PONTIANAK POST – Eskalasi konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel berdampak pada terhambatnya kepulangan jemaah umrah asal Indonesia dari Arab Saudi. Sejumlah jalur penerbangan ditutup sementara sehingga banyak jemaah belum dapat kembali ke Tanah Air.
Direktur Rumah Sakit Pontianak Utara, Nuzulisa Zulkifli, menjadi salah satu jemaah umrah yang belum bisa pulang.
Saat ini ia bersama 20 jemaah dari salah satu travel umrah asal Pontianak masih tertahan di Jeddah akibat dampak konflik tersebut.
“Untuk saat ini kondisi di Tanah Suci aman. Ibadah tetap berjalan seperti biasa. Hanya saja penerbangan tertunda. Sejak kemarin, penerbangan via Timur Tengah ke UEA tidak bisa terbang. Kami juga belum mendapatkan jadwal baru. Sudah diupayakan mencari penerbangan langsung ke Jakarta, tetapi semuanya penuh,” ungkapnya kepada Pontianak Post, Senin (2/3).
Akibat pembatalan penerbangan, Nuzulisa dan jemaah lainnya harus kembali menginap di hotel di Jeddah.
Ia memastikan kebutuhan makan dan minum masih tercukupi dan situasi relatif kondusif.
Pihak travel umrah juga bertanggung jawab terhadap para jemaah dengan membantu menyediakan penginapan, meskipun terdapat tambahan biaya.
Ia mengaku mendapat informasi bahwa pemerintah Arab Saudi memberikan fasilitas bagi jemaah umrah yang mengalami kendala kepulangan.
Namun hingga kini, ia belum mengetahui secara rinci mekanisme dan alur untuk memperoleh fasilitas tersebut.
Sementara itu, dari pihak Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Arab Saudi, belum ada informasi resmi terkait bantuan khusus bagi jemaah umrah Indonesia yang terdampak penundaan penerbangan akibat konflik ketiga negara tersebut.
“Sampai sekarang kami bersama pihak travel masih terus mencari informasi dan solusi agar bisa segera pulang. Update dari maskapai, kemungkinan ada penerbangan pada 4 Maret. Harapan saya bisa lebih cepat kembali ke Tanah Air karena banyak urusan sudah menunggu,” ujarnya.
Ia juga berharap konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel segera mereda, terlebih situasi ini terjadi di bulan Ramadan saat umat Muslim di seluruh dunia sedang menjalankan ibadah puasa.
DPRD Kalbar Keselamatan WNI Dijamin
Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Aloysius, meminta Pemerintah Indonesia segera memastikan keselamatan warga negara Indonesia (WNI), termasuk warga asal Kalbar, yang berada di kawasan terdampak konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Ia menyampaikan kekhawatirannya terhadap WNI yang tengah menjalankan ibadah umrah, bekerja, menempuh pendidikan, maupun melakukan kunjungan di negara-negara sekitar wilayah konflik.
“Mungkin ada warga Kalbar yang sedang umrah, belajar, bekerja, atau berwisata di wilayah-wilayah konflik itu. Sekarang sudah terjadi serangan rudal berdaya ledak tinggi dan pesawat tempur canggih. Kita tentu khawatir,” ujarnya.
Aloysius berharap pemerintah pusat melalui kementerian terkait dan perwakilan diplomatik Indonesia di luar negeri dapat mengambil langkah teknis pengamanan hingga evakuasi apabila diperlukan.
Menurutnya, pembatasan penerbangan di wilayah udara sekitar zona konflik menyebabkan penundaan kepulangan WNI. Sejumlah bandara dilaporkan membatasi pendaratan dan keberangkatan pesawat demi alasan keamanan.
“Kepulangan tertunda karena pesawat tidak bisa mendarat di wilayah yang mendekati zona konflik. Ini tentu menjadi perhatian serius,” katanya. Ia menekankan pentingnya akses informasi yang jelas bagi keluarga WNI di Kalimantan Barat agar memperoleh kepastian mengenai kondisi serta rencana pemulangan.
Imbau Jemaah Tetap Tenang
Sementara itu, Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Kalbar, Kamaludin, mengimbau jemaah umrah serta Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) agar tetap tenang namun waspada terhadap perkembangan situasi. “Masih ada jemaah Kalbar yang sedang umrah. Tetap tenang dan tidak panik,” ujarnya, Minggu (1/3).
Ia menegaskan jemaah dan PPIU harus mengikuti arahan otoritas setempat dan pemerintah Indonesia serta hanya mengakses informasi dari sumber resmi. Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Pengelolaan Umrah dan Haji Khusus (SISKOPATUH), tercatat sebanyak 58.873 jemaah umrah Indonesia masih berada di Arab Saudi. Pemerintah memastikan seluruh jemaah tersebut berada dalam pemantauan ketat. (iza/den)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro