Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

PBNU Resmikan 41 SPPG di Lombok Barat, Gus Yahya: Perbaiki Gizi Santri dan Cetak Generasi Berdaya Saing

Khoiril Arif Ya'qob • Selasa, 24 Februari 2026 | 13:43 WIB

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.

PONTIANAK POST - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi meluncurkan 41 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) NU yang dipusatkan di Pondok Pesantren Darul Qur’an Bengkel, Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (21/2).

Peluncuran ini menjadi tonggak penting dalam penguatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berbasis pesantren sekaligus memperluas jaringan layanan gizi di lingkungan Nahdliyin.

Melansir Jawa Pos (23/2), peresmian tersebut merupakan tahap keempat peluncuran SPPG oleh TKA-PBNU setelah sebelumnya digelar di Cirebon, Jember, dan Batang.

Agenda ini turut dihadiri Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, jajaran pimpinan PBNU, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, serta pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN).

Baca Juga: 4 Calon Ketua Umum PBNU Menguat Jelang Muktamar ke-35 NU 2026, Ada Cak Imin dalam Daftar

Lanjutkan Marwah Perjuangan Ulama NTB

Ketua PWNU NTB Prof TGH Masnun Tahir selaku tuan rumah menegaskan bahwa kehadiran program ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan kelanjutan dari perjuangan ulama terdahulu di NTB.

Ia menyampaikan bahwa peluncuran SPPG di Pondok Pesantren Darul Qur’an Bengkel merupakan keberlanjutan dari marwah perjuangan Datuk Bengkel, Rais Syuriah pertama PWNU NTB.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa sinergi NU dan pemerintah menjadi bagian tak terpisahkan dalam membangun kesejahteraan umat.

Program MBG dinilai sebagai bentuk konkret kehadiran negara di tengah masyarakat sekaligus sejalan dengan visi besar PBNU dalam meningkatkan kualitas hidup warga Nahdliyin.

Baca Juga: Harlah NU ke-103 di Ketapang: Jamhuri Amir Tekankan Peran NU dalam Merawat Persatuan dan Pembangunan

Gus Yahya: Banyak Santri Kenyang, Tapi Belum Sehat

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengungkapkan bahwa kolaborasi dengan BGN telah dimulai sejak peringatan Harlah ke-102 NU pada awal Februari 2025.

Ia menegaskan, target pembangunan 1.000 titik SPPG di seluruh Indonesia merupakan komitmen nyata mendukung program strategis Presiden dalam bidang penguatan gizi nasional.

“Data menunjukkan banyak santri kita yang kenyang secara kuantitas, namun masih mengalami masalah kesehatan seperti anemia akibat gizi yang tidak seimbang. Program ini hadir untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia pesantren agar lahir generasi yang berkualitas dan berdaya saing,” ujar Gus Yahya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa persoalan gizi di pesantren bukan hanya soal kecukupan makanan, tetapi juga kualitas nutrisi yang berdampak langsung pada kesehatan dan daya saing generasi muda.

SPPG Diproyeksikan Jadi Pusat Perubahan Perilaku Gizi

Direktur Penyediaan dan Penyaluran Wilayah 2 BGN, Nurjaeni, menyampaikan apresiasi atas percepatan pembentukan SPPG oleh PBNU.

Ia menilai, program ini memiliki potensi strategis dalam transformasi pola konsumsi sehat di lingkungan pesantren.

Ia menegaskan bahwa SPPG bukan hanya menjadi tempat penyediaan makanan halal dan aman bagi santri, tetapi juga diproyeksikan sebagai center of excellence atau pusat perubahan perilaku gizi.

Saat ini, sebanyak 188 SPPG telah berdiri dan 205 lainnya masih dalam tahap persiapan. Sejumlah unit di antaranya direncanakan akan ditetapkan melalui surat keputusan (SK) sebagai percontohan nasional.

Model ini bahkan diproyeksikan menjadi rujukan bagi delegasi negara-negara ASEAN yang ingin mempelajari implementasi program gizi berbasis komunitas di Indonesia.

Baca Juga: Peringati Harlah dan Muslimat NU, Bupati Kayong Utara Ajak Perkuat Sinergi Bangun Daerah

Dorong Standarisasi dan Kemandirian Pangan Pesantren

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Ketua RMI PBNU KH Hodri Ariev menekankan pentingnya pembentukan forum pengelola dapur di bawah fasilitasi TKA-PBNU.

Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga standardisasi layanan, kualitas distribusi, serta keberlanjutan program di berbagai daerah.

Selain memastikan tata kelola yang profesional, inisiatif ini juga diarahkan untuk memperkuat kemandirian pangan warga Nahdliyin dan masyarakat luas melalui ekosistem pesantren.

Baca Juga: Jadwal Ramadan, Idulfitri, dan Iduladha 2026 Versi Muhammadiyah dan NU: Ada Potensi Berbeda?

Gubernur NTB: Pesantren Jadi Basis Baru Kekuatan Ekonomi Umat

Sebagai penutup, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyoroti dampak ekonomi mikro dari operasional dapur-dapur pesantren.

Menurutnya, SPPG tidak hanya berdampak pada kesehatan santri, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi petani, peternak, dan pelaku UMKM lokal.

“Pesantren akan menjadi basis baru kekuatan ekonomi umat. Dimulai dari SPPG, kita berharap ini berkembang menuju kemandirian peternakan dan pertanian di lingkungan pesantren. Jika hal itu terwujud, kekuatan ekonomi rakyat akan tercipta secara masif,” pungkasnya. (*)

Editor : Miftahul Khair
#Mbg #SPPG #PBNU #Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi #lombok barat