Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Dino Patti Djalal Pertanyakan Sikap Indonesia atas Kematian Ayatollah Khamenei: Masihkah Politik Luar Negeri Bebas Aktif?

Khoiril Arif Ya'qob • Rabu, 4 Maret 2026 | 13:52 WIB

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal.
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal.

PONTIANAK POST - Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI, Dino Patti Djalal, melontarkan pertanyaan tajam terkait arah politik luar negeri Indonesia.

Melalui unggahannya di platform X pada rabu (4/3), ia mempertanyakan apakah Indonesia masih konsisten menjalankan prinsip “bebas aktif” setelah pemerintah tidak menyampaikan ucapan belasungkawa atas wafatnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei.

Menurut Dino, selama bertahun-tahun Iran merupakan negara sahabat Indonesia. Kedua negara sama-sama tergabung dalam berbagai forum internasional, seperti Gerakan Non-Blok, Organisasi Kerja Sama Islam, D-8 Organization for Economic Cooperation, Group of 77, hingga BRICS.

Walaupun Indonesia dan Iran kerap memiliki perbedaan pandangan, sistem politik, dan ideologi, hubungan kedua negara selama ini relatif stabil.

Dino menegaskan, Iran memang memiliki sejumlah musuh dalam geopolitik global, namun tidak pernah meminta Indonesia untuk ikut memusuhi negara-negara tersebut. Fokus relasi bilateral selama ini adalah kerja sama, persahabatan, dan saling menghormati.

Baca Juga: Dino Patti Djalal Nilai Board of Peace Masih Rapuh dan Berisiko Bagi Indonesia: Terlalu Didominasi Trump

Pertanyaan soal Konsistensi Bebas Aktif

Sorotan utama Dino adalah absennya pernyataan resmi belasungkawa dari pemerintah Indonesia. Dalam praktik diplomatik, penyampaian belasungkawa kepada negara sahabat yang kehilangan pemimpinnya merupakan hal yang lazim.

“Kelupaan atau sengaja? Kalau sengaja, yang kita takutkan apa? Apakah yakin kita masih bebas aktif?” tulisnya.

Pernyataan tersebut menyentuh salah satu fondasi utama politik luar negeri Indonesia, yakni prinsip bebas aktif, bebas menentukan sikap tanpa terikat blok kekuatan tertentu, namun aktif berkontribusi dalam perdamaian dunia.

Dampak terhadap Diplomasi

Dino juga menyoroti kemungkinan implikasi sikap tersebut terhadap hubungan bilateral. Ia mengaitkan sikap “dingin” Indonesia dengan penolakan halus Menteri Luar Negeri Iran terhadap tawaran mediasi dari Indonesia.

Menurutnya, bukan tidak mungkin Iran mempertanyakan motivasi Indonesia setelah tidak adanya gestur simpati resmi atas wafatnya pemimpin mereka.

Pernyataan ini memunculkan diskusi publik mengenai konsistensi dan sensitivitas diplomasi Indonesia di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks.

Apakah langkah pemerintah didasari pertimbangan strategis tertentu? Ataukah sekadar kelalaian komunikasi diplomatik?

Baca Juga: Kedubes Iran Apresiasi Niat Presiden Prabowo Fasilitasi Mediasi Konflik AS–Iran demi Perdamaian Kawasan

Diskursus Publik Menguat

Unggahan Dino memantik perdebatan di ruang publik. Sebagian warganet menilai Indonesia perlu berhati-hati dalam menyikapi isu-isu yang sensitif secara global, sementara lainnya berpendapat bahwa etika diplomatik seharusnya tetap dijaga tanpa mengorbankan prinsip politik luar negeri.

Isu ini menjadi refleksi penting bagi arah kebijakan luar negeri Indonesia ke depan. Di tengah rivalitas kekuatan global dan ketegangan kawasan, konsistensi prinsip bebas aktif kerap diuji oleh dinamika politik internasional.

Sebagaimana ditutup Dino dalam unggahannya: “Something to think about".

Sebuah pengingat bahwa diplomasi bukan sekadar strategi, tetapi juga soal pesan, simbol, dan persepsi. (*)

Editor : Miftahul Khair
#dino patti djalal #Politik luar negeri #bebas aktif #iran #Ayatollah Khamenei