Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

SBY Wanti-wanti Gejolak Harga Minyak Global, Ingatkan Pemerintah Tak Terlambat Ambil Kebijakan Ekonomi

Khoiril Arif Ya'qob • Kamis, 26 Maret 2026 | 13:08 WIB

Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menegaskan komitmennya untuk mengawal keberhasilan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menegaskan komitmennya untuk mengawal keberhasilan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

PONTIANAK POST - Mantan Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, menyoroti gejolak harga energi global yang kian fluktuatif.

Dalam unggahannya di X pada (25/3), SBY mengingatkan pemerintah agar tidak terlambat mengambil langkah strategis demi menjaga stabilitas ekonomi nasional pasca tekanan global yang meningkat.

Susilo Bambang Yudhoyono mengaku terus memantau perkembangan ekonomi global, khususnya terkait lonjakan harga energi seperti minyak, gas, dan BBM yang berdampak luas ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

“Dari Singapura saya ikut mengamati gejolak pasar global, utamanya harga minyak, gas dan BBM. Meskipun harga energi masih sangat fluktuatif, tetapi dampak buruknya sudah dirasakan oleh semua negara. Termasuk Indonesia,” tulis SBY.

Bandingkan Langkah Negara Asia, Tekankan Pentingnya Kecepatan Kebijakan

Ia menilai sejumlah negara di Asia telah lebih dulu mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan perekonomian masing-masing. Kebijakan yang ditempuh pun beragam, namun dinilai rasional dan terukur.

“Hari ini, 25 Maret 2026 saya juga menyimak kebijakan pemerintah Filipina dan Korea Selatan yang disampaikan oleh para presidennya,” lanjutnya.

Meski demikian, SBY mengingatkan bahwa Indonesia tidak perlu panik menghadapi situasi ini. Namun, ia menekankan pentingnya kecepatan dan ketepatan dalam merespons kondisi global yang dinamis.

“Untuk Indonesia, kita tak perlu panik. Meskipun, langkah-langkah kita tidak boleh terlambat dan tidak tepat,” tegasnya.

Pengalaman Hadapi Lonjakan Harga Minyak: Subsidi dan Kenaikan BBM Jadi Kunci

SBY juga membagikan pengalamannya saat memimpin Indonesia di tengah krisis serupa, yakni ketika harga minyak dunia melonjak tajam pada periode 2004–2005, 2008, hingga 2013. Ia mengakui kondisi tersebut memberi tekanan besar terhadap fiskal negara.

“Fiskal dan defisit APBN melebar, inflasi terguncang, dan dampaknya sangat terasa bagi masyarakat tidak mampu,” ungkapnya.

Dalam situasi sulit tersebut, pemerintah saat itu mengambil kebijakan kombinasi, yakni menambah subsidi sekaligus menaikkan harga BBM, serta menggalakkan kampanye penghematan energi secara masif.

“Meskipun pahit dan tidak mudah, kita pilih kombinasi kebijakan yaitu penambahan subsidi dan kenaikan harga BBM,” tulisnya.

Baca Juga: Mendagri Tito Singgung Surat Edaran Pembatasan Pembelian BBM di Singkawang dan Bengkayang

Ia juga mengakui kebijakan tersebut sempat menuai pro dan kontra yang tinggi, bahkan memicu gejolak politik dan aksi demonstrasi. Namun pada akhirnya, menurut SBY, langkah tersebut berhasil menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Parlemen gaduh dan unjuk rasa tak terhindarkan. Tapi akhirnya ekonomi kita selamat dan masyarakat tidak mampu dapat kita lindungi melalui program BLT,” jelasnya.

Dukung Prabowo, SBY Ingatkan Pentingnya Jaga Pertumbuhan dan Cegah PHK

Lebih lanjut, SBY menyatakan telah memantau langkah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai mulai mempersiapkan kebijakan untuk menghadapi tekanan global saat ini.

“Saya memantau pemerintahan Presiden Prabowo juga telah mempersiapkan kebijakan dan langkah-langkah yang diperlukan,” ujarnya.

Ia pun menyatakan dukungannya terhadap upaya penghematan energi guna menjaga stabilitas fiskal, khususnya dalam menghadapi potensi defisit anggaran tahun 2026.

“Saya dukung gerakan penghematan energi untuk mengurangi angka defisit anggaran,” tulisnya.

Sebagai penutup, SBY menekankan bahwa prioritas utama pemerintah adalah menjaga keselamatan ekonomi nasional, termasuk memastikan pertumbuhan tetap terjaga, inflasi terkendali, serta mencegah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Yang penting ekonomi kita selamat, termasuk terjaganya pertumbuhan, terkelolanya inflasi, dan tercegahnya PHK besar-besaran,” pungkasnya. (*)

Editor : Miftahul Khair
#sby #kebijakan ekonomi #Harga Minyak Global #SBY ingatkan pemerintah soal harga minyak global