Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Hari Tua Para Lansia di Kalimantan Barat: Antara Kemandirian, Keterbatasan, dan Harapan  

Siti Sulbiyah • Minggu, 29 Maret 2026 | 22:31 WIB

 

PEDULI: Pendiri sekaligus pengelola Panti Jompo Yayasan Nitizen Cinta Singkawang, Aipda Muhammad Irvan bersama penghuni panti yang berdiri kepedulian bersama ini.
PEDULI: Pendiri sekaligus pengelola Panti Jompo Yayasan Nitizen Cinta Singkawang, Aipda Muhammad Irvan bersama penghuni panti yang berdiri kepedulian bersama ini.

PONTIANAK POST - Jumlah penduduk Kalimantan Barat mencapai 5,8 juta jiwa. Sekitar 540.158 jiwa merupakan lanjut usia (lansia) yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota.

Di balik angka-angka tersebut, tersimpan beragam cerita tentang hari tua mereka. Ada yang tetap mandiri dan hidup nyaman bersama keluarga, ada yang bertahan dalam keterbatasan, dan ada pula yang menemukan rumah baru di panti jompo.

Berdasarkan Publikasi Statistik Penduduk Lanjut Usia Kalimantan Barat 2024, jumlah lansia telah mencapai sekitar 540.158 jiwa atau 10,21 persen dari total penduduk. Artinya, satu dari sepuluh warga Kalbar kini berada pada fase usia lanjut.

Sebaran lansia relatif merata di seluruh kabupaten/kota. Kota Pontianak mencatat jumlah tertinggi dengan 73.083 jiwa, disusul Kabupaten Sambas (68.207 jiwa) dan Kubu Raya (58.201 jiwa).

Sementara itu, jumlah paling sedikit berada di Kabupaten Kayong Utara, yakni 11.894 jiwa. Dari sisi komposisi, lansia perempuan sedikit lebih banyak dibanding laki-laki, yakni 50,55 persen berbanding 49,45 persen.

Mayoritas berada pada kelompok usia 60–69 tahun (65,55 persen), disusul usia 70–79 tahun (27,86 persen), dan usia di atas 80 tahun (6,59 persen).

Ali Omeng merupakan lansia dari Kota Pontianak. Pria berusia 78 tahun ini masih bugar di hari tuanya.

Sesekali ia berjalan kaki, kadang masih mengendarai sepeda motor untuk keperluan ringan. Pensiunan pegawai negeri sipil ini menikmati masa tuanya dengan rasa syukur.

“Alhamdulillah, mata dan telinga saya masih sehat. Tidak ada keluhan berarti,” ujarnya.

Ali pensiun pada 2004 setelah mengabdi sejak 1975. Meski pernah mengalami kecelakaan hingga harus menjalani operasi pada kaki serta beberapa kali operasi hernia, ia tetap aktif bergerak.

Kebiasaan berolahraga sejak muda menjadi kunci. Sepak bola, voli, hingga bulu tangkis pernah ia tekuni. Kini, aktivitasnya memang lebih sederhana, seperti membersihkan halaman, menebas rumput, atau membantu istrinya di rumah. Namun, rutinitas itu justru menjadi cara menjaga kebugaran.

Bersama sang istri, Ali menikmati hidup yang tenang. Sesekali mereka berjalan-jalan atau mengunjungi anak dan cucu. Kehadiran keluarga menjadi sumber kebahagiaan yang tak tergantikan.

“Kalau ada rezeki, saya beri cucu uang jajan. Senang melihat mereka,” katanya sambil tersenyum.

Berbeda dengan Ali, perempuan berusia hampir 60 tahun yang akrab disebut Mak Ning harus bekerja keras menghidupi keluarganya. Dia bekerja sebagai tukang cuci dari rumah ke rumah.

Penghasilan yang diperoleh digunakan untuk menghidupi anak dan cucunya.

“Hasil saya bekerja ini untuk hidup kami sehari-hari,” kata Mak Ning yang tinggal di Kabupaten Kubu Raya ini.

Di tempat berbeda, kehidupan hari tua dijalani dengan cara yang berbeda pula. Muhammadi Amin (72), misalnya, menghabiskan hari-harinya di Panti Jompo Yayasan Nitizen Cinta Singkawang.

Pria mualaf ini telah tinggal di panti selama lebih dari tiga tahun. Dulu, Amin bekerja sebagai pengolah kayu. Ia terbiasa hidup sendiri. Hingga akhirnya dia berlabuh di panti tersebut.

“Saya senang, bisa ibadah dengan tenang. Bisa salat di masjid,” ujarnya.

Tak hanya itu, takdir mempertemukannya dengan pasangan hidup. Pada 2023, ia menikah dengan sesama penghuni panti, Annisa Salsabila (70). “Sekarang saya punya keluarga di sini,” ucapnya.

Kisah lain datang dari Sri Wahyuni (66), yang tinggal di Panti Jompo Yayasan Nitizen Cinta Singkawang sejak 2024. Ia memiliki empat anak dan dua cucu, tetapi memilih menetap di sana demi ketenangan hidup.

Perjalanan hidupnya tidak mudah. Ia pernah pergi ke Malaysia untuk menyusul anaknya.

Namun, situasi berubah ketika anak-anaknya tersangkut masalah hukum. Dalam kondisi tertekan, ia sempat melarikan diri bersama cucunya hingga terjebak di hutan di perbatasan Aruk–Sajingan.

Setelah kembali ke Indonesia, Sri sempat tinggal di gubuk sederhana di tepi Sungai Sebangkau dengan kondisi serba terbatas.

Bantuan warga menjadi satu-satunya penopang hidup. Hingga akhirnya, ia dibawa ke panti jompo dan mendapatkan kehidupan yang lebih layak.

“Di sini saya merasa lebih tenang. Tidak ingin membebani anak-anak,” ujarnya pelan.

Di panti, Sri menemukan kembali rasa aman. Ia memiliki teman, mendapatkan perhatian, bahkan kedua cucunya kini bisa bersekolah berkat bantuan pengelola dan donasi masyarakat.

“Saya terima hidup ini. Yang penting bisa mendekatkan diri kepada Tuhan,” katanya.

 

Berdiri dari Kepedulian Bersama

Panti Jompo Yayasan Nitizen Cinta Singkawang menjadi salah satu tempat bernaung bagi lansia dengan latar belakang beragam. Berdiri sejak 2022, panti ini kini menampung 41 penghuni, terdiri dari 30 laki-laki dan 11 perempuan.

Berlokasi di Jalan Tani 2, Kelurahan Kuala, Kecamatan Singkawang Barat, panti ini memiliki fasilitas yang cukup memadai dengan 24 kamar. Seluruh kebutuhan penghuni dipenuhi dari donasi masyarakat, didukung tenaga perawat, koki, dan relawan.

Pendiri sekaligus pengelola panti, Aipda Muhammad Irvan, menyebut panti ini berdiri dari kepedulian bersama.

“Semua yang ada di sini berasal dari donasi. Ini amanah yang harus kami jaga,” ujarnya.

Sebagian besar penghuni panti memiliki kondisi kesehatan yang menurun, seperti stroke, diabetes, dan hipertensi. Banyak di antara mereka yang membutuhkan perawatan intensif, bahkan bantuan penuh untuk aktivitas sehari-hari.

Para perawat bekerja secara bergantian untuk memastikan kebutuhan lansia terpenuhi. Mulai dari makan, berpakaian, hingga perawatan kesehatan dilakukan dengan penuh kesabaran.

Selain itu, panti juga menyediakan kegiatan rutin seperti olahraga dan pemeriksaan kesehatan berkala agar para lansia tetap aktif dan tidak merasa kesepian.

Di balik segala keterbatasan, tantangan terbesar tetap pada pembiayaan. Namun, Irvan percaya kepedulian masyarakat akan terus hadir. “Perhatian dan kasih sayang itu yang utama,” tegasnya.

 

Bantuan Rutin Setiap Tahun

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat juga terus berupaya memperkuat dukungan terhadap panti lansia, termasuk yang dikelola swasta atau Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS).

Plt Sekretaris Dinas Sosial Kalbar, Utin Rizanti Ausvia, mengatakan bantuan difokuskan untuk meringankan beban operasional panti, terutama yang dikelola secara swadaya.

Bantuan diberikan secara rutin setiap tahun dalam bentuk kebutuhan dasar, seperti bahan makanan dan perlengkapan sehari-hari. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan program pembinaan kesehatan fisik dan mental bagi lansia di panti.

Saat ini, sekitar 213 lansia di Kalbar tercatat tinggal di panti, baik milik pemerintah maupun swasta. Mereka tersebar di sejumlah daerah, termasuk Pontianak dan Singkawang.

“Pembinaan lebih difokuskan pada edukasi kesehatan, penguatan mental, dan spiritual,” jelasnya.

Program tersebut dirancang menyesuaikan kondisi lansia yang tidak memungkinkan melakukan aktivitas berat, sehingga pendekatannya lebih pada pendampingan dan motivasi. (sti/mrd/har/mse)

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
#Nasib #kalbar #lansia #tua