PONTIANAK POST — Konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel berdampak pada penerbangan internasional, termasuk perjalanan ibadah umrah. Sejumlah jemaah asal Indonesia bahkan tertunda kepulangannya ke tanah air.
Ketua Forum Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) Kalimantan Barat, Ahmad Kholil, berharap konflik tersebut segera mereda karena telah mengganggu bisnis umrah dan berpotensi memengaruhi musim haji mendatang.
“Pembatalan dan penjadwalan ulang penerbangan, lonjakan harga tiket, serta terganggunya rute penerbangan menimbulkan kerugian bagi biro perjalanan di Kalbar,” ujar Kholil yang juga Direktur Utama PT Muzdalifah, Jumat (6/3).
Menurutnya, jemaah yang menggunakan penerbangan langsung dari Arab Saudi ke Indonesia masih relatif aman dan berangkat sesuai jadwal. Sementara kendala banyak dialami jemaah yang menggunakan penerbangan transit.
“Situasi penerbangan masih on schedule, terutama yang menggunakan pesawat direct seperti Garuda, Lion Air, dan Saudia,” katanya.
Ia menjelaskan, penerbangan transit biasanya dipilih karena harga tiket lebih murah. Namun saat ini sejumlah maskapai dari negara transit seperti Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab membatasi penerbangan sehingga banyak rute terganggu.
Jika rute transit dihentikan, maka jemaah tidak dapat melanjutkan perjalanan pulang. Kondisi ini memaksa biro perjalanan dan jemaah mencari alternatif penerbangan lain yang jumlahnya terbatas. “Dalam kondisi seperti ini, harga tiket melonjak. Bahkan ada yang mencapai belasan juta rupiah,” ujarnya. Selain itu, tidak semua maskapai menanggung biaya akomodasi dan konsumsi selama penundaan penerbangan sehingga menambah beban jemaah maupun biro perjalanan.
Bayar Tiket Mandiri
Situasi tersebut juga dialami Direktur Rumah Sakit Pontianak Utara, Nuzulisa Zulkifli, yang sempat tertahan di Arab Saudi setelah menunaikan ibadah umrah.
“Alhamdulillah akhirnya saya dan suami bisa sampai ke Pontianak. Rutenya dari Mekkah ke Kuala Lumpur, lalu ke Kuching sebelum pulang ke Pontianak,” ujarnya.
Awalnya rombongan jemaah dijadwalkan pulang pada 1 Maret menggunakan maskapai Air Arabia melalui rute Sharjah–Abu Dhabi. Namun akibat konflik, jadwal diundur menjadi 4 Maret dan kembali dibatalkan.
Jemaah kemudian dijanjikan berangkat pada 5 Maret, tetapi penerbangan kembali dibatalkan. Pihak travel sempat mencoba memesan penerbangan langsung ke Jakarta, tetapi hanya masuk daftar tunggu karena tingginya permintaan tiket dari Bandara Jeddah dan Madinah.
Melihat situasi tersebut, Nuzulisa dan suami akhirnya memutuskan mencari tiket sendiri. “Sekitar pukul 04.00 kami memutuskan mencari tiket mandiri dan tidak pulang bersama rombongan,” katanya.
Keduanya akhirnya mendapatkan dua kursi penerbangan langsung Jeddah–Kuala Lumpur menggunakan maskapai Saudia dengan harga sekitar Rp10 juta per orang. Dari Kuala Lumpur mereka melanjutkan perjalanan hingga tiba di Pontianak.
Beberapa jemaah lain juga melakukan hal serupa dan berhasil mendapatkan tiket penerbangan langsung Jeddah–Makassar menggunakan maskapai Flyadeal sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta.
Menurut Nuzulisa, pihak travel tetap berupaya memprioritaskan kepulangan jemaah meski harus menanggung kerugian besar. Namun tidak semua jemaah memiliki kemampuan finansial untuk membeli tiket baru secara mandiri. “Tidak semua jemaah punya kelonggaran finansial untuk membeli tiket baru. Mudah-mudahan mereka yang masih tertahan segera bisa kembali ke tanah air,” ujarnya.
Kholil menambahkan, saat ini banyak jemaah telah memesan paket umrah Syawal. Seluruh persiapan, mulai dari maskapai, visa, hotel, hingga konsumsi, sudah dilakukan sehingga sulit dibatalkan.
Selain itu, administrasi umrah kini menggunakan sistem Nusuk, platform digital resmi Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi untuk pengurusan visa, izin masuk Raudhah, serta pemesanan layanan akomodasi dan transportasi. “Kalau visa sudah keluar tidak bisa dibatalkan karena menggunakan sistem Nusuk. Hotel juga tidak melakukan refund, berbeda dengan tiket pesawat yang masih bisa di-reschedule,” pungkasnya. (mrd/iza)
Editor : Hanif