Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

In memoriam: Jenderal Try Sutrisno

Miftahul Khair • Rabu, 4 Maret 2026 | 12:52 WIB

Mantan wakil presiden ke-6, Jenderal Purn Try Sutrisno (kanan).
Mantan wakil presiden ke-6, Jenderal Purn Try Sutrisno (kanan).

INNALILLAHI wa inna ilaihi raji’un. Kalimat itulah yang pertama terucap ketika aku membaca pesan singkat di telepon genggamku. Pesan itu dikirim oleh Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono. Kabar duka itu kuterima pada Senin (2/3/2026). Sejenak ruang batinku dipenuhi kesedihan, tertuju pada seorang baik yang telah meninggalkan dunia fana ini.

Pak Try, begitu aku biasa menyapanya. Kadang pula kupanggil Ayah Try. Nama itu tentu tidak asing. Ia adalah sosok yang santun, sederhana, dan amat bersahaja. Meski pernah menjadi orang kedua dalam kepemimpinan negara pada masa Orde Baru, Pak Try tetaplah Pak Try yang kukenal: ikhlas, tulus, dan tak pernah jauh dari mengingat Tuhannya.

Almarhum wafat pada usia 90 tahun. Bapak dan Guru Bangsa yang bersahaja ini berpulang dengan tenang, penuh ketulusan menuju rahmatullah. Lelaki kelahiran Surabaya, 15 November, 90 tahun silam ini menerima suratan takdir pada hari yang baik di bulan yang baik pula, memenuhi kodrat dan iradat Sang Maha Pencipta untuk kembali ke negeri keabadian dengan lapang dan tenteram.

Aku mulai mengenal beliau secara dekat sejak tahun 2000. Saat itu almarhum menjabat sebagai salah seorang anggota Dewan Kehormatan Badan Pembudayaan Kejuangan 45 Republik Indonesia. Aku hadir dalam Musyawarah Besar Nasional lembaga yang dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia tersebut sebagai anggota, bahkan sebagai anggota termuda.

Sebagai anggota termuda di antara para sesepuh bangsa dan para eksponen Pejuang Angkatan 45, almarhum Pak Try memberi perhatian kepadaku. Terlebih pada beberapa kesempatan rapat paripurna, aku memimpin persidangan mendampingi anggota tertua.

Sejak November 2000 hingga akhir hayat beliau, hubungan kami terjalin sangat baik, layaknya orang tua dengan anak. Hal itu sungguh kurasakan. Pada tahun 2014, Pak Try berkunjung ke Pontianak dan berkenan singgah di rumah kami. Hampir dua jam kami makan siang bersama. Beliau datang bersama rombongan, antara lain Jenderal TNI Purnawirawan Dr. H. Ramli Hasan Basri—yang akrab disapa Ayah RHB—dan bercengkerama penuh canda tawa.

Salah satu kenangan tak terlupakan adalah pada malam kunjungan itu, ketika kami menikmati buah durian khas Pontianak. Ternyata beliau penyuka durian. Bahkan siangnya di meja makan beliau sempat berseloroh menanyakan tempoyak sebagai pendamping lauk. Lidah beliau tidak asing dengan masakan Melayu.

Pak Try, Ayah RHB, dan rombongan juga kuajak berziarah ke Makam Juang Mandor. Aku melihat beliau khusyuk memanjatkan doa di pusara para syuhada. Beliau berharap suatu saat negara hadir untuk menata Makam Juang Mandor dengan lebih baik dan layak.

Dalam setiap kunjunganku ke kediaman beliau di kawasan Menteng, Jakarta, aku selalu terkesan dengan kesederhanaan beliau dan keluarganya. Bayangkan, seorang mantan Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, dengan anak dan menantu berpangkat jenderal, tetap menjalani kehidupan sehari-hari secara sederhana. Kesederhanaan itulah yang menjadikan beliau bersahaja.

Suatu ketika aku berkunjung ke rumah beliau bersama Pak Munir Hd dan Bang Yafandi. Kami berbincang banyak hal, terutama tentang kemaslahatan umat, khususnya terkait Masjid Raya Mujahidin Pontianak. Salah satu amal jariah almarhum adalah mengingatkan agar nama “Mujahidin” tetap melekat erat sebagai nama masjid raya di Ibu Kota Kalimantan Barat.

Kini almarhum telah menghadap Sang Maha Pemilik Segalanya. Pak Try, jenderal yang senantiasa mengingat Tuhan, pernah suatu kali bercanda kepadaku, “Dikmas, kami-kami ini telah melintasi perjalanan panjang sejarah. Namun rasanya kami belum sampai juga ke titik akhir yang dituju. Mohon, kalian yang masih memiliki kesempatan perjalanan panjang ini, teruskan niat tulus para pendahulu kita.”

Pada kesempatan lain, sambil menikmati teh hangat dan kudapan di ruang tamunya yang asri, Pak Try berkata, “Manusia sebagai ciptaan Allah Tuhan Yang Maha Kuasa adalah makhluk yang paling sempurna dan secara alamiah akan berganti generasi.”

Beliau melanjutkan, “Generasi penerus perjuangan bangsa yang dijiwai oleh semangat, cita-cita, dan pengorbanan para pahlawan dari masa ke masa harus menyadari dengan hati nurani yang paling dalam untuk terus memberdayakan jiwa, semangat, dan nilai-nilai kejuangan bangsa Indonesia sebagai nilai luhur demi tercapainya cita dan tujuan bangsa ini.”

Itulah Pak Try yang hari-hari ini dikenang dan diteladani makna hidupnya. Bagiku, terdapat begitu banyak cerita dan kenangan yang tak terbatas untuk dijadikan teladan dari beliau. Selamat jalan, Pak Try. Selamat menempuh hidup abadi di negeri keabadian, menikmati amal pahala dan ibadah yang tulus ikhlas diperbuat semasa hidup di dunia.

Semoga Allah Ta’ala, Tuhan Yang Maha Pengampun dan Maha Pemelihara, menerima beliau di surga-Nya. Aku tak henti mendoakan sembari mengenang Pak Try, seraya membaca kembali tutur cerita dan ungkapan beliau yang termaktub dalam buku biografinya yang pernah kutuliskan.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat melanjutkan kehidupan abadi di alam kemuliaan. Kukenang selamanya Bapak Jenderal TNI Purnawirawan Haji Try Sutrisno. (**)

 

*) Penulis: Syafaruddin DaEng Usman (sejarawan Kalbar)

Editor : Miftahul Khair
#try sutrisno #wapres ke 6 #mantan wakil presiden #In Memoriam