PONTIANAK - Pengamat Politik Kalimantan Barat Jumadi mengatakan dampak geopolitik perang antara Iran melawan Amerika Serikat-Israel harus disikapi serius oleh pemerintah. Akibat perang tersebut, kini telah memunculkan keresahan sosial, salah satunya kepanikan masyarakat terhadap ketersediaan BBM.
“Perang antara Iran melawan Amerika-Israel pasti akan memunculkan dampak bagi negara kita. Oleh sebab itu, dalam menyikapi persoalan ini, negara mesti cermat dalam mengambil langkah dan kebijakan,” ujar Jumadi kepada Pontianak Post, Rabu (11/3).
Seperti yang terjadi beberapa hari ini, sebagian masyarakat dibuat resah akibat kelangkaan BBM. Situasi ini terjadi setelah beberapa hari Menteri Bahlil menyatakan jika persediaan BBM untuk Indonesia, hanya mencapai 20 hari.
Menurutnya, pernyataan Bahlil akan hal ini merupakan bentuk transparansi pemerintah. Namun di satu sisi, jangan sampai ini justru dimanfaatkan oleh oknum spekulan untuk mengambil kesempatan di tengah situasi seperti ini. “Seperti menumpuk minyak dan menjualnya dengan harga tinggi,” tegasnya.
Baca Juga: Sidak SPBU Parit H Husein dan Imam Bonjol, Edi Rusdi Kamtono Pastikan Distribusi BBM Tetap Lancar
Harusnya setiap membuat keputusan ke publik pemerintah memahami situasi dan kondisi. Jangan sampai, akibat pernyataan itu justru membuat masyarakat panik.
Dia juga menyinggung soal penetapan siaga I oleh TNI yang dimunculkan ke ranah masyarakat. Menurutnya ketika penetapan siaga I dilayangkan, artinya ada pandangan dan penafsiran pemerintah terhadap berbagai dinamika yang bakal terjadi di negara ini. Hal-hal seperti ini pastinya telah disikapi masyarakat.
Di tengah situasi saat ini ada baiknya pemerintah dalam bersikap dapat mengukur setiap pernyataan yang dilepaskan ke publik. Jangan sampai akibat pernyataan itu justru menimbulkan banyak keresahan di masyarakat.
“Seperti di Papua harga BBM tembus puluhan ribu. Di Pontianak saja, eceran ada yang jual lebih dari 12 ribu per liter. Kondisi ini terjadi akibat kepanikan,” katanya.
Menurutnya, ini mesti hati-hati dan jadi rambu kuning bagi pemerintah dalam bersikap. Dia pribadi masih meyakini bahwa pemerintah mampu mengatasi berbagai kemungkinan buruk yang bakal terjadi.
Baca Juga: Jalur Panjang dari Iran hingga Panic Buying di Kota Pontianak
Bahkan jika perang terus berlangsung sehingga jalur minyak di selat hormuz tertutup, pemerintah bakal mengambil minyak ke Amerika. Dengan begitu ketersediaan minyak buat masyarakat Indonesia bisa tercukupi.
“Sudah semestinya pemerintah mampu menjaga stabilitas nasional. Paling utamanya adalah pemerintah harus bisa meyakinkan bahwa negara bisa mengendalikan situasi ini,” tandasnya. (iza)
Editor : Miftahul Khair