PONTIANAK POST- Keluhan air keruh yang dialami pelanggan Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB) belakangan ini dipastikan merupakan dampak dari proyek peremajaan jaringan pipa yang tengah berlangsung.
Direktur Utama PTMB, Yudhi Saharuddin, menjelaskan bahwa gangguan kualitas air tersebut terjadi akibat pekerjaan penggantian pipa distribusi dan transmisi yang telah dimulai sejak 2024.
“Saat ini kalau ada air keruh atau hal lainnya, itu merupakan dampak dari perbaikan pipa yang sedang kami lakukan,” katanya dilansir Kaltim Post-Jawa Pos Grup.
Ia menegaskan, proyek tersebut bertujuan meningkatkan kualitas layanan air bersih kepada pelanggan, baik dari sisi produksi maupun distribusi.
Sejumlah jaringan pipa lama kini telah diganti, di antaranya di kawasan Kilometer 5 yang sebelumnya hanya dilakukan perbaikan saat terjadi kebocoran.
Selanjutnya, pekerjaan berlanjut secara bertahap sepanjang 2025, mencakup sejumlah wilayah seperti Jalan MT Haryono, Agung Tunggal, The Hills, Grand City hingga Kilometer 12.
Baca Juga: Kemenkum Kalbar Rampungkan Harmonisasi Rapergub Sistem Pembelajaran Terintegrasi
PTMB menargetkan seluruh proses peremajaan pipa distribusi dapat diselesaikan pada tahun ini, sementara pekerjaan pipa transmisi akan terus dilanjutkan.
Rencana penggantian pipa transmisi berdiameter 700 milimeter, yang mengacu pada dokumen detail engineering design (DED) tahun 2018, juga ditargetkan rampung dalam waktu dekat.
Selain itu, PTMB tengah memetakan ulang jaringan distribusi di wilayah Balikpapan Barat dan Balikpapan Utara guna mendukung peningkatan layanan.
Baca Juga: Kemenkum Kalbar Rampungkan Harmonisasi Rapergub Sistem Pembelajaran Terintegrasi
“Ke depan ada skenario besar, di mana instalasi pengolahan air (IPA) Kilometer 12 akan ditambah kapasitas produksinya,” ujarnya.
Dalam skema tersebut, IPA Kilometer 8 akan menyuplai sekitar 50 liter per detik ke wilayah Balikpapan Barat, sementara sebagian beban layanan dialihkan ke IPA Kilometer 12.
Ia menambahkan, penataan jaringan juga telah dilakukan di sejumlah titik, termasuk kawasan Kampung Atas Air dengan pemindahan pipa ke posisi yang lebih aman.
“Kami juga melakukan optimalisasi IPA untuk meningkatkan kapasitas produksi,” tuturnya.
Seluruh proyek peremajaan ini, lanjut dia, dibiayai dari modal internal perusahaan tanpa membebani anggaran pemerintah daerah.
“Kami berupaya menjaga kemandirian finansial perusahaan, sehingga tidak bergantung pada APBD yang saat ini juga mengalami keterbatasan,” pungkasnya. (*/bas)
Editor : Basilius Andreas Gas