memastikan tidak ada pengetatan belanja, melainkan percepatan realisasi. “Saya gebuk-gebuk kementerian/lembaga (K/L) supaya belanja lebih cepat di kuartal pertama dan kedua,” katanya.
Pemerintah juga menyiapkan insentif menjelang Ramadan dan Lebaran serta memastikan tidak menaikkan pajak dalam waktu dekat demi menjaga daya beli. “Pajak belum akan saya naikkan. Kita jaga daya beli,” tuturnya.
Belum Ada Lompatan
Ekonom UPN Veteran Jakarta Achmad Nur Hidayat menyebutkan, pertumbuhan 5,11 persen belum mencerminkan lompatan signifikan. Menurut dia, ekonomi masih sekadar tumbuh tanpa mesin baru penggerak.
“Anggaran sudah mandiri, ruang fiskal ada, energi politik besar. Tapi mesin baru pertumbuhan belum muncul,” ujarnya.
Dia menyoroti program besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih yang dinilai ramai di narasi, tetapi daya ungkitnya ke ekonomi riil, terutama pekerja dan UMKM, belum terasa kuat.
Kalbar Lampaui Nasional
Ekonomi Kalimantan Barat (Kalbar) pada 2025 tumbuh 5,39%, lebih tinggi dari 2024 yang hanya 4,90%. Sektor pertambangan dan penggalian mencatatkan pertumbuhan tertinggi dengan 31,48%, diikuti sektor konstruksi yang tumbuh 8,69%.
Menurut Kepala BPS Kalbar, Much. Saichudin, PDRB Kalbar pada 2025 mencapai Rp 328,57 triliun (ADHB) dan Rp 171,33 triliun (ADHK 2010). Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap menjadi kontribusi terbesar, dengan 21,66%.
Dari sisi pengeluaran, komponen impor barang dan jasa tumbuh 41,75%, sementara pengeluaran konsumsi rumah tangga menyumbang 48,51% terhadap ekonomi.
Beberapa faktor pendukung pertumbuhan termasuk kenaikan produksi bijih bauksit yang melonjak 167,59% dan produksi alumina yang tumbuh 18,31%. Sektor CPO meningkat meski tipis (0,16%), sementara investasi konstruksi dan kredit masing-masing naik 50,76% dan 3,39%. (mim/dio)
Editor : Hanif