PONTIANAK POST – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam masa peralihan musim hujan saat periode mudik dan arus balik Hari Raya Idulfitri 2026. Kondisi ini berpotensi memicu hujan dengan intensitas ringan hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di sejumlah wilayah.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan informasi prakiraan cuaca tersebut disampaikan sebagai bagian dari dukungan BMKG terhadap kesiapan transportasi nasional selama masa Angkutan Lebaran.
“Informasi ini diharapkan dapat menjadi acuan kesiapsiagaan bersama bagi kementerian dan lembaga dalam menjaga kelancaran transportasi serta keselamatan masyarakat,” ujar Faisal saat Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi V DPR RI di Gedung Nusantara DPR RI, Rabu (11/3).
Rapat tersebut juga dihadiri sejumlah mitra kerja pemerintah, antara lain Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan, serta Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia.
BMKG memproyeksikan potensi peningkatan curah hujan terjadi pada minggu pertama hingga kedua Maret 2026, sebelum berangsur menurun pada pekan-pekan berikutnya.
Pada periode 1–10 Maret, cuaca di Indonesia diperkirakan didominasi hujan ringan hingga sedang, dengan potensi hujan sedang hingga lebat di sejumlah wilayah seperti Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, serta Nusa Tenggara Timur.
Memasuki periode 11–20 Maret hingga 21–30 Maret, hujan ringan hingga sedang masih mendominasi, dengan peluang hujan lebat di Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur, serta Papua Pegunungan.
Sementara pada April 2026, curah hujan diperkirakan masih berada pada kategori menengah hingga tinggi, terutama di wilayah Papua Tengah.
Faisal menjelaskan kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah dinamika atmosfer, di antaranya aktivitas Monsun Asia, fenomena Madden–Julian Oscillation, gelombang atmosfer, hingga potensi pembentukan bibit siklon tropis di wilayah selatan Indonesia.
Untuk mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi, BMKG juga menyiapkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara situasional di wilayah yang berpotensi terdampak cuaca ekstrem.
Langkah ini ditujukan untuk menekan intensitas hujan lebat, angin kencang, maupun gelombang tinggi yang dapat mengganggu aktivitas transportasi, terutama di jalur penyeberangan.
Di sisi lain, BMKG memperkuat sistem informasi cuaca terintegrasi untuk sektor transportasi darat, laut, dan udara. Beberapa platform yang disiapkan antara lain Ina-SIAM untuk sektor penerbangan, InaWIS untuk sektor maritim, serta Digital Weather for Traffic (DWT) yang menyediakan informasi prakiraan cuaca berbasis nowcasting di sepanjang jalur transportasi darat.
Informasi cuaca juga dapat diakses masyarakat melalui berbagai kanal resmi BMKG seperti situs web, aplikasi InfoBMKG, media sosial, SMS Blast, hingga papan informasi Dynamic Message Sign di jalan tol.
Dalam kesempatan lain saat mendampingi kunjungan kerja Komisi V DPR RI di kawasan Pelabuhan Merak, Kamis (12/3), Faisal menyebut kondisi cuaca di wilayah Banten dan jalur penyeberangan Selat Sunda relatif kondusif untuk mendukung arus mudik.
Berdasarkan analisis BMKG, tinggi gelombang di Selat Sunda selama Maret diperkirakan berkisar antara 0,5 hingga 2 meter dengan kecepatan angin 2 hingga 6 knot, masih jauh di bawah batas maksimal pelayaran.
“Secara umum gelombang, angin, dan arus laut masih kondusif untuk libur Lebaran tahun ini. Bahkan pada periode 15–17 Maret, kondisi laut diprediksi sangat tenang dengan tinggi gelombang kurang dari 0,5 meter,” jelasnya.
BMKG juga mengoperasikan berbagai peralatan observasi seperti Automatic Weather Station (AWS) maritim di Merak, Ciwandan, dan Bakauheni, serta radar maritim yang beroperasi 24 jam untuk memantau potensi cuaca ekstrem secara real-time.
Sementara, Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, menegaskan bahwa informasi cuaca dari BMKG memiliki peran krusial dalam mendukung kelancaran arus mudik.
“Gambaran cuaca menjelang, selama mudik, dan arus balik Lebaran 2026 sangat penting agar dapat diinformasikan secara baik kepada masyarakat,” ujarnya.
BMKG juga menyiagakan 38 Unit Pelaksana Teknis (UPT) di seluruh Indonesia yang terintegrasi dengan Posko Angkutan Lebaran, termasuk layanan informasi cuaca di 15 pelabuhan utama dan 96 bandara.
Dengan pemantauan atmosfer yang berkelanjutan serta penyampaian informasi cuaca secara cepat dan akurat, BMKG menegaskan komitmennya untuk mendukung keselamatan masyarakat serta kelancaran mobilitas selama periode mudik dan arus balik Lebaran 2026. (den)
Editor : Miftahul Khair