PONTIANAK POST - Puluhan siswa TK dan SD di Desa Jubung, Kabupaten Jember, Jawa Timur, harus menyeberangi Sungai Bedadung dengan getek bambu setiap hari setelah jembatan penghubung dua dusun putus diterjang banjir bandang.
Getek sederhana yang dibuat warga kini menjadi satu-satunya jalur tercepat bagi anak-anak menuju sekolah.
Jembatan gantung sepanjang 105 meter yang menghubungkan Dusun Darungan Utara dan Dusun Darungan Selatan itu putus pada 12 Februari lalu.
Padahal jembatan tersebut baru selesai diperbaiki secara swadaya oleh warga pada awal Januari tahun ini.
Sejak dua bulan terakhir, belum ada perbaikan dari pemerintah sehingga warga harus mencari cara sendiri untuk menyeberangi sungai.
Salah satunya dilakukan Muhammad Soleh, warga setempat yang membuat getek bambu untuk membantu anak-anak sekolah.
Rakit bambu itu setiap pagi digunakan siswa SDN Jubung 02, TK Budi Utomo, hingga beberapa pelajar SMKN 5 Jember untuk menyeberang.
“Tak semua orang tua punya motor. Saya bikin getek agar jangan sampai ada anak-anak yang tidak sekolah,” kata Soleh kepada Radar Jember, kemarin (15/4).
Salah satu siswa yang menggunakan getek tersebut adalah Rano, siswa kelas IV SDN Jubung 02.
Ia mengaku jalur sungai dengan getek jauh lebih cepat dibandingkan harus memutar lewat jalan darat.
Jika lewat jalur darat, siswa harus melewati jalan raya penghubung Jember–Banyuwangi yang ramai kendaraan besar.
“Naik geteknya Pak Soleh lebih cepat sampai ke sekolah. Tapi harus berangkat lebih pagi,” kata Rano.
Getek bambu buatan Soleh dibuat dari 14 batang bambu sepanjang sekitar 6 meter.
Bambu tersebut dibagi menjadi dua bagian dan dirakit menjadi rakit sederhana.
Di atasnya dipasang anyaman bambu berukuran sekitar 1,1 meter persegi sebagai alas pijakan.
Meski sederhana, getek tersebut menjadi harapan bagi banyak warga.
Sebagian orang tua bahkan ikut mendampingi anak-anak mereka setiap hari saat menyeberang sungai.
Salah satunya Hotimah, warga Dusun Darungan Utara, yang rutin mengantar anaknya naik getek.
“Tiap hari saya ikut naik getek, mengantarkan anak sampai ke seberang, lalu menjemput saat pulang,” ujarnya.
Menurutnya, jika harus menggunakan sepeda motor, jarak tempuh menjadi jauh dan membutuhkan biaya bahan bakar.
Dengan getek bambu, jarak perjalanan ke sekolah menjadi jauh lebih dekat.
Getek Soleh mulai beroperasi sejak pukul 06.00 pagi untuk mengantar anak-anak sekolah.
Sekitar pukul 12.00 hingga 13.00, ia kembali berjaga untuk menjemput siswa yang pulang sekolah.
Sore harinya, ia juga kembali mengantar anak-anak yang hendak pergi mengaji ke TPQ.
Dibangun Swadaya Warga
Jembatan gantung yang putus tersebut sebenarnya sudah berdiri selama 21 tahun.
Lebarnya sekitar 1,5 meter sehingga hanya dapat dilalui sepeda motor, sepeda, dan bentor.
Ketika jembatan pertama kali rusak tahun lalu, warga memperbaikinya dengan swadaya murni tanpa bantuan pemerintah.
Perbaikan tersebut dilakukan oleh warga bersama donatur yang peduli terhadap akses masyarakat.
Koordinator Wong Ajung Peduli, Akbharul Khoir, mengatakan warga sebenarnya siap kembali memperbaiki jembatan jika diperlukan.
Namun mereka berharap pemerintah ikut turun tangan agar jembatan bisa dibangun lebih kuat dan aman.
“Yang paling kami khawatirkan adalah akses anak-anak sekolah,” ujarnya.
Menurutnya, tanpa jembatan, anak-anak harus memutar jauh melalui jalan raya yang ramai kendaraan besar.
Warga berharap jembatan penghubung dua dusun tersebut segera diperbaiki agar aktivitas masyarakat kembali normal.
Hotimah juga berharap jembatan baru nantinya dibangun lebih kuat agar tidak mudah rusak saat banjir datang.
“Kalau bisa yang lebih besar dan lebih kuat,” ujarnya.
Sementara Rano berharap suatu hari ia bisa kembali berangkat sekolah tanpa harus naik getek.
“Mudah-mudahan jembatannya bisa dipakai lagi,” katanya. (jpc)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro