Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Tiga Prajurit Gugur di Lebanon, Indonesia Desak Dunia Bertindak

Hanif PP • Rabu, 1 April 2026 | 08:08 WIB
KONVOI: Kendaraan UNIFIL melintas di jalan utama di Qlayaa, Lebanon selatan, 27 Maret 2026, di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara Israel dan Hizbullah. (Jawa Pos/HO Arab News)
KONVOI: Kendaraan UNIFIL melintas di jalan utama di Qlayaa, Lebanon selatan, 27 Maret 2026, di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara Israel dan Hizbullah. (Jawa Pos/HO Arab News)

PONTIANAK POST - Duka mendalam kembali menyelimuti Indonesia. Dalam rentang kurang dari 48 jam, tiga prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam misi penjaga perdamaian dunia gugur di Lebanon Selatan, wilayah yang kian memanas akibat eskalasi konflik bersenjata.

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar, Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, dan Prajurit Kepala Farizal Rhomadon. Ketiganya gugur saat menjalankan tugas dalam misi perdamaian di bawah naungan United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).

Melalui akun resmi media sosialnya, Selasa (31/3), Prabowo menegaskan bahwa pengabdian para prajurit merupakan wujud keberanian dan dedikasi tinggi dalam menjaga perdamaian dunia, sekaligus membawa nama baik Indonesia di panggung internasional.

Insiden pertama terjadi pada Minggu (29/3), ketika Praka Farizal Rhomadon gugur akibat serangan artileri tidak langsung di dekat Adchit Al Qusayr, Lebanon Selatan. Sehari berselang, dua prajurit lainnya—Kapten Infanteri Zulmi dan Sertu Ichwan—menyusul gugur setelah ledakan menghantam konvoi logistik UNIFIL di dekat Bani Hayyan.

Baca Juga: Bareskrim Sita 6 Kg Emas dan Rp1,4 Miliar, Bongkar Dugaan TPPU Tambang Ilegal Kalbar

Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen TNI Aulia Dwi Nasrullah menjelaskan, kedua prajurit tersebut saat itu tengah menjalankan tugas pengawalan sebagai bagian dari Tim Escort Kompi B Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL. Mereka bertugas mengamankan pergerakan konvoi Combat Support Service Unit (CSSU) dari markas sektor timur menuju posisi lainnya di wilayah operasi.

“Insiden terjadi di tengah eskalasi konflik yang sangat tinggi. Ledakan pada kendaraan menyebabkan gugurnya dua prajurit kami,” ujarnya.

Selain korban meninggal, dua prajurit lainnya—Lettu Infanteri Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto—mengalami luka dan telah dievakuasi ke Rumah Sakit St. George di Beirut untuk mendapatkan penanganan medis intensif.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia langsung merespons keras insiden ini. Indonesia menuntut dilakukannya investigasi menyeluruh, transparan, dan cepat guna mengungkap penyebab serta pihak yang bertanggung jawab.

Menteri Luar Negeri Sugiono bahkan mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk segera menggelar rapat darurat Dewan Keamanan. Dalam komunikasi dengan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, Indonesia juga menegaskan pentingnya perlindungan maksimal bagi pasukan penjaga perdamaian.

Baca Juga: Pemerintah sebut WFH ASN Seminggu Sekali Berpotensi Hemat APBN hingga Rp6,2 Triliun

“Kami meminta investigasi yang cepat, menyeluruh, dan transparan, serta penegakan akuntabilitas penuh,” tegas Sugiono.

Dari pihak internasional, Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Operasi Perdamaian Jean-Pierre Lacroix mengutuk keras serangan tersebut. Ia menegaskan bahwa pasukan penjaga perdamaian tidak boleh menjadi sasaran dalam kondisi apa pun.

“Kami mengutuk keras insiden ini. Penjaga perdamaian tidak boleh pernah menjadi target,” ujarnya.

PBB juga menilai insiden tersebut berkaitan dengan pelanggaran terhadap Resolusi Dewan Keamanan 1701, yang selama ini menjadi dasar gencatan senjata di perbatasan Lebanon–Israel. Eskalasi konflik antara Israel Defense Forces dan kelompok bersenjata Hezbollah disebut semakin memperburuk situasi keamanan di wilayah tersebut, termasuk di sepanjang garis biru (blue line).

Hingga kini, UNIFIL masih melakukan investigasi untuk memastikan kronologi dan penyebab pasti insiden. Sementara itu, TNI terus memonitor perkembangan situasi dan menyiapkan langkah-langkah kontinjensi guna melindungi personel yang masih bertugas di wilayah misi.

Baca Juga: YBM PLN UIP KLB Santuni dan Ajak Puluhan Yatim Dhuafa Berbelanja

Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa keselamatan pasukan perdamaian harus menjadi prioritas utama. Indonesia juga menyerukan kepada seluruh pihak yang terlibat konflik untuk menghormati hukum humaniter internasional dan menjamin keamanan personel penjaga perdamaian. (jpc)

Editor : Hanif
#Lebanon #indonesia #pbb #investigasi #pasukan perdamaian