Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Salinan Ijazah Jokowi Dipamerkan di KPU, Bonatua: Kini Saatnya Uji dengan Fakta Empiris

Khoiril Arif Ya'qob • Rabu, 11 Februari 2026 | 13:08 WIB

Pengamat kebijakan publik Bonatua Silalahi memamerkan salinan ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di halaman Kantor KPU RI, Jakarta, Senin (9/2).
Pengamat kebijakan publik Bonatua Silalahi memamerkan salinan ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di halaman Kantor KPU RI, Jakarta, Senin (9/2).

PONTIANAK POST - Polemik mengenai keaslian ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) kembali menjadi sorotan. Pengamat kebijakan publik Bonatua Silalahi memamerkan salinan ijazah Jokowi di halaman Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI, Jakarta, Senin (9/2).

Melansir Jawa Pos (10/2), aksi tersebut merupakan tindak lanjut atas putusan Komisi Informasi Pusat (KIP) yang mengabulkan seluruh permohonannya terkait informasi yang sebelumnya dikecualikan.

“Inti acara kita hari ini adalah menerima salinan resmi fotokopi ijazah. Saya catat, ini fotokopi ijazah terlegalisir berwarna tanpa sensor,” ujar Bonatua di kompleks KPU RI.

Dalam kesempatan itu, Bonatua tampak memegang salinan ijazah yang ditempel pada papan styrofoam. Ia menjelaskan, dokumen tersebut merupakan ijazah yang digunakan Jokowi sebagai syarat pencalonan Presiden RI pada dua periode, yakni 2014–2019 dan 2019–2024.

Baca Juga: Bareskrim Nyatakan Ijazah Jokowi Asli! Tak Ditemukan Pidana Pemalsuan, Penyelidikan Dihentikan

“Bagian atas adalah salinan ijazah untuk pencalonan 2019, yang bawah untuk 2014,” katanya.

Menurut Bonatua, perdebatan mengenai ijazah Jokowi selama ini terbelah menjadi tiga kelompok di ruang publik: pihak yang meyakini keasliannya, pihak yang masih meragukan, dan pihak yang menolak mempercayainya sama sekali.

Ia menilai polemik tersebut kerap terjebak pada perdebatan berbasis keyakinan, bukan pembuktian ilmiah.

“Selama ini kita dijebak pada ranah keyakinan, bukan ranah ilmiah. Dengan adanya ini, kami mencoba menawarkan pendekatan baru, yaitu pendekatan fakta empiris. Karena saya peneliti, inilah hasil dari fakta empiris tersebut,” tegasnya.

Langkah Bonatua ini pun menambah babak baru dalam diskursus publik mengenai transparansi dokumen pencalonan presiden, sekaligus membuka ruang pembuktian berbasis data di tengah perdebatan yang selama ini bergulir di ruang opini. (*)

Editor : Miftahul Khair
#Bonatua Silalahi #Salinan #ijazah jokowi #kpu