PONTIANAK POST — Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Amerika Serikat merupakan sahabat sejati Indonesia. Pernyataan itu disampaikan dalam rangkaian Forum Bisnis dan Gala Iftar Business Summit di US Chamber of Commerce, Rabu (18/2) waktu setempat. Di hadapan para pengusaha dan pejabat Amerika, Prabowo menekankan bahwa hubungan kedua negara tidak hanya dibangun di atas kepentingan dagang, tetapi juga sejarah solidaritas dan kerja sama pada saat-saat kritis.
“Sepanjang sejarah kami, Amerika Serikat selalu membantu Indonesia di saat-saat sulit. Kami mengajarkan generasi muda untuk tidak melupakan sahabat yang berdiri bersama kami ketika kami membutuhkan,” ujar Prabowo.
Ia membedakan persahabatan sejati dengan relasi yang hanya hadir ketika situasi menguntungkan. Menurutnya, Indonesia memilih memelihara hubungan dengan negara-negara yang konsisten mendukung stabilitas dan pembangunan, termasuk Amerika Serikat.
Namun Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tetap konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif dan nonblok. Prinsip tersebut, kata dia, tidak menghalangi Indonesia untuk menjalin kedekatan dengan negara mana pun.
“Indonesia adalah teman sejati bagi Amerika Serikat. Namun kami tetap menghormati semua kekuatan besar. Kami ingin menjadi jembatan, semacam broker, antara kekuatan-kekuatan besar dunia,” tegasnya.
Kerja Sama 38,4 miliar Dolar
Pernyataan diplomatik itu disertai langkah konkret melalui penandatanganan 11 nota kesepahaman (MoU) antara pelaku usaha Indonesia dan Amerika Serikat dengan nilai total USD 38,4 miliar. Penandatanganan berlangsung dalam forum US–ASEAN Business Council di Gedung U.S. Chamber of Commerce.
Kerja sama tersebut mencakup sektor pertambangan dan hilirisasi, energi, agribisnis, tekstil dan garmen, manufaktur furnitur, hingga teknologi. Prabowo menyebut kesepakatan itu sebagai bukti bahwa persahabatan politik diterjemahkan menjadi kemitraan ekonomi yang saling menguntungkan. “Kesepakatan ini mempertegas posisi Indonesia sebagai mitra strategis di kawasan Indo-Pasifik,” kata Prabowo.
Ia menambahkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan strategis, tetapi kini diarahkan pada percepatan industrialisasi. Pemerintah mendorong agar perusahaan Amerika tidak hanya melihat Indonesia sebagai pasar besar, melainkan sebagai basis produksi utama.
Undang AS Kelola Mineral Kritis dan Energi
Di sektor mineral kritis, kerja sama ditandai dengan penandatanganan memorandum of agreement antara Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Perkasa Roeslani dengan President & CEO Freeport-McMoRan Kathleen Quirk serta Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas.
Baca Juga: Lukisan SBY ‘Kuda Api’ Terjual Seharga Rp 6,5 Miliar, Agus Yudhoyono Tegaskan Dana untuk Kemanusiaan
Sementara itu, di sektor energi, Pertamina menandatangani MoU oilfield recovery dengan Halliburton. Kesepakatan ini diarahkan pada peningkatan produksi migas melalui penerapan teknologi pemulihan lapangan minyak. Prabowo menilai sektor mineral kritis dan energi merupakan fondasi penting bagi transformasi ekonomi Indonesia sekaligus penguatan posisi dalam rantai pasok global.
Pada sektor teknologi, kerja sama pengembangan semikonduktor disepakati antara PT Galang Bumi Industri dengan Essence dan Tynergy Technology Group. Direktur Utama PT Galang Bumi Industri Ahmad Maruf Maulana mengatakan kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat hilirisasi mineral dan energi terbarukan di dalam negeri.
Ekosistem proyek mencakup pengolahan kuarsa silika hingga produksi polysilicon untuk kebutuhan semikonduktor dan panel surya. Tahap awal investasi diperkirakan mencapai USD 4,9 miliar. Nilainya berpotensi meningkat hingga USD 26,7 miliar jika pembangunan fasilitas lanjutan berjalan sesuai rencana. Proyek ini diharapkan membentuk rantai produksi semikonduktor terintegrasi di Indonesia sekaligus mempercepat transformasi ekonomi berbasis teknologi.
Selain MoU investasi, Prabowo juga mengumumkan rencana penandatanganan perjanjian tarif perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat dalam kunjungan resminya pada Kamis (19/2). “Saya berada di sini untuk menyelesaikan perjanjian perdagangan besar antara dua negara kita. Ini memberi sinyal jelas bahwa Indonesia dan Amerika Serikat memilih memperdalam kerja sama ekonomi dan memperkuat kepastian bagi dunia usaha,” ujar Prabowo.
Ia mengajak pengusaha AS menjadi mitra serius dan jangka panjang dalam proses modernisasi dan industrialisasi Indonesia. Menurutnya, kemitraan tersebut harus bersifat saling menguntungkan. Dalam forum tersebut, Prabowo menekankan peran sovereign wealth fund Indonesia, Danantara, sebagai motor utama hilirisasi industri nasional.
Tahun ini, Danantara menginisiasi 18 proyek pengolahan industri hilir. Ia menyebut Indonesia memiliki cadangan mineral kritis seperti nikel, tembaga, bauksit, serta tanah jarang yang menjadi bahan baku teknologi masa depan.
Dalam agenda yang sama, Prabowo mengungkapkan bahwa ia akan menghadiri pertemuan perdana Board of Peace (BoP) untuk membahas implementasi dan kelanjutan gencatan senjata di Gaza, Palestina. Pertemuan itu diikuti sejumlah negara yang aktif mendorong perdamaian, termasuk Indonesia, Arab Saudi, Turki, Mesir, Yordania, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Pakistan.
Prabowo menegaskan Indonesia konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif serta mendukung solusi dua negara bagi Palestina. “Kami melanjutkan kebijakan luar negeri nonblok dan berkomitmen menjalankan Good Neighbor Policy,” tegasnya.
Pandangan Ekonom
Executive Director Segara Institute Piter Abdullah menilai pemerintah menunjukkan keseriusan dalam mengupayakan perjanjian tarif yang menguntungkan Indonesia. Ia menyebut sektor seperti CPO, tekstil, alas kaki, dan karet perlu menjadi fokus karena terkait langsung dengan rantai pasok UMKM.
Ekonom Universitas Gadjah Mada Eddy Junarsin menambahkan bahwa kesepakatan tarif juga berdimensi strategis dalam menjaga posisi Indonesia di tengah kompetisi global. Namun peningkatan daya saing produk nasional tetap menjadi keharusan.
Sementara itu, ekonom CORE Yusuf Rendy Manilet mengingatkan bahwa keterbukaan pasar yang lebih besar juga membawa risiko bagi sektor manufaktur padat karya. Menurutnya, tekstil, alas kaki, dan elektronik perlu mendapat perhatian khusus agar tidak tertekan oleh arus impor. (jpc)
Editor : Hanif